
"Penghianat, lo itu penghianat Anin. Gue gak menyangka lo bakal nusuk gue dari belakang kaya gini," kata wanita yang wajahnya terlihat kabur. Dia siapa? Kenapa dia bilang aku pengkhianat.
"Lo emang gak pantas jadi sahabat gue! Dasar teman makan teman," katanya marah dan mengejek ku. "Kamu salah paham, aku bisa jelasin."
Mataku berair, aku nangis? Tapi kenapa dan siapa dia? Aku seakan ingin menjelaskan sesuatu namun tak tau apa, ini hanya membuatku frustrasi, kejadian apa ini dan kapan? Kenapa dia terlihat sangat membenci ku, kesalahan apa yang telah ku perbuat.
"Gue gak perlu penjelasan dari lo, semuanya udah jelas. Dasar pengkhianat!," cacinya. "Dan lo jangan pernah muncul di depan gue lagi," katanya marah sambil menunjuk kearah ku.
Tiba-tiba aku merasa sedih, kecewa, dan marah tapi tak tau pada siapa, perasaan ini bergabung menjadi satu membuatku frustrasi, perasaan ini layaknya bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Ini terasa menyakitkan seakan-akan harusnya bukan seperti ini tapi aku tak tau kebenarannya seperti apa, aku harus bagaimana?
Kulihat wanita itu perlahan pergi menjauh sampai bayanganya tertelan oleh kegelapan.
Tok tok tok
Perlahan aku mulai membuka mataku menyesuikan cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden jendela yang tak sengaja mengenai mataku. Matahari? Pagi? Dengan panik aku lihat jam yang tertempel di dinding kamarku. Pukul 06.50 sial! Aku telat.
"Anin kamu udah bangun kan?" Tanya tante di balik pintu. "Iya tante, nih udah bangun," sahutku.
Tanpa menunggu lagi langsung aku turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi dan melakukan ritual mandi kilat ku, setelah itu memakai seragam sekolah dengan rambut yang masih berbalut handuk. Ku lihat sekali lagi jam yang ada di dinding kamarku saat ku mulai marapikan rambutku. Jam sudah menunjukkan pukul 07.10, ingin rasanya aku menangis, kenapa aku harus kesiangan sih.
Ini semua salah Nata yang membawaku pergi hingga hampir subuh, saat memikirkan ini semua aku jadi makin kesal padanya. Mulutku tak berhenti mengeluarkan sumpah serapah pada Nata.
Setelah memakai sepatu dan semuanya sudah siap, akupun langsung keluar dari kamar dan berlari kecil ke arah bagasi samping rumahku.
"Nin, Anin kamu mau kemana?" Tanya tante saat aku melewatinya begitu saja. "Kamu gak sarapan?" Tanya tante sekali lagi.
"Anin udah telat tante, sarapannya nanti aja di sekolah," sahutku yang sudah di depan pintu.
"Nin! Anin," teriak tante memanggil ku, "kenapa tante," sahutku.
"Kamu mau ke sekolah? Ngapain?," tanya tante saat menghampiri ku di tersa rumah. "Ke sekolah ya mau belajar lah tante," sahutku mulai kesal karena semakin terlambat.
"Tapi ini hari minggu sayang, sekolah libur," katanya. " Hah! Hari ini hari minggu?" Tanyaku memastikan. "Iya," tante mengangguk menyakinkan.
"Nin... mau semangat boleh tapi liat waktunya juga dong, kamu ini saking senangnya masuk sekolah ya," katanya seraya masuk kembali ke rumah. Dapat ku dengar tante mulai menertawakan ku, ih bikin malu aja pikiranku.
***
Setelah kejadian pagi tadi yang memalukan, aku menghabiskan waktu ku dengan membantu tante membersihkan rumah setelah itu rencananya kami ingin memasak makan siang bersama, namun karena bumbu dapur ada yang habis jadi aku harus ke mini market dulu untuk membelinya.
Ku parkirkan motor ku di depan mini market depan komplek rumahku. Lalu masuk ke dalam dan mulai memilih barang keperluan dapur yang habis.
"Kecap udah, garam udah, apa lagi ya," ku keluarkan catatan belanja ku untuk mencek apa saja yang perlu di beli. Tersisa minyak goreng dan gula yang belum ku dapatkan. Akupun mulai berjalan ke arah rak tempat minyak goreng lalu gula.
Setelah mendapatkan semua yang diperlukan, aku mulai berjalan ke arah tempat snack, saat disana banyak yang kupilih dari keripik singkong, coklat, kacang dan lainnya. Lumayan buat cemilan sambil streaming drama korea. Setelah semuanya ku taruh di keranjang belanja.
Aku berjalan ke tempat kasir untuk membanyar belanjaan ku. Sial! Kok ada dia. Kulihat Nata yang sedang berdiri dibelakang meja kasir dan melayani pembeli saat ingin bayar.
Dapat kulihat pakaian yang sedang dikenakannya sama seperti pegawai mini market lainnya, jadi dia kerja di sini. Saat aku memperhatikannya Nata mengalihkan tatapannya kepada ku mungkin karena merasa seperti ada yang memperhatikannya. Cukup lama dia menatapku lalu kembali mengalihkan tatapannya saat ada pelanggan yang ingin membayar.
Saat giliran ku untuk membayar barang belanjaan ku, dengan kaku ku taruh keranjang belanja ku di atas meja kasir. Ku perhatikan Nata yang sedang serius menghitung belanjaan ku.
"Ada lagi?" Tanyanya tiba-tiba, akupun hanya menggelengkan kepala ku untuk menjawabnya.
"Nih," katanya sambil menyerahkan belanjaan ku, aku bingung ini maksud apa. "Berapa harga nya?" Tanyaku.
"Gak usah, gue yang bayar bawa pulang sana," jelasnya. "Tapi_" belum selesai aku bicara Nata sudah memotongnya. "Bawa pulang," katanya tegas seraya menatapku dengan tatapan yang seakan tak mau di bantah.
Dengan tak enak hati ku ambil belanjaan ku. "Ini beneran?" Tanya ku sekali lagi untuk menyakinkan. "Hmm," jawabnya singkat dan mulai melayani pelanggan lainnya.
Aku jadi bingung mau gimana, ya sudah lah mungkin dia lagi baik pikiranku, akupun dengan tak enak hati keluar dari mini market lalu menuju parkiran.
Ku naiki motor ku dan ku pakai helm ku. Sebelum pulang ku lihat sekali lagi Nata yang masih sibuk bekerja di mini market. Setelah itu ku nyalakan motor ku dan mulai melaju ke arah rumahku.
***