My Memory

My Memory
Keluar Dari Masa Lalu



"Kamu gak perlu nangis Kila." Tangannya mengusap air mataku lembut. "Akan aku tunggu dan aku gak akan pernah lelah menunggu kamu." Katanya lembut disertai senyuman lembut itu.


Seyuman yang mengingatkan aku dengan Nata, tapi dia siapa? wajahnya kabur tak terlihat dengan jelas.


"Maaf! maaf karena membuat kamu menunggu lagi. Aku janji!" Cewek yang merupakan replika dari diriku menunjukkan jari kelingkingnya. "Aku janji bakal menyelesaikan masalah ini dengan cepat, lalu akan memberikan jawaban yang ingin kamu dengar."


Cowok itu mengaitkan jari kelingkingnya. "Iya, aku percaya kamu bakal menyelesaikannya dengan cepat dan aku akan mendengar jawaban yang aku inginkan."


***


Saat pertama kali membuka mata yang ku lihat ruang bercat putih, ini dimana? ku lihat sekeliling ruangan ini untuk mengenalinya ruangan ini bukan UKS. Terakhir kali yang ku ingat aku berada di kantin saat sakit kepalaku menjadi-menjadi hingga aku tak sadarkan diri seharusnya aku di bawa ke UKS, tapi ini dimana.


Aku berusaha bangun namun terhempas kembali ke tempat tidur, aku bahkan tak sadar telah membangunkan Nata yang tertidur dengan posisi duduk di sampingku. apa Nata yang menjagaku selama aku tak sadarkan diri?


"Lo udah sadar? Ada yang sakit?" Tanya Nata dengan khawatir. Aku baru kali ini melihat Nata yang begitu khawatir. Apa jangan-jangan Nata juga punya perasaan yang sama padaku, kalo itu benar aku harus bagaimana.


Ah apa sih yang ku pikirkan sungguh memalukan gak mungkinlah Nata suka kepadaku, bukankah Nata sudah ada cewek yang ditunggunya. Kamu mikir apa sih Nin, bangun! jangan mimpi di siang bolong.


Aku menggeleng lemah menjawab pertanyaan Nata. "Masa sih? Gue gak percaya muka lo aja sampai merah gitu masa gak papa." Tangan Nata berpindah ke pipiku.


Nata sengaja ngejek aku ya? Masa gak bisa bedain yang mana sakit dengan malu, dasar cowom gak peka.


"Aku panggil dokter dulu." Ku tahan tangannya agar tidak pergi. "Enggak usah Nata, aku udah enggak papa. Lihat aku udah baikan."


Nata mengalah dan dia duduk kembali di sisi ranjang ku. Aku baru sadar ternyata tangan ku di infus sepertinya Nata membawaku ke rumah sakit, pantas saja aku tak mengenali ruangan ini.


Ini rumah sakit? Jangan bilang kalo tante tau aku masuk rumah sakit. "Nat kamu gak bilangkan sama tante aku kan kalo aku masuk rumah sakit?" Tanyaku dengan harap-harap cemas.


Tante saat ini masih di luar kota, kalo tante tau aku masuk rumah sakit dia pasti pulang dan mendatangi ku ke mari. Pekerjaan tante kali ini saat penting buat karirnya aku gak mau kalo tante mengorbankan semunya demi aku. Aku sudah terlalu banyak merepotkan tante, aku gak mau menambah masalah lagi dan merepotkan tante lagi.


"Oh ya gue lupa ngubungin keluarga lo, untung lo ingatin." Nata pergi ke sofa yang berada di ujung ruangan. Dia mengambil tas ku lalu mencari-cari sesuatu. Saat dia mendapatkan handphone ku dia mulai berusaha membuka sandinya.


"Apa sandinya?" Tanyanya melihat ke arahku.


"Tinggal bilang aja apa susahnya sih." Gerutunya namun tetap berjalan ke arahku, lalu menyerahkan handphone ku. Setelah handphone ku ada di tanganku langsung ku sembunyikan ke belakang punggung ku.


"Enggak usah ngubungin tante, nanti tante malah khawatir. Kamu lihat sendiri aku kan udah baikan."


"Gak bisa gitu, keluarga lo harus tau keadaan lo."


Aku menggeleng kuat, "aku gak mau bikin tante khawatir dan ninggalin pekerjaannya gitu aja. Please jangan hubungi tante."


"Lo!" Nata terlihat geram, "terserah lo deh." Katanya pasrah lalu menghempaskan tubuh ke kursi kembali.


Aku memperhatikan Nata yang terdiam melihatku tanpa mangatakan apa-apa. Apa yang dipikirkannya dan kenapa menatapku seperti itu. Kami berdua sama-sama diam hingga suasana menjadi hening.


Cukup lama kami terdiam hingga Nata memecahkan keheningan. "Lo sering seperti ini?"


"Maksudnya?" Tanya bingung tak paham apa yang Nata tanyakan. "Maksudnya gue sakit kepala lo itu."


"Ooh." Aku mengangguk paham, "sering, tapi dulu. Saat aku berusaha mengingat masa lalu ku, aku sering mengalami sakit kepala seperti ini bahkan pernah sekali lebih parah dari ini hingga aku koma beberapa hari, karena itu tante gak membolehkan aku untuk mengingat masa laluku lagi. Waktu itu karena merasa kesepian aku berpikir mungkin akan lebih baik jika seandainya aku mengingat semua masa lalu ku. Tapi aku salah, aku malah melihat tante menangis khawatir dan takut kehilangan ku. Aku berpikir aku terlalu egois hanya memikirkan diriku sendiri tanpa memikirkan perasaan tante jadi ku putuskan tidak akan berusaha untuk mengingat masa lalu ku lagi. Mungkin tuhan hanya ingin aku melihat masa depan tanpa melihat masa lalu ku."


Nata menatapku dalam, "lo gak mau mengingat masa lalu lo lagi?" Tanyanya pelan.


Aku menggeleng lalu berkata dengan yakin. "Enggak, aku pikir akan lebih baik untuk hidup dengan memikirkan masa depan tanpa melihat masa lalu."


Nata tertawa kecil lalu mengangguk. "Hehehe.... iya lo benar, kita harus hidup untuk masa depan bukan buat masa lalu."


Aku tersenyum canggung melihat respon Nata, apa aku telah menyinggung perasaan Nata. Apa gak seharusnya aku bicara seperti ini kepadanya. Karena aku tau Nata sedang menunggu cewek dari masa lalunya.


"Gue juga, gue mau keluar dari masa lalu dan hanya melihat masa depan seperti yang lo bilang. Gue perlu bantuan lo buat ngelupain masa lalu gue. Lo maukan Anin?" Tanyanya dengan senyuman.


***