
Suasana taman komplek yang sedang ramai dikunjungi. Banyak orang melakukan aktivitas mereka ada yang sedang berolahraga, anak-anak yang sedang bermain, dan lain sebagainya.
Sepertinya tujuan utama ku datang ke taman ini berjalan dengan sukses. Aku ingin mencari ketenangan, tak ingin memikirkan apapun yang sedang terjadi. Tak ingin melihat mereka bahkan tak ingin mendengar suara mereka karena itu aku tak membawa ponsel kesayangan ku. Aku menikmati kesendirian ku dengan duduk sendirian di kursi taman sembari melihat banyak orang yang sedang berlalu lalang melakukan aktivitas mereka masing-masing. Ku pikir ini hari minggu yang tenang.
Seandainya tante tidak keluar kota mungkin aku sudah mengeluarkan keluh kesah ku padanya. Tente bisanya menjadi pendengar yang baik dan pemberi nasihat yang baik pula.
"Kak." Anak laki-laki yang kutaksir berumur tidak lebih dari 4-5 tahun yang sedang berdiri di depanku sanbil menatapku malu-malu.
Aku turun dari kursi lalu mensejajarkan tinggi ku dengannya. "Ada apa sayang?"
Pipinya yang tembem terangkat tersenyum melirik ku malu hal itu menambah kelucuannya di mataku. "Boleh Rafa panggil mama?"
Aku bingung harus menjawabnya bagaimana, ini anak siapa? Ku lihat sekitar ku tak ada tanda-tanda orang kehilangan anak.
"Mama kamu mana sayang?"
Raut wajahnya berubah, kulihat di seperti akan menangis. "Papa bilang mama ada di surga." Katanya polos.
Aku merasa tersentuh anak sekecil ini sudah tidak memiliki seorang ibu. Tidak berlangsung lama mata anak itu tidak lagi sedih melainkan mata yang jernih disertai dengan seyuman lebar dia berkata dengan polosnya.
"Mama pasti udah bahagia disana, makanya Rafa mau cari mama baru buat papa biar papa gak sedih lagi, kakak mau kan jadi mama Rafa."
Dengan melihat senyuman polosnya itu bagaimana bisa aku menolaknya, aku gak tega.
"Kamu ke sini dengan siapa? Papa kamu mana?" Tanyaku untuk mengalihkan pembicaraan yang membuatku kikuk.
"Papa kerja, Rafa dititipin di sana."
Ku lihat arah yang ditunjuknya, ternyata ada tempat penitipan anak di samping taman ini. Apa dia kabur dari sana?
"Kamu sendirian di sini."
Dengan polosnya Rafa mengangguk sampai pipinya juga ikut bergerak mengikuti kepalanya. Kok bisa sampai lepas pengawasan begini.
"Ya udah ayo sini ikut kakak."
Dia mengangguk lalu mengulurkan tangannya minta di gendong. Ku gendong Rafa di depan seperti koala. Ku rasakan hembusan nafas Rafa saat dia membenamkan kepalanya di leherku.
"Mama kita mau ke mana?" Tanyanya masih dengan kepala yang ada di pundak ku.
Saat ku berjalan ke tempat penitipan anak dapat dilihat ada beberapa orang yang terlihat begitu cemas di depan tempat penitipan anak, seperti mereka sedang mencari Rafa yang kabur.
"Permisi." Sapaku untuk mengalihkan perhatian mereka.
Seorang bibi berbaju biju yang terlihat cemas datang menghampiri kami. "Rafa dari mana aja sayang."
Mungkin karena sadar aku membawanya ke tempat penitipan anak Rafa mengencangkan pelukannya pada leherku. Rafa menoleh ke arahku dengan mata yang berkaca-kaca.
Ku peluk Rafa untuk menenangkannya, "enggak kok sayang. Bi boleh saya ajak Rafa main? di sekita taman sini aja kok."
Bibi itu memperhatikan ku dari atas ke bawah seakan menilai sesuatu, lalu melihat ke arah Rafa yang ada di dalam pelukan ku. "Ya sudahlah de, boleh bawa main tapi jangan jauh-jauh saya awasin dari sini."
"Iya bi, terimakasih."
Rafa menongak menghadap ku. "Mama gak jadi pergi?" Tanyanya polos. Aku mengangguk menyakinkan.
"Rafa sekarang mau apa?"
Rafa terlihat sedang berpikir keras seakan berat untuk memutuskan hal tersebut. "Rafa mau es krim tapi juga mau coklat, Rafa bingung mau pilih yang mana."
Melihat tingkah Rafa yang seperti ini membuat ku gemas sendiri. "Es krim rasa coklat mau?"
"Wahh... mama pintar, Rafa mau es krim coklat."
Aku dan Rafa pergi ke tempat penjual es krim yang sedang berjualan di taman.
"Mah Rafa beli dua es krim boleh?" Tanyanya dengan ekspresi memohon. Duh gak kuat hatiku menolaknya tapi kebanyakan makan es krim juga gak bagus buat anak-anak kalo nanti aku di salahin bapaknya gimana.
"Satu aja ya sayang, kalo banyak-banyak nanti gigi kamu rusak. Rafa mau ompong kaya kakek-kakek." Ekspresi itu lagi, Rafa terlihat berpikir keras sampai-sampai keningnya berkerut.
"Gak mau! Rafa gak mau ompong." Katanya menggeleng gemas.
"Satu aja ya?" Tanyaku sekali lagi. "Iya mah." Katanya seraya tersenyum menampilkan deretan gigi susunya yang rapi.
Setelah menghabiskan es krim yang baru saja dibeli, aku dan Rafa bermain bersama di sekitar taman dari main kejar-kejaran, ayunan, sampai aku melihatnya bermain dengan teman sebayanya.
Sekarang jam menunjukkan pukul 16.15 tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Sudah banyak orang yang pulang ke rumah masing-masing. Ku lihat Rafa yang tertidur lelap di pangkuan ku. Ku perhatikan wajah kecil Rafa matanya yang bulat, hidungnya yang mancung, bibirnya yang mungil serta alis dan bulu mata yang lebat. Rafa terlihat sangat tampan dan juga menggemaskan. Mungkin saat dia besar nanti Rafa akan menjadi pria yang populer di kalangan kaum hawa.
"Permisi de."
Ku menoleh melihat pria yang ada di sampingku. Berpakaian jas rapi layaknya orang kantoran di lihat dari perawakan dan wajahnya umurnya mungkin sekitar 30an.
"Ada apa ya om?"
"Saya Aldi, terimakasih udah jagain anak saya, maaf merepotkan ya de. "
"Om... papanya Rafa ya?" Tanyaku menyakinkan dan dibalas dengan anggukan olehnya.
Sebentar kami mengobrol sebelum om Aldi pamit membawa pulang Rafa yang sedang tidur pulas di pangkuan ku.
Aku senang bertemu Rafa, harusnya aku yang berterimakasih pada om Aldi yang menitipkan anaknya sehingga aku dapat bertemu dengan Rafa. Dengan bersama Rafa setidaknya aku tidak memikirkan Nata.
***