
Nata melihatku tapi dia seakan tak peduli dan terus asik bersama sahabatnya dan juga anak baru itu. Aku bingung harus bagaimana, apa aku harus datang ke sana lalu menumpahkan semua kekesalan ku yang ku tahan selama ini atau bertindak seakan tak terjadi apa-apa.
"Nin... lo gak papa?"
Aku mengangguk kecil. "Aku gak papa."
Nia terlihat tak enak kepadaku. "Lo mau balik ke kelas?"
Aku menggeleng pelan, "gak usah kita makan aja. Aku udah lapar banget soalnya." Aku tersenyum menyakinkan Nia.
Aku dan Nia memesan makan favorit kami lalu kami makan bersama di meja pojok kantin, aku makan dengan perasaan tak karuan. Ku lirik Nata yang berada beberap meja didepan ku, Nata tau aku disini tatapan kami sempat bertemu sebelumnya, tapi dia tidak peduli, dia tidak melakukan apa-apa hanya mengalihkan pandangannya dari ku. Aku ingin marah pada Nata tapi aku sadar kalo aku tak berhak, aku kecewa tapi ku rasa itu hal yang percuma toh Nata juga tak akan peduli.
Nata jangankan untuk memberi penjelasan pada ku, menyapa ku saja dia enggan. Apa ini akhirnya? Akhir dari hubungan kami yang tidak jelas ini. Tidak, bukannya tidak jelas. Sejak awal kami memang tak pernah memiliki hubungan apapun, aku saja yang terlalu baper hingga lupa bahwa kami memang tak pernah memiliki hubungan apapun.
Kenapa aku harus begitu bodoh. Bodoh karena berharap padanya, bodoh karena menyukai, dan terlalu bodoh karena aku tau akan sesakit ini apabila terus menyukainya.
Hatiku sakit dadaku terasa sesak saat melihat Nata terus saja seakan tak perduli padaku. Stop berharap padanya Anin, kamu bukan siapa-siapa dia.
Mata ku terasa panas, pandangan ku mulai mengabur terhalang air mata yang seakan siap kapan saja untuk mengalir. Aku tak kuat lagi melihatnya, melihat ketidakpedulian Nata kepada ku.
"Nia aku duluan." kata ku dengan suara serak.
Aku berdiri dari tempat duduk ku lalu berjalan cepat ke luar kantin tanpa melihat Nata lagi. Aku berlari mencari tempat sepi yang bisa ku datangi.
Tidak terasa kaki ku membawaku ke toilet perempuan yang jarang di gunakan karena jaraknya yang jauh dari kelas dan kantin. Aku berdiri di depan wastafel dan terus membasuh muka ku, aku ingin menghilangkan jejak air mata yang terus mengalir dari mataku. Eggak seharusnya kamu begitu lemah Anin, enggak seharusnya kamu sakit hati hanya karena Nata.
"Gue udah pernah bilang lo bukan siapa-siapa buat dia, karena lo gak pantas buat dia." Kata seseorang yang ada di belakang ku, kata-katanya mengejek ku. Aku kenal suara ini untuk apa dia mendatangi ku, apa dia ingin menertawakan ku, mengejek ku karena terlalu bodoh untuk bisa di manfaatkan oleh Nata.
"Anin... Anin... gue kasihan sama lo. Gue udah pernah bilang Nata cuma milik dia, dan lo gak akan pernah bisa menggantikan posisi dia."
"Maksud kamu apa?" Tanyaku bingung dengan penjelasan Lia. Siapa yang dimaksud Lia, dia siapa? apa mungkin dia, cewek yang pernah meninggalkan Nata. Cewek yang selama ini ditunggu Nata.
"Sepertinya lo udah bisa nebak siapa yang gue maksud, dia Dinda Akila sahabat gue sekaligus mantan Nata yang selama ini dia tunggu sekarang dia udah kembali." Jelas Lia dengan senyuman yang masih mengejek ku.
Sebelumnya aku masih berharap bahwa Nata lah cowok yang ada di mimpiku, cowok yang ada di masa lalu ku, dan cowok yang selalu mengirim surat-surat misterius itu. Sekarang semuanya sudah berakhir, sekarang semuanya sudah jelas siapa cewek yang ditunggu Nata dia Dinda Akila, bukan Anin Syakila.
Hahaha ini terlalu menggelikan, semua harapan dan khayalan ku selama ini hanya semu belaka. Hanya karena senyuman Nata dan cowok itu sama ku pikir mereka orang yang sama, tapi pada kenyataannya mereka berbeda, dua orang yang berbeda.
Pantas saja Nata tak segan untuk mengancam ku, memanfaatkan ku, dan mempermainkan ku. Karena aku memang bukan siapa-siapa untuknya, aku hanya orang asing yang digunakannya untuk menunggu cewek itu.
"Untuk apa lo nangis? air mata lo gak akan membuat Nata berubah berpaling jadi suka sama lo. hehehe... gue kasihan sama lo jadi gue saranin mending lo lupain Nata dan menjauh darinya."
"Lalu apa bedanya aku dengan kamu, kamu juga suka Nata kan?" Hatiku terasa sakit saat harus menjauh dari Nata apalagi harus melupakannya. apa tak bisa aku memendam perasaan ini untuk diriku, sekarang aku tak berharap untuk Nata membalas perasaan ku. Aku hanya ingin bebas untuk menyukainya karena perasaan ini aku sendiri pun tak bisa mengendalikannya.
"Gue suka dengan Nata? Lo pikir dengan dia mempermalukan gue di depan umum waktu itu lo pikir gue masih suka sama dia, Anin perlu lo tau Nata itu bajingan di gak pantes buat nerima rasa suka dari siapa pun, yang berhak dia terima cuma rasa benci dari semua orang." Mata Lia terpancar penuh kebencian terhadap Nata.
"Susah ngomong sama orang bucin kayak lo, kalo lo masih tetap suka dengan Nata terserah lo. Satu hal yang mau gue bilang selamat menikmati rasa sakit lo." Kata Lia yang seakan mengasihani ku lalu dia pergi meninggalkan ku sendirian.
Apa benar yang dikatakan Lia, apa aku terlalu bodoh untuk menyukai Nata. Apa aku harus melupakannya, apakah aku sanggup untuk melakukannya.
***