
"Arya kamu mau ngomongin apa?" Arya sampai menahan ku seperti ini pasti ada sesuatu yang penting yang mau dia bicarakan berkaitan dengan Nata. Apa Nata dalam masalah atau dia dalam bahaya. Semoga saja itu hanya pemikiran negatif ku dan tidak menjadi kenyataannya.
"Gue mau minta lo ngerubah Nata seperti dulu."
Merubah Nata seperti dulu, apa aku bisa? aku sendiri tidak yakin bisa melakukannya. Aku bahkan tak tau Nata yang dulu seperti apa.
"Bukannya aku nolak tapi... aku sendiri juga gak yakin bisa merubah Nata."
Arya mengangguk lalu dia terlihat seperti memikirkan sesuatu. "Gue tau kok ngerubah Nata gak semudah membalikkan telapak tangan, gue dan Candra bahkan udah pernah coba berkali-kali walaupun akhirnya gagal. Tapi gue mau minta tolong sama lo coba sekali aja buat ngerubah Nata, gue lihat lo punya pengaruh besar buat dia."
Aku punya pengaruh besar buat Nata, apakah itu benar. Entah kenapa aku merasa senang saat mendengarnya.
"Baiklah akan aku coba satu kali ini." Setelah mendengar apa yang kukatakan Arya tersenyum padaku.
"Gue harap lo bisa ngerubah dia, gue gak mau dia terus seperti ini dan malah membuat dia dalam bahaya. Kalo gitu gue pergi dulu." Arya tersenyum sekali lagi padaku sebelum dia berbalik lalu pergi.
Ku harap aku juga bisa merubah Nata, aku tak ingin Nata melakukan hal-hal yang membahayakan buat dirinya sendiri.
***
Aku merebahkan tubuhku di kasur ku, mata ku menatap langit-langit kamar yang dihiasi ukuran rumit. Apa aku bisa merubah Nata? Gimana caranya. Kepala terasa penuh hanya untuk memikirkan hal itu.
tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari jendela kamarku. Apa itu Nata, aku bisa menebak hal demikian karena hanya dia yang suka masuk ke kamarku lewat jendela.
Aku berjalan ke arah jendela lalu membukanya memastikan apakah itu benar Nata atau bukan.
"Belum tidur?" Pertanyaan pertama yang diajukan Nata saat aku membuka jendela kamarku. Aku menggeleng untuk menjawabnya.
Ku lirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, bisa dibilang sekarang sudah hampir larut malam dan sekarang waktunya untuk tidur lalu untuk apa Nata datang ke rumahku.
Nata masuk ke kamarku melewati jendela. Aku baru sadar wajah Nata terlihat pucat banyak keringat di dahinya dan sesekali Nata meringis seakan menahan sakit.
Nata yang ada di depanku tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahuku. "Nin gue gak kuat buat pulang, gue nginap disini ya."
Perasaan ku tak enak Nata sebenarnya kenapa? Kenapa dia terlihat kesakitan seperti itu.
"Arrgg." Nata mengerang kesakitan, aku mulai panik saat melihat darah di tangan ku sepertinya aku tak sengaja memegang luka Nata.
"Nat kamu berdarah, kita ke rumah sakit ya. Kamu tunggu disini aku panggil tante dulu." bukannya membiarkan aku pergi Nata malah memegang tanganku dengan erat.
"Gak usah, ini hanya luka kecil. Cukup di bersihin nanti juga sembuh sendiri."
Aku masih tak yakin Nata terlihat kesakitan sekali pasti lukanya lumayan parah.
"Gue gak papa, ini cuma luka kecil." Nata menyakinkan ku sekali lagi.
"Ya udah aku ambil kota P3K dulu." Aku mencari kotak obat di dalam laci meja belajar ku, setelah mendapatkanya aku kembali duduk di depan Nata.
"Di mana lukanya?" Aku ingin melihat luka Nata semoga saja tidak parah. Nata awalnya ragu untuk menunjukkan lukanya tapi setelah sekian lama dia akhirnya menyerah, Nata mulai membuka jaket kulitnya lalu baju dalamnya.
Aku kaget saat melihat luka Nata, ada dua luka gores yang cukup dalam di perut dan lengan Nata. Luka Nata cukup parah harusnya dia di bawa ke rumah sakit.
"Nat! Luka kamu perlu di bawa ke rumah sakit. Aku gak mau dengar alasan kamu, luka kamu perlu di tangani oleh dokter." Kataku panik bercampur khawatir. Nata menahan tangan ku dengan tangan yang tidak terluka lalu memeluk ku untuk menenangkan ku.
"Gue gak papa, gue cuma butuh lo." Aku yang mendengarnya tak habis pikir dengannya, dia ini gak sayang dengan diri sendiri apa, aku yang melihatnya aja ngebayangin rasa sakitnya apalagi dia yang terluka.
Akhirnya aku yang mengalah, aku tak bisa memaksa Nata untuk pergi ke rumah sakit. Dengan tangan gemetar aku memberikan darah yang ada di sekitar luka Nata, setelah membersihkan luka Nata aku membalutnya dengan perban agar darahnya tak keluar lagi. Wajah Nata terlihat pucat karena kehabisan banyak darah ku beri dia obat penambah darah.
Nata masih bertelanjang dada tak mungkin aku memberikan baju yang sudah ternoda darah, aku sendiri pun tak punya baju laki-laki jadi ku biarkan saja Nata seperti itu.
Aku baru sadar bahwa Nata telanjang dada setelah selesai mengobati lukanya otomatis wajah ku langsung memerah saat melihat tubuh Nata, bisa dibilang tubuh Nata cukup berisi namun tak berlebihan. Otot-otot yang ada di lengan dan perutnya pun terlihat sesuai dengan usianya tak terlihat berlebihan sama sekali sepertinya dia suka berolahraga hal itu dapat dilihat dari tubuhnya yang terlihat sempurna. Aku merasa seperti sedang memanfaatkan kondisi lemah Nata, tak seharusnya aku seperti ini.
Aku berusaha untuk mengalihkan pikiranku, ku bantu memapah tubuh Nata ke tempat tidur ku, ku rebahkan tubuhnya. Aku berencana mengambil selimut tambahan di lemari karena tak mungkin aku satu kasur dengan Nata.
"Tidur di sini." Nata menahan tangan ku agar tidak pergi. Eggak! Mana boleh aku tidur satu kasur dengannya.
Melihat ku tak meresponnya Nata menarik tangan ku kuat hingga aku jatuh menimpanya, untungnya aku tak menekan lukanya. Aku ingin bangun tapi aku kalah cepat dengan Nata, Nata terlebih dahulu memeluk tubuhku, lalu berkata. "Tidur Anin."
Wajah ku memerah kembali jantung ku berdegup kencang, haruskah aku tidur satu kasur lagi dengannya.
***