
"Gue perhatikan lo bahagia banget dua hari ini?" Tanya Nia. Emang keliatan banget ya, setelah Nata mengantar ku pulang dua hari yang lalu semenjak itu aku merasa sangat bersemangat untuk sekolah apalagi kalo bertemu dengan Nata. Aneh memang aku sendiri pun tak tau harus menggambarkan perasaan ku bagaimana.
Hal yang membahagiakan lainnya ialah Nata tak lagi marah padaku, dia mulai menghubungi ku lagi dan bahkan pagi tadi dia menjemputku.
"Masa sih, gak ah." Elak ku malu. "Tu kan senyum-senyum lagi. Gue sebenarnya bingun kenapa lo masih bisa senyum-senyum gaje gitu sekarang. Harusnya lo sedih dan stres kaya gue." Keluhnya mengeluarkan semua unek unek ya.
Kenapa aku harus sedih bahkan stres untuk hal apa, aku bingung sendiri memikirkan keluhan Nia.
"Kenapa harus sedih?" Tanyaku bingung.
"Lo gak tau?" Tanyanya aku menggeleng menjawabnya. "Pantesan dia gak ada galau-galaunya. Gue yakin setelah lo tau berita ini lo gak akan bisa tidur," katanya penuh keyakinan. Berita apa? Kok aku jadi gugup setelah mendengar kata-kata Nia tadi.
Nia memberi isyarat untuk mendekat padanya, aku duduk mencondong ke depan guna mempersempit jarak di antara kami. "Nilai kita udah keluar." Bisiknya pelan di telingaku.
"Ya terus." Bisik ku juga mengikutinya. "Lo liat aja deh di mading, lo bakalan tau nanti gimana." Katanya kesal setelah melihar responku.
"Ya udah aku ke mading dulu," kataku santai karena aku yakin nilaiku pasti tidak ada yang jelek. Dengan bersenandung aku berjalan menuruni tangga dan melewati kelas-kelas lalu berhenti di depan mading dekat ruang guru.
Baiklah mari kita lihat nilai ku. Dengan seyuman ku lihat mading dan mulai mencari namaku. Pertama-tama ku cari kelasku lalu mencari nama ku, ku lihat dari barisan atas, ku lihat baris pertama bukan namaku berarti aku bukan peringkat pertama terus kulihat barisan di bawahnya tidak dapat ku temukan namaku tertera di sana. Aku mulai panik, ku lihat barisan paling bawah ada namaku disana aku bingung harus tertawa atau menangis. Aku di nomor 35, peringkat ketiga yang dihitung dari bawah.
Ku cari nama Nia, ternyata dia hanya berada satu peringkat di atas ku. Ya Nia berada di nomor 34. Kenapa nilai ku bisa sejelek ini seingat ku, aku belajar dengan giat sebelum UTS kemarin.
Ku periksa nilai ku yang tertera di mading. Betapa mengecewakannya nilai-nilai ku dari 12 mata pelajaran hanya 5 yang lulus, 3 yang tuntas yang berarti nilainya standar, dan 4 nilai ku yang merah alias tidak lulus, aku bingung bagaimana kalo tante tau nilai seperti ini pasti tante akan kecewa.
'Gue gak suka cewek bego.' Kenapa pada saat seperti ini aku malah teringat kata-kata Nata waktu itu. Kalo Nata tau nilai aku jelek begini apa dia gak suka padaku.
"Bodoh, benar-benar bodoh." Suara ini begitu familiar untuk ku, baru saja aku memikirkannya kenapa orangnya sekarang muncul di belakang ku. Aku berdiri kaku tak berani berpaling melihatnya, kenapa harus muncul di saat yang tidak tepat.
"Perbaiki nilai lo, kalo sampai gak ada kemajuan di ujian perbaikan, siap-siap lo dapat hukuman dari gue."
Kulirik jadwal ujian perbaikan yang tertera di mading, ingin rasanya aku menangis karena ujian akan dilaksanakan lusa, masa aku harus begadang buat belajar.
"Makanya belajar lebih giat lagi." Katanya menasihati ku, aku juga udah belajar dengan giat kok sebelumnya tapi memang pelajarannya saja yang terlalu susah.
"Ke perpus sana, cari bahan belajar buat nanti sore."
"Maksudnya?" Tanyaku bingung.
"Lo harus privat sama gue, gue udah bilang sebelumnya kalo gue gak suka cewek bego." Katanya tegas lalu pergi meninggalkan ku. Kenapa harus bilang bego-bego terus aku kan gak bego-bego banget. Emang nilainya sebagus apa jadi seenaknya bilang kalo aku ini bego.
Ku cari dengan teliti nama Nata, betapa kagetnya aku setelah melihat nilainya, Nata ada peringkat pertama tidak hanya di kelasnya tapi juga sekolah.
***
Saat istirahat kedua aku langsung pergi ke perpus. Masih dapat ku ingat Nia yang puas menertawakan nasibku padahal kalo di pikir-pikir nasib kita sama, kami sama-sama harus mengikuti ujian perbaikan untuk memperbaiki nilai yang hancur itu.
Sebentar aku ada senang dan kesal juga, senang akan belajar dengan Nata tapi kesal juga kalo dikatai bego terus olehnya. Nata itu sebenarnya baik cuma mulutnya itu bikin orang naik darah terus, untung aku ini orangnya penyabar kalo gak bisa-bisa kami ribut terus.
"Cari buku buat ujian perbaikan ya?" Kata seseorang mengagetkan ku, ku lihat orang di sampingku yang ternyata kak Dante.
"Hehehe iya kak, kak Dante sendiri ngapain disini?" Tanyaku balik.
"Cuma balikin buku aja, lo mau belajar bareng? Siapa tau gue bisa bantu."
"Maaf banget ya kak, aku udah ada janji belajar bareng dengan kak Nata duluan." Kataku menolak tawarannya. "Hmm, kalo gitu aku duluan kak." Pamitku saat semua buku yang ku perlukan sudah kudapatkan. Setelah meminjam buku aku kembali ke kelas selain untuk menaruh buku Nia juga sedang menunggu untuk pergi ke kantin.
Perasaan ku saja atau memang kak Dante berusaha dekat dengan ku, kak Dante memang orang yang baik tapi saat berada di dekatnya aku selalu merasa risih dan waspada terhadapnya. Seingat ku kak Dante tak pernah berbuat jahat terhadapku tapi entah kenapa aku merasa harus menjauhinya.
***