
"Anin ayok kita ke kantin gue udah laper banget nih," katanya sambil mengelus-ngelus perutnya yang ramping. "Iya ayok! Aku juga udah laper."
Aku dan Nia pergi ke kantin. Saat kami di kantin, disana sudah dipenuhi oleh banyaknya murid yang sedang makan atau sedang mengantri untuk memesan makanan.
"Sesak banget Nia," kataku saat melihat kondisi kantin yang sesak karena banyak murid. "Gue yakin kita bakalan dapat tempat duduk kok. Yang penting sekarang kita pesan makanan aja dulu masalah tempat duduk itu urusan belakangan."
Setelah mengatakan itu Nia pergi kesalah satu kios penjual nasi goreng. Ya sudahlah sebaiknya aku juga memesan makanan. Akupun memilih ke kios penjual bakso.
"Pak bakso dan es jeruknya satu,"
Pesanku. "Tunggu ya neng," jawab penjual bakso lalu sibuk kembali membuatkan bakso pesanan orang lain yang memang sudah terlebih dahulu memesan dari pada aku.
Saat bakso dan es jerukku sudah selesa dibuat oleh penjual bakso aku pergi untuk mencari tempat duduk setelah membayar bakso dan es jeruk yang kupesan.
Kulihat sekelilingku untuk mencari keberadaan Nia dan dia disana dikursi kantin yang terletak agak pojok. Dapat kulihat Nia melambaikan tangannya agar aku datang menghampirinya di sana. Akupun berjalan hati-hati ke tempat Nia.
Prakk
Gelas dan mangkok bakso yang kupegang terlepas, aku tak sengaja menabrak bahu seseorang dan semoga saja dia tak marah.
"Maaf," kataku pelan tak berani melihat siapa yang kutabrak tadi, kulihat bajunya kotor karena tumpahan minuman serta makananku. "Aihs lo lagi? Kayaknya lo emang mau cari gara-gara sama gue huh!" Shit! Ternyata dia lagi si devil, oh habislah riwayatku.
"Lo gak papa Nat?" Tanya temannya. "Ya," jawabnya singkat.
"Dan lo! Ikut gue," Oh apa lagi sekarang, dia dengan seenaknya menarik tanganku dengan paksa ke luar kantin.
Nata terus menarik tanganku aku tidak tau dia mau membawaku kemana. Adinata Reynand nama yang bagus tapi tak sebagus pemilik namanya. Bagaimana bisa nama yang memiliki makna paling bijaksana dan kuat itu dimiliki oleh seseorang yang tak mencerminkan kepribadian yang sesuai dengan namanya. Dia lebih cocok dengan nama yang memiliki makna devil atau yang lainnya.
Dia terus menarik tanganku hingga kami sampai di depan ruang khusus loker cowok. Apa dia tidak ingat kalau aku ini perempuan atau dia lupa ingatan kalau ruang itu khusus pria.
"Lo mau bawa aku kemana? Lepasin gak! Gue gak mau kesana," kataku terus meronta dalam genggaman Nata. "Diam!" Teriaknya lalu menarik tanganku lagi agar masuk ke ruangan khusus loker pria.
Kami terus berjalan dengan Nata yang terus menarik tanganku paksa hingga kami sampai di loker sebelah kanan paling pojok. Dapat kulihat banyak surat, bunga, bahkan coklat didalam lokernya saat Nata membukanya.
Ternyata cowok devil ini punya banyak fans tapi apa yang kulihat barusan. Dia dengan seenaknya membuang semuanya seakan itu barang yang tak berguna bahkan cokelat sebanyak itu dibuang. Aku yang melihatnya merasa tidak rela, karena cokelat memang cemilan ke sukaan ku. Apa dia gak tau cokelat itu enak. Dasar gak punya perasaan dan gak bisa menghargai pemberian orang lain.
"Kenapa lo ngeliat gue kaya gitu? Lo mau cokelat yang baru aja gue buang? Silahkan... ambil aja. Kalau lo mau ambil aja sendiri tu di tong sampah," aku akui aku memang suka cokelat. Suka banget malah tapi gak gitu juga aku masih mampu buat beli cokelat sendiri gak perlu sampai mengambil cokelat yang baru aja dibuangnya. apa lagi sampai harus mungut di tong sampah, aku mah OGAH!.
Ya tuhan tingkatkanlah kesabaran hambamu ini untuk menghadapi devil yang satu ini.
"Sekarang gue tau hukum apa yang cocok buat cewek yang songong kaya lo," katanya dengan menampilkan seringainyan devilnya. "Mulai sekarang lo jadi pacar gue."
Apa? Apa aku gak salah denger, dia bilang apa tadi? Pacar? Aku jadi pacar dia. Gak mungkin! Ini pasti mimpi buruk.
"Lo jangan ke geeran duluan. Maksud gue lo jadi pacar bohong gue. Lo bisa liat ada banyak surat, bungan, dan cokelat yang gue buang itukan." Katanya sambil menunjuk semua yang baru saja dia buang.
"Mulai sekarang lo tameng gue agar semua cewek yang suka dengan gue mundur karena gue udah punya pacar dan pacar gue itu lo dan," dia berhenti sejenak lalu melangkahkan mendekat ke arahku. "Lo mulai sekarang jadi budak gue."
"Apa! Pacar bohong! Budak kamu! Aku gak mau," dia pikir dia siapa dengan seenaknya memerintah orang lain.
"Lo gak mau?" Tanyanya lalu menarik pinggangku mendekat ke tubuhnya. "Kalau lo gak mau gue pastikan bahwa lo bakalan kehilangan sesuatu yang sangat berharga didalam hidup lo," bisiknya tepat di telingaku. Setelah mendengar itu perasaanku mulai tidak enak, apa yg akan dilakukannya.
"Dan gue gak pernah main-main soal ancaman gue," bisiknya lagi lalu melepas tangannya yang berada dipinggangku. Mundur beberapa langkah lalu melepas kemejanya. Apa yang mau dia lakukan. Bertelanjang dada di depanku dan tempat ini sepi gak mungkinkan kalau di mau...
Tak terasa kaki ku mulai melangkah mundur sampai tidak ada jarak antara aku dan loker yang ada di belakang ku.
"Aakkh," kepalaku sakit karena tiba-tiba dia menyentilku. Sakit, ini pasti merah. "Lo tampang doang yang polos tapi otak mesum."
"Gak!" Bantahku. "Masih aja ngelak. Lo pikir gue gak tau apa tampang lo tadi itu lagi mikirin apa? Muka lo itu mudah kebaca kaya buku."
"Dan ini," katanya sambil menyerahkan kemejanya. "Tugas pertama lo sebagai pacar gue. Cuci yang bersih kalau sampai besok gak bersih gue hukum lo."
Setelah mengatakan itu Nata mengambil baju olahraganya yang ada di loker lalu mengenakannya setelah itu dia pergi gitu aja ninggalin aku disini sendirian.
***
***Jangan lupa Like and comments ya 😊
Saran dan kritik kalian sangat membantu ku, mohon dukungannya dan semoga kalian suka....
Tunggu kelanjutannya ☺***