My Memory

My Memory
Gue Milik Lo



Aku masih sesekali sesenggukan akibat dari terlalu lama menagis. Nata masih ditempat yang sama, berdiri di depanku dan masih memeluk tubuhku dalam pelukan hangatnya dan Nata berusaha untuk menenangkan ku.


"Gimana? merasa lebih baik sekarang?" aku mengangguk kecil untuk menjawabnya. "Maaf gue gak maksud buat lo sakit kaya gini, lo bisa bilang sama gue kelakuan gue yang mana yang nyakitin lo. Tapi lo gak bisa gitu aja lepas dari gue."


Dahiku langsung mengerutkan kening ku tanda tak setuju, aku pikir dia sudah mengerti aku tapi ternyata masih sama, egois. Ku lepaskan tangan Nata yang sedang memeluk ku dan aku membuat jarak di antara kami.


"Kenapa? gak setuju?"


"Iya aku gak setuju, aku mau mengakhiri ini semua." jawabku masih kekeh dengan pendirian ku.


"Alasannya?"


Alasannya ya jelas karena aku tak ingin sakit hati lagi karena dia, tapi enggak mungkin aku mengatakan semua itu yang ada nanti dia malah besar kepala.


"Oh gue tau! pasti karena cowok itu kan." Dengan seenaknya Nata menebak sendiri, cowok siapa? yang mana? Nata ini ngomong apa sih sebenarnya. Melihat aku tak meresponnya dia terus berbicara. "Cowok yang selama ini menunggu lo. Bukannya lo sendiri yang bilang gak akan peduli lagi dengan masa lalu lo, lo itu harusnya punya prinsip bukannya labil kaya gini. Kalo lo mau ngelupain dia ya lupain, kalo gak ya enggak. Lagian lo ngapain berharap sama cowok yang cuma bisanya sembunyi dan cuma berani lewat surat-surat sok misterius gitu. Kalo dia serius suka sama lo dia harus ketemu sama lo dan ngakuin semuanya secara gentle, gak pengecut kaya gini."


Sunggu Nata ini terlalu pandai menilai orang lain sedangkan terlalu bodoh untuk menilai diri sendiri. Aku juga sadar kalo R, cowok itu hanya mengirimkan surat-surat saja pada ku tanpa ingin bertemu. Aku pernah meninggalkan catatan untuknya yang berisi bahwa aku ingin bertemu dengannya dan ingin mengetahui masa laluku darinya.


R tak ingin bertemu dengan ku, lebih tepatnya dia tak bisa bertemu dengan ku saat ini. Balasan yang kuterima darinya hanya mengatakan bahwa kondisi ku tak memungkinkan untuk kami saling bertemu. Aku sendiri juga gak tau maksud dia apa, tapi satu hal yang ku yakini semua yang dilakukan R hanya ingin yang terbaik untuk ku, tanpa menyakiti ku.


Karena Nata sekarang aku sadar bahwa aku masih ada perasaan untuknya, untuk R yang merupakan cowok masa lalu ku yang bahkan wajah dan namanya sendiri aku tak ingat. Aku bahkan merasa marah saat Nata menjelek-jelekkan dia di depan ku. Bukankah ini koyol, aku tak bisa menampik perasaan suka ku kenapa Nata, tapi dilain sisi aku juga sadar bahwa perasaan ku masih ada untuk dia. Bagaimana mungkin aku menyukai dua orang yang berbeda dalam satu waktu, entah kenapa aku merasa hal ini akan menjadi boomerang untuk ku.


"Kenapa diam? ah pasti lo lagi mikir bahwa apa yang baru aja gue bilang semua itu benar, tapi lo gak perlu mikir karena pada kenyataannya apa yang baru aja gue bilang itu benar kan?"


"Gue salah? dima_" belum selesai Nata bicara aku sudah memotongnya duluan. Aku tak ingin mendengar pembelaannya.


"Iya kamu salah, pertama apapun yang berhubungan dengan kamu itu semua salah." Ku lihat Nata ingin protes namun aku tak memberikan kesempatan untuknya. "Kedua, kamu bilang aku labil! Kamu harusnya sadar diri Nat, kamu sendiri itu lebih labil daripada aku. Kamu gak sadar apa sikap kamu itu labil. Kadang kamu baik sama aku, kadang juga kamu memperlakukan aku dengan buruk. Sifat kamu itu berubah-ubah. Sikap kamu itu seakan menarik ulur aku dan aku gak menyukai itu semua, kamu pikir aku gak punya perasaan apa jadi kamu dengan seenaknya mempermainkan aku kaya gitu. Ketiga, kamu bilang dia sok misterius, gak gentle dan menjelek-jelekkan dia didepan aku. Perlu kamu tau dia lebih baik dari kamu, kamu tau dia gak menemui aku mungkin karena ada alasan tertentu yang membuat dia gak bisa menemui aku, aku yakin kok semua yang dia lakukan buat kebaikan aku, dan gak mau menyakiti aku." Gak kaya kamu Nat, yang sukanya nyakiti perasaan aku. Ingin sekali aku mengatakan hal yang terakhir itu namun entah kenapa aku tak bisa mengeluarkannya. Ada perasaan lega saat aku mengeluarkan semua unek-unek yang mengganjal di hati ku.


"Kenapa lo gak pernah bilang kalo sikap gue itu malah nyakitin lo, lo harusnya bilang ke gue Nin dengan begitu gue tau gue salah kalo kaya gini gue kan jadi ngrasa jahat banget sama lo, Nin."


Apa disini gak cuma Nata aja yang salah? setelah mendengar penjelasan Nata aku merasa aku juga salah karena selalu diam dan tak pernah berusaha untuk menjelaskan semuanya kepada dia.


"Lo tau kalo lo itu milik gue dan gue gak mau nyakitin lo jadi lo harus bilang ke gue siapa yang nyakitin lo termasuk gue sendiri. Tapi tetap aja gue gak suka lo dekat-dekat cowok lain karena gue gak mau berbagi sama siapa pun termasuk cowok sok misterius itu apalagi Dante."


Satu hal yang paling aku tak suka dari Nata dia itu terlalu egois, aku gak boleh dekat-dekat sama cowok lain, terus apa kabar sama dia? apa dalam otak Nata cuma dia yang boleh dekat sama cewek lain sedangkan aku gak hanya karena alibi aku milik dia, jadi dia seenaknya gitu mempermainkan aku dan gak membolehkan aku untuk dekat dengan cowok lain.


"Enggak, aku bukan milik kamu dan bukan milik siapapun. Aku cuma milik aku sendiri dan kamu gak berhak untuk mengebatasin semua yang aku lakukan. Kamu bilang aku milik kamu, terus kamu milik siapa? milik dia, cewek masa lalu kamu. Kamu itu terlalu egois Nat."


Tangan Nata yang sedari tadi ada disamping tubuhnya sekarang menggenggam tangan ku, rasa hangat tercipta saat tangan kami terjalin."Enggak lo salah paham Nin, bukankah gue udah pernah bilang kalo gue mau ngelupain masa lalu gue dan perlu bantuan lo, dari saat itu lo milik gue dan gue juga milik lo, lo punya hak yang sama kaya gue. Lo berhak marah kalo gue ngelakuin kesalahan dan termasuk lo berhak ngelarang gue buat dekat dengan cewek lain, karena itu emang hak lo."


Jadi selama ini menurut Nata hubungan kami seperti itu. Mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya membuat jantung berdetak kencang dan terus meningkat hingga tanpa ku sadari wajah mulai memerah. Bolehkan aku berharap sekali lagi padanya.


***