My Memory

My Memory
Apa Kelebihannya



Langkah ku terhenti saat melihat pemandangan di depanku. Suasana hiruk piruk kantin yang sedang menyaksikan semuanya seakan tak terdengar di telinga ku. Semua indra ku seakan terfokus untuk melihat satu objek yang mengambil alih semua pikiranku.


Di depan sana aku melihat Nata yang sedang berpelukan dengan cewek lain. Tidak, lebih tepatnya cewek itu yang sedang memeluk Nata di depan umum. Perasaanku tak karuan timbul perasaan benci, marah, dan kecewa yang bercampur aduk menjadi satu. Semua perasaan itu bukan untuk Nata melainkan untuk cewek yang sedang memeluk Nata, Lia.


Aku merasa marah karena Lia yang sedang menghianati ku, aku merasa kecewa karena aku pernah percaya semua kata-katanya kepada ku. Dan aku benci saat sadar bahwa aku hanya di permainan olehnya, membuat aku melakukan kesalahan besar hingga Nata marah kepadaku. Aku tak menyangka apa yang Lia katakan tak sesuai dengan apa yang dia perbuat sekarang.


"Nata... gue suka sama lo, lo maukan jadi pacar gue." Katanya nyaring saat masih memeluk Nata.


"Lo apa sih! Lepas." Nata mendorong Lia hingga pelukan mereka terlepas.


"Tapi_"


Wajah Nata mengeras tanda marah. "Tapi apa? Lo pikir gue gak tau gosip murahan yang lo buat." Katanya dengan senyum penuh ejekan.


"Gue ngelakuin semuanya demi lo Nat, karena gue tau dia gak pantes buat lo."


Gak pantes buat dia, jadi selama ini Lia mikir aku gak pantes buat Nata. Memang aku kenapa jadi gak pantes buat Nata, sebegitu rendahnya kah aku jadi gak pantes buat dia.


Nata tertawa keras hingga tawanya terdengar ke seluruh penjuru kantin. "hehehe.... terus lo pikir lo yang pantes gitu? Perlu lo ingat baik-baik gue gak pernah suka sama lo baik itu dulu ataupun sekarang ngerti! Lo bilang lo ngelakuin semua hal demi gue? Yang lo lakuin selama ini malah ngancurin hidup gue, Jadi stop lo ikut campur dalam urusan gue."


Nata seakan marah besar kali ini dan melihat Lia dengan tatapan tajam, Lia menunduk menghindari tatapan Nata dan kulihat dia menitikkan air mata. Susana kantin tambah riuh saat semua siswa yang ada di kantin mengejek Lia, Lia melihat sekeliling kantin saat semua orang mulai mengejeknya, saat mata kami saling bertemu ku lihat pancaran penuh kebencian terpancar dari matanya.


"Terus apa? Apa Kelebihannya dibandingin gue?" Tanya Lia saat dia masih terus melihat ke arahku. Nata mengikuti garis pandangan Lia ke arahku, ku lihat Nata baru sadar kalo selama ini aku berdiri di sini melihat mereka berdua. Aku tersenyum ke arahnya karena aku tak ingin Nata mengira aku akan marah padanya.


Entah apa yang ada di pikiran ku hingga aku melakukannya tapi yang jelas aku hanya tak ingin Nata salah paham kepadaku. Nata membalas senyuman ku dengan senyuman lembutnya. Selama ini aku tak pernah melihatnya tersenyum seperti itu kepadaku dengan senyuman lembutnya itu ketampanan Nata seakan bertambah berkali-kali lipat di mataku.


Nyit


"Kenapa? Da_"


"DIAM!" teriakan Nata mealihkan fokus ku ke arah mereka walaupun sakit kepalaku seakan menjadi-jadi. Nata mengatakan sesuatu tapi terlalu pelan hingga aku tak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, mereka berbicara seakan hanya mereka berdua saja yang dapat mendengarnya.


Apa? apa yang mereka bicarakan kenapa Lia melihat ku dengan penuh kebencian bahkan kebencian itu seakan lebih besar dari sebelumnya.


Keringat dingin keluar dari tubuhku karena menahan rasa sakit yang terus mendera kepalaku, kilasan gambar tak jelas semakin sering muncul di otak ku dengan cepat. Siapa dia? Kenapa saat melihat Nata tersenyum seperti itu aku malah teringat dia, seseorang yang memiliki senyum sama seperti Nata. Tapi siapa? Wajahnya tak jelas. Apakah itu Nata? Tidak, itu tidak mungkin. Kalo itu Nata tak mungkin dia memperlakukan aku seperti sekarang.


Ku rasakan tangan seseorang menutup kedua telingaku saat ku lihat. Ku dapati wajah Nata ada di depanku dia tersenyum lagi ke arahku. "lo gak perlu dengerin omong kosong dia."


Dahi ku menyengit tak paham, apa maksudnya? ku lihat ke arah belakang Nata, Lia seperti berbicara sesuatu tapi tak jelas terdengar dengan kepala ku yang terasa tambah sakit semakin menambah ketidakfokusan ku untuk mendengar apa yang dia katakan.


Setiap detik kepalaku seakan bertambah sakit, ku rasa tubuhku tak kuat untuk menahannya. Tubuhku luruh ke bawah untungnya Nata dengan sigap menahanku dalam perlukannya. Ku lihat wajah Nata yang panik dan khawatir aku ingin bicara padanya bahwa aku tak apa-apa tapi kondisi tubuhku yang lemas untuk berbicarapun aku tak ada tenaga.


Ku lihat di sebelah Nata ada Nia yang mulai memanggil-manggil ku. "Anin... Nin lo kenapa? lo jangan bikin gue takut gini dong."


Nata dan Nia terus memanggil ku bahkan Nata beberapa kali mengguncang tubuhku untuk melihat respon yang ku berikan. Aku ingin merespon tapi tubuhku tak memungkinkan bahkan untuk bergerak dan berbicara sedikit saja tak sanggup.


Pandangan ku mulai mengabur dan Nata maupun Nia makin sering memanggil ku. "Anin.... Nin."


Hingga semua pandangan ku menggelap dan aku tak sadarkan diri.


***