My Memory

My Memory
Murid Baru



Setelah beberapa hari aku keluar dari rumah sakit, aku merasa Nata mulai menjauh dari ku entah apa penyebabnya aku sendiri enggak tau.


Bukankah dia sendiri yang berkata meminta bantuan ku untuk keluar dari masa lalunya. Lalu kenapa menjadi seperti ini, apakah yang di maksud Nata keluar dari masa lalunya adalah dengan menjauh dari ku. Aku tak tau apa yang ada di pikirannya aku hanya bisa menebak-nebak apa yang di pikirannya.


Aku sempat berpikir mungkin Nata ingin aku menjadi pacar sungguhannya bukan lagi menjadi pacar pura-puranya, tidak lagi bermain peran layaknya seorang kekasih tapi sungguhan menjadi kekasihnya.


Hal ini terasa lucu, bukankah aku terlalu berharap padanya. Aku memimpikan sesuatu yang seakan tak mungkin terjadi. Bagun Anin! Nata milik orang lain dan kau hanya tameng untuknya. Jangan mengharapkan sesuatu yang tak mungkin untuk digapai.


Aku merasa bingung dan sedih karena Nata, tapi di lain sisi aku merasa kalo aku egois, aku hanya memikirkan kesedihan ku tanpa memikirkan cowok yang selama ini sedang menunggu ku. R inisial cowok yang selalu muncul di mimpiku dan cowok yang mungkin cinta pertama ku. Selama beberapa hari ini aku mendapatkan surat misterius darinya. Dia selalu menuangkan isi hatinya disana.


Salah satu surat yang paling ku ingat, surat yang tidak hanyar berisi curahan isi hatinya tapi juga seakan menyindir ku, surat inilah yang membuatku tersadar bahwa aku terlalu egois.


'Kau tau saat yang paling menyakitkan buatku adalah saat kau tak mengingatku dan melupakan tentang kita.'


Aku tidak hanya melupakan dia dan tidak mengingat akan hubungan diantara kami. Aku bahkan sebelumnya ingin melupakan seseorang yang sedang menunggu ku dan tanpa sadar aku telah menghianatinya karena aku tau perasaan ku bukan lagi untuknya, aku telah jantu cinta pada Nata. Seorang Nata yang tak seharusnya ku sukai. Perasaan bimbang muncul di hatiku apa yang harus ku lakukan, apakah semua yang ku lakukan saat ini salah.


"Udah? Ayo kita ke kelas." Tanya Nia melihatku masih mengutak atik komputer yang ada di depanku. Ada beberapa bagian yang harus ku edit sebelum menyimpan tugasku.


Saat ini Jam pelajaran Teknologi informasi sudah berakhir dan ada jeda beberapa menit sebelum jam pelajaran berikut akan di mulai.


"Udah kok, kamu duluan aja ke kelasnya aku nanti nyusul. Aku mau balikin buku dulu." Ku ambil buku yang sedari tadi ku bawa dari kelas sebelum ke lab komputer. Kami keluar lab komputer bersama lalu berpisah saat di depan lab ke tempat tujuan kami masing-masing.


Aku berjalan cepat bahkan hampir berlari untuk mengejar waktu. Semoga aja sempat sebelum jam pelajaran berikutnya.


Buk


Aku tak sengaja menabrak orang lain yang berjalan berlawanan arah dengan ku. Buku yang ku bawa terjatuh berserakan di lantai.


"Sorry... gue gak sengaja." Kata cewek itu meminta maaf lalu membantu ku mengambil buku-buku ku.


"Iya... Aku juga minta maaf udah jalan gak liat-liat, Terima kasih." Ucapku saat dia menyerahkan buku ku.


Seperti dia bukan siswa sekolah sini, bisa di lihat dari seragamnya yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Apa mungkin dia murid baru.


Aku mengangguk kecil. "Iya tau kok, kamu ke gedung yang ada di sana terus naik aja ke lantai 2, nanti di depan kelas ada kok pelang nama kelasnya."


"Oh oke, makasih ya." Ucapnya sebelum berjalan pergi. Aku juga berjalan kembali ke perpus untuk mengembalikan buku lalu kembali ke kelas dengan segera.


***


"Hahaha... enak bu kena sempot bu Sis." Nia masih terus tertawa mengejek ku.


"Udah deh Nia, aku lagi badmood nih. Jadi stop ketawanya." kata ku kesal dengan muka ditekuk.


Saat kembali dari perpus aku langsung disambut omelan bu Siska atau yang kerap kami panggil bu Sis. Guru yang paling menghargai waktu bu Sis tidak pernah telat dalam mengajar bahkan bu Sis kerap kali masuk kelas lebih cepat dari jam pelajaran seharusnya.


Aku juga pada awalnya tidak ada niatan untuk mengembalikan buku ke perpus dulu baru masuk kelas. Tapi saat Najwa ketua kelas kami berkata bu Sis bakal telat masuk kelas karena ada urusan yang harus di selesaikan, aku jadi berpikir untuk mengembalikan buku perpus yang sudah jatuh tempo peminjamannya dulu ke perpus.


Ku pikir itu akan menghemat waktu ku hingga tak akan memotong jam istirahat ku dan lagi lab dan perpus di dalam gedung yang sama dan itu akan menghemat tenaga ku agar tak bolak balik antara gedung kelas dan gedung fasilitas. Tapi siapa yang tau ternyata semuanya salah total dan akhirnya aku malah kena omelan bu Sis.


Hari ini seperti aku kena sial, tidak hanya telat masuk kelas aku juga lupa mambawa tugas ku, tentu saja bu Sis tidak akan menyia-nyiakan kesalahan ku hingga akhirnya aku lebih lama kena omelannya. Sungguh ini bikin malu banget dan sialnya lagi sahabat yang paling setia ku ini malah menertawakan aku sedari tadi atas semua kesialan ku.


"Maaf deh Nin, jangan marah ya... nanti cantiknya ilang loh."


Ku putar mataku jengah. "iya.. iya..."


Kami berdua berjalan ke kantin di sana sudah banyak siswa yang berkumpul untuk mengisi perut mereka.


"Nin!" Nia menarik bajuku. "Kenapa?"


"Liat ke arah jam satu." katanya memberi ku kode. Ku ikuti apa yang di mintanya. Disana aku melihat Nata dan sahabatnya sedang bercanda gurau seperti biasanya, tapi untuk hari ini ada sedikit berbeda. Disana di tempat Nata dan sahabatnya sedang berkumpul ku lihat ada seorang cewek yang ku kenal, mereka terlihat akrab dan sesekali cewek itu tertawa menanggapi mereka.


"Nin lo kenal cewek itu? Kelihatannya akrab banget sama Nata dkk."


Aku menggeleng tak tau, aku hanya melihatnya dua kali dengan saat ini dan itupun aku tak tau namanya. Tapi yang jelas bukankah dia murid baru yang bertabrakan dengan ku tadi.