My Memory

My Memory
Perang Dingin



"Anin ayo kita ke perpus," ajak Nia. Sekarang sudah jam istirahat setelah kami menguras otak untuk menghadapi ujian tengah semester (UTS). Bisa dibilang UTS ini adalah ujian percobaan kami sebelum ujian akhir semester (UAS) yang akan menentukan jurusan apa yang akan kami tempuh selama bersekolah di sini.


Rata-rata semua murid kelas X menghabiskan waktunya di perpus, begitu pula aku dan Nia kami juga menghabiskan sisa waktu kami di perpus. Hari ini adalah hari terakhir UTS dan mata pelajaran setelah istirahat adalah mata pelajaran terakhir yang akan di ujikan.


"Ayo," ajak ku setelah merapikan buku. Kami keluar dari kelas lalu menuju perpus, saat melewati selasar kelas XI aku berpapasan dengan Nata. Dapat ku lihat Nata sedang mengobrol dengan sahabatnya. Sekilas dia melirik ku lalu langsung mengalihkannya. Sepertinya dia masih marah pada ku.


Setelah kejadian pulang sekolah dua minggu lalu, Nata tidak lagi menghubungi ku, tidak menyapa ku dan bahkan enggan untuk menatapku.


Seharusnya aku senang dia tak lagi mengganggu ku, tapi sepertinya aku memang aneh, ada perasaan mengganjal di hatiku yang aku sendiri tidak tau itu apa. Ku akui ini memang salahku tak seharusnya aku ikut campur dalam masalah pribadinya, tak seharusnya aku begitu impulsif.


Entah setan apa yang mendorong ku untuk melakukan hal itu. Aku hanya merasa bahwa aku harus melakukannya, aku harus membela Lia. Saat melihat Lia yang begitu sedih karena Nata dan penghianatan sahabatnya. Aku jadi teringat mimpi itu, mimpi yang mungkin saja kepingan dari ingatan ku. Sahabat ku pasti sesakit itu karena penghianatan ku dan mungkin dia sama seperti Lia dia pasti akan membenci ku sampai sekarang. Karena hal itu perasaan bersalah muncul di dalan hatiku, memenuhi seluruh hati ku sehingga mendorongku untuk melakukannya, aku hanya tak ingin melihat Lia bersedih.


Tapi aku telah melakukan kesalah, aku tak memikirkan perasaan Nata, aku juga tak minta penjelasannya. Hanya karena perasaan bersalah yang tidak tak tau pada siapa aku malah bertindak gegabah dan tidak berpikir jernih. Setelah semuanya baru ku sadari mungkin saja apa yang dikatakan Lia adalah kebohongan. Benar kata orang bahwa penyesalan pasti selalu datang belakangan.


"Lo lagi berantem ya dengan Nata?" Tanya Nia saat kami berada di depan perpus. "Iya, aku bingung mau minta maafnya gimana," jawabku saat kami masuk ke perpus lalu mencari tempat duduk. Ku lihat tempat duduk yang pernah aku dan Nata tempati masih kosong, kami pun berjalan ke sana.


"Gue gak tau masalah lo dengan Nata apa? Tapi yang jelas lo bicarain baik-baik aja dulu dengan dia, bilang kalo lo benar-benar nyesel dan mau minta maaf sama dia," sarannya. "Hmm," angguk ku. "Aku pikirin dulu gimana cara minta maaf ke Nata," kataku pasrah. Setelah itu aku mulai berjalan ke arah rak buku matematika karena mata pelajaran itu lah yang akan di ujikan setelah istirahat.


Saat mencari buku matematika sebagai bahan untuk belajar aku melihat buku modul matematika yang pernah di baca Nata. Akupun mengambil buku itu, ku lihat isinya dari daftar isi sampai kumpulan soal yang ada di modul ini. Menurut ku buku ini bagus karena pembahasan yang mudah di mengerti dan kumpulan soal yang mencakup semua tingkatan baik dari kelas X, XI, dan XII.  Aku jadi teringat perkataan Nata 'Orang normal mana yang suka belajar.' Hehehe benar katanya orang nomal mana yang suka belajar.


"Gue baru tau kalo matematika bisa bikin orang senang,"  kata seseorang membuyarkan lamunan ku. Ku lihat orang tersebut, oh ternyata kak Dante. "Gak kok, kata siapa?" Tanyaku padanya.


"Loh bukanya tadi kamu senyum-senyum liat buku itu, gue kira lo senyum karena baca buku matematika itu," jelasnya. Masa sih kok aku gak sadar duh bikin malu aja.


"Kakak salah liat kali," elak ku malu. "Kak aku duluan ya," kataku cepat lalu mengambil buku matematika tersebut.


"Hei boleh gabung gak?" Tanya seorang, saat ku lihat ternyata kak Dante lagi. Dia ngapain ke sini. "Boleh kok kak," jawab Nia cepat. Setelah melihat dan tersenyum kecil ke arah kak Dante aku mulai membaca buku matematika ku.


"Nih buat kalian," katanya saat mengeluarkan dua susu kotak rasa stroberi. "Terimakasih kak," sahut Nia lalu mengambil dua susu kotak tersebut dan satu dikasihkan kepadaku. "Makasih," kata pelan.


"Sama-sama," jawab kak Dante. Ku lihat susu kotak rasa stroberi ini, susu yang sama seperti yang diberikan Nata sebelumnya, dan di tempat duduk yang sama pula. Hanya saja orang yang memberikannya berbeda.


Aku ini kenapa sih, hampir seharian keingat Nata terus. Apa karena aku merasa bersalah makanya aku keingat terus. Harusnya aku fokus belajar buat ujian nanti bukannya malah kaya gini.


"Kenapa gak di minum?" Tanya kak Dante saat melihatku hanya memandangi susu kotak itu. "Gak nanti aja," jawabku lalu mulai fokus membaca lagi. Lama kami menghabiskan waktu di perpus sampai bel berbunyi kami pun kembali ke kelas dan bersiap mengikuti ujian.


***


Ah akhirnya selesai juga pikirku saat menyelesaikan empat puluh soal matematika ini. Ku lihat sekeliling kelas ku sudah banyak yang pulang karena telah menyelesaikan ujian, termasuk Nia dia sudah sedari tadi pulang mendahului ku.


Di kelas hanya tersisa sepuluh orang termasuk aku. Akhirnya selesai aku pun mulai membereskan alat tulis ku dan menaruhnya ke dalam tas, lalu membawa kertas jawaban dan soal ke depan kelas untuk di kumpul.


Saat aku berjalan keluar kelas satu notifikasi masuk ke handphone ku, sambil berjalan ku buka chat itu, chat pertama Nata setelah sekian lama. 'Ke parkiran sekarang,' chatnya singkat.


Setelah membaca chatnya bukannya senang aku malah gugup, Nata mau ngapain ya.


***