My Memory

My Memory
Apalagi?



Ku rasa ada beban berat yang menimpa ku. Dari ujung kaki hingga tubuh bagian atas ku tak bisa ku gerakkan. Dengan mata yang masih terpejam ku gerakkan tangan ku untuk meraba apa yang sedang menahan ku. Teksturnya seperti kulit dan bentuknya seperti tangan. Tapi tangan siapa? Setelah memastikan bahwa ada tangan seseorang yang sedang memeluk pinggang ku.


Ku buka mataku perlahan dan beberapa kali ku kucek untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku. Ku lihat sebelah kanan ku Nata yang masih tertidur pulas. Kepalanya bersandar di bahuku, tangannya memeluk pinggang ku erat, dan satu kakinya menimpa ku pantas saja tubuhku terasa kaku karena tak bisa begerak Nata tak pernah mengganti posisinya dari saat aku mulai tertidur sampai aku terbangun.


Ku lihat ke arah jam dinding di sana sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, teringat hari ini hari senin aku harus membangunkan Nata segera untuk kami bersiap-siap atau tidak kami akan terlambat.


Ku goyang bahu Nata dan sesekali memanggilnya. "Nat... Nata bangun udah pagi."


Bukannya bagun Nata malah mengeratkan tangannya di pinggang ku dan kepalanya pindah sedikit ke atas menghadap leher ku. Ku rasakan hembusan nafas Nata yang membuatku merinding.


Ku tepuk pipinya agak keras "Nata bangun, udag pagi."


"Hmm." Responnya kesal karena mengganggu tidurnya. "Udah pagi, kita harus sekolah."


"Lo berisik banget sih." Katanya kesal. Nata melepaskan pinggang ku dan mengangkat kakinya yang sedang menimpa ku hingga dia tidur terlentang. Ku lihat Nata menggeliat sebentar sebelum dia bangun untuk melihat jam yang ada di handphonenya.


"Lo gila ya! Lo bangunin gue jam 05.00 pagi. Mending gue tidur." Katanya kesal lalu menghempaskan tubuhnya lagi di kasur.


Ku tarik tangan Nata dan beberapa kali ku goyang bahunya. "Gak! Gak! Kamu harus bangun. Siap-siap sana! Aku gak mau telat."


Dengan kesal Nata bagun dari tidurnya lalu langsung duduk dan memeluk ku erat. "Gue makan juga lo." Katanya lalu menggigit pipiku.


"Sakit Nat, lepas."


Nata melepaskan gigitannya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. "Kita bolos aja ya. Sesekali bolos gak akan jadi bodoh juga."


"Gak mau! Aku kan baru sekolah lagi masa bolos." Nata mengangkat kepalanya lalu menatapku bingung.


"Maksudnya."


Aku malu buat menjelaskannya. Ku tundukkan kepalaku lalu berkata dengan pelan. "Selama ini kan aku homeschooling dan baru beberapa bulan ini masuk sekolah. Aku gak mau bolos."


Ku rasakan ada tangan yang sedang mengusap kepalaku. Jantungku berdebar rasanya hingga pipiku terasa panas saat Nata melakukan itu.


"Mandi sana! Atau lo mau mandi bareng gue? Gue bakal ikhlas kalo lo minta kaya gitu."


Aku menggeleng cepat. "Enggak! Kamu mandi di kamar tamu aja aku mandi di sini."


"Kan siap tau lo mau." Katanya mengangkat bahunya. Nata tutun dari kasur lalu mengambil tas warna hitam yang ada di samping meja belajar ku. Sejak kapan ada tas itu di sana.


Saat Nata keluar dari kamar ku, aku berjalan ke arah lemari untuk mengambil seragam ku lalu menyiapkan buku pelajaran ku hari ini, setelah selesai aku masuk ke kamar mandiku untuk memulai ritual mandi ku.


Setelah beberapa waktu aku selesai mandi lalu memakai seragam ku. Setelah semuanya siap aku berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan.


"Sumpah lo lama banget. Satu jam lo habisin buat siap-siap." Omelnya lalu menggeleng pasrah. "Nih makan."


Ku lihat piring Nata nasi gorengnya sudah habis, emang selama itu ya aku buat siap-siap perasaan gak kok, Nata aja yang geraknya kecepatan.


"Udah kan?"


Aku mengangguk mengiyakan lalu meminum air putih yang ada di samping piring ku. "Ya udah ayo jalan."


Nata pergi ke luar duluan sambil menenteng tasnya. Setelah menaruh piring kotor ke pencucian dan memastikan semua jendela dan pintu belakang terkunci aku menyusul Nata ke depan.


Setelah aku mengunci pintu aku dan Nata berangkat sekolah menggunakan motornya.


***


Kring... kring...


Akhirnya bel jam istirahat berbunyi. Sendari tadi aku dan Nia menahan kebosan kami saat jam pelajaran ini di mulai. Sebenarnya dari semua pelajaran, pelajaran ini yang paling ku suka, matematika. Matematika mengingatkan ku tentang Nata apalagi dengan penjelasan Nata yang mudah di pahami sangat jauh berbeda sekali dengan Bu Dita guru matematika kami selain penjelasan yang susah untuk di pahami pembawaan Bu Dita saat menjelaskan pelajaran membuat kami mati kebosanan.


Syukurlah sekarang sudah jam istirahat yang membebaskan kami dari kebosanan dan ngantuknya pelajaran ini.


"Ke kantin kuy! Otak gue perlu asupan nih."


"Iya... bentar." Kataku saat merapikan buku-buku ku.


Setelah selesai kami berjalan ke luar kelas lalu menuju ke kantin. "Lo balikan ya sama kakak kelas itu."


"Nata maksud kamu." Nia mengangguk mengiyakan. "Enggak kok, kami kan emang gak pernah putus."


"Yang benar lo, soalnya udah beredar gosip kalo lo udah putus dengan kak Nata. Ya gue kira benar apalagi gue lihat lo gak keliatan dekat dengan kak Nata beberapa hari ini."


"Oh itu... aku lagi berantem sama dia." Nia melihatku seakan tak percaya.


"Lo bisa marah juga ya ternyata." Gumam Nia pelan.


Aku hanya tertawa mendengarnya, tawaku langsung berhenti saat melihat pemandangan di depan ku.


"Kenapa berhenti?" Tanya Nia mengikuti aku berhenti. Nia melihat ke arah yang ku lihat. "Sepertinya kita datang di saat yang salah." Katanya pelan saat melirik reaksi ku.


*****Maaf banget baru bisa up sekarang, dan untuk minggu-minggu ini aku gak bisa up tiap hari tapi akan ku usahakan bakal up sekali atau dua kali seminggu karena aku ada kesibukan yang gak bisa aku tinggalkan.


Dan terimakasih banget atas Like, Comments, dan para pembaca yang udah mampir ke novel ini dan terimakasih buat kalian yang masih menunggu kelanjutan dari novel ini.


Sekali lagi terimakasih atas dukungannya****^-^