
"Gue Lia, Gue mau minta tolong sama lo. Bisa lo putus sama Nata." Mintanya langsung tanpa ada hambatan.
Aku hanya tertawa kaku untuk menanggapi permintaannya. "Gak bisa," jawabku tegas setelah menghentikan tawaku.
Aku juga maunya gak ada hubungan dengan Nata, tapi mau gimana lagi status kami ini cuma sandiwara aku gak bisa mutusin dia, yang bisa mengambil keputusan cuma Nata. Kalo dia mau aku putus dengan Nata harusnya dia bilangnya ke Nata bukan aku.
"Gue tau, gue gak berhak buat minta ini ke lo. Tapi gue mohon kasih gue kesempatan sekali ini aja buat dekat dengan dia," pintanya sekali lagi.
Aku bingung harus bagaimana, tujuan dari aku jadi pacar Nata adalah buat cewek-cewek yang suka dengannya menjauh, aku cuma tameng untuknya.
"Aku minta maaf, aku benar-benar gak bisa, mending kamu mencari cowok yang memang suka dengan tulus ke kamu, dari. pada kamu harus memperjuangkan cowok yang gak suka sama kamu," jelasku. Maua bagaimana lagi ini lah tugasku, buat semua cewek yang suka dengan Nata menjauh darinya.
"Tapi lo gak ngerti, gue udah suka dengan Nata jauh dari lo. Gue udah cinta Nata udah empat tahun lamanya dan itu bukan waktu yang sebentar buat gue melupakan dia. Banyak hal yang udah gue lakukan buat dia, Nata cinta pertama gue dan gue juga cinta pertama Nata," jelasnya. Aku hanya mendengarkan apa yang dia katakan, aku bingung mau menanggapinya bagaimana.
"Kami saling mencintai tapi dia lagi marah aja sama gue, ada kesalah pahaman di antara kami. Ini semua karena sahabat, bukan dia bahkan gak pantas di bilang sahabat. Dia yang mengubah Nata jadi benci gue sampai-sampai gue sendiri gak tau kesalahan gue apa, sekarang dia ninggalin Nata gitu aja buat cowok lain. Akibat dari perbuatannya itu malah mengubah Nata, Nata yang dulu gak kaya sekarang dia baik, ramah tapi sekarang seperti yang lo liat, Nata udah berubah total dia bahkan pernah mukul gue karena belain cewek penghianat itu. Gue mohon, tolong kasih gue kesempatan buat hubungan gue sama Nata," jelasnya sambil terisak di depan ku. Aku kasihan dengannya ku lihat dia sangat tulus menyukai Nata.
"Aku gak bisa jawab permintaan kamu sekarang, aku mau memikirkan semuanya dulu," jelasku meminta waktu.
"Gue gak masalah kok kalo Nata pacaran sama lo, tapi kasih gue kesempatan sekali ini aja buat perbaiki hubungan gue dengan Nata. Kalo pun seandainya perasaan Nata udah berubah ke gue, tapi setidaknya gue mau dia kaya yang dulu, gak kasar dan benci lagi sama gue," jelasnya masih berlinang air mata. Sepertinya aku harus bicarakan soal ini ke Nata, aku gak mau lihat Lia tersakiti terus.
***
Sekolah sudah sepi karena memang sudah jam pulang sekolah. Aku duduk di kursi selasar kelas XI dengan gelisah. bagaimana pun juga menunggu membuatku merasa bosan seperti cacing kepanasan yang tak bisa diam.
Ada yang ingin aku bicarakan dengan Nata yang menurut ku sangat penting untuk dibicarakan oleh karena itu aku sengaja tetap bertahan disekolah dan harus menunggu Nata yang memang masih belum keluar dari kelas entah apa yang dilakukan Nata dkk hingga masih belum keluar dari kelas.
"Nata aku mau ngomong sama kamu," kataku saat melihat Nata keluar dari kelas, seakan mengerti kalau aku dan Nata perlu privasi sahabat-sahabat Nata pergi terlebih dahulu setelah berpamitan dengan Nata.
Nata tak bicara sepatah katapun dia hanya menatapku dengan tatapan yang seakan mengatakan lo mau ngomong apa ke gue.
"Jadi lo cuma mau ngomong hal gak penting ini?" Nata memutar bola mata seakan jengah harus mendengar nama Lia. "Gak penting banget," katanya lalu hendak pergi.
"Kamu bilang gak penting? Kamu itu sebenarnya cowok atau banci!" Nata berbalik lalu menatapku tak terima dikatain banci.
"Lo itu sebenarnya mau apa huh! Lo berani ngelawan gue? Lo itu gak berhak ngurusin hidup gue. Terserah gue mau apa! Gue mau kasar kek mau lembut kek itu terserah gue dan gak ada urusannya dengan lo."
Sebenarnya apa yang dikatakan Nata ada benar juga gak seharusnya aku ikut campur dalam masalah Nata dengan Lia tapi ingat saat Lia menceritakan perjuangan dia buat Nata sampai dihianati oleh sahabatnya sendiri, Nata yang mulai menjauh dari dia, sampai Nata yang mulai kasar ke dia dan bahkan Lia pernah dipukul oleh Nata.
Aku salut apa yang dilakukan Lia sampai segitu nya memperjuangkan cinta dia dan harus bertahan menghadapi Nata yang kasar dan juga arogan.
"Lia udah suka eh bukan lebih tepatnya cinta sama kamu selama empat tahun ini gak bisa apa kamu hargain dia. Sedikit aja, kalo emang lo gak bisa balas perasaan dia setidaknya jangan kasar sama dia," jelasku agar dia gak kasar sama Lia lagi, jujur aku kasihan sama Lia yang harus jatuh cinta sama cowok kayak Nata yang menurutku gak layak untuk diperjuangin.
"Lo gak tau apa-apa jadi gak usah ikut campur, ini urusan gue sama Lia lo gak perlu ambil bagian dalam masalah ini, ngerti!" Katanya lalu pergi.
"Tapi kamu kenapa lebih milih sahabatnya huh!" Teriakku. Dapat kulihat dia berhenti beberapa langkah didepanku. "Cewek yang gak pantas untuk disebut sahabat, cewek busuk yang ngakunya sahabat dan malah nusuk sahabat sendiri dan bahkan cewek itu jugakan yang ninggalin lo."
Rahang Nata mengeras menunjukkan bahwa sekarang dia lagi menahan emosinya. Nata berjalan cepat ke arahku dan langsung mencengkeram rahangku keras.
Sial! Rasanya rahangku mau patah karena saking kerasnya Nata mencengkeramnya.
"Lo!" Katanya sembari mengangkat rahangku sehingga matanya bisa menatap mataku. "Kalo sampai gue denger lo ngejelekin cewek gue lagi, gue bunuh lo!"
Setelah itu dia pergi meninggalkan aku yang masih shock atas apa yang dia lakukan tadi. Emang seberharga itukah cewek itu buat Nata. Aku gak habis pikir kok bisa Lia cinta sama orang gila semacam Nata.
***