
Aku dan Nia berjalan di koridor kelas, tujuan utama kami sudah pasti kanti sekolah. Saat kami berada di koridor kelas XI disana sudah sepi hanya segelintir siswa yang ada di kelas mungkin yang lainnya ada di kanti atau di lapangan.
Aku dan Nia terus berbicara sepanjang jalan, entah apa yang kami bicarakan hanya untuk menghilangkan kebosanan kami. Langkah kami terhenti saat kakak kelas XI menghalangi jalan untuk kami lewat. Disana ada Lia dan Dinda anak baru itu dan juga beberapa teman Lia yang entah siapa namanya.
"Jadi lo yang namanya Anin?" Dinda bertanya seakan ada permusuhan di antara kami. Dinda yang sekarang sangat berbeda dengan Dinda yang pertama kali ku temui dia baik sebelumya dan bahkan sempat membantu ku. Dan sekarang hanya karena dia tau aku Anin pacar Nata, dia tiba-tiba berbalik membenci ku. Apakah semudah itu seseorang berubah.
Baru kemarin aku berbaikan dengan Nata sekarang sudah ada saja masalah baru yang muncul. Bagaimana cara ku untuk mengatasinya kali ini.
Dinda melangkah maju beberapa langkah hingga dia tepat ada di depan ku, Dinda menyilangkan tangannya didepan dada dan menatap ku dengan pandangan menilai. Aku merasa risih saat dia menatapku seperti itu.
"Menjauh darinya, Menjauh dari Nata dan putusin dia." aku merasa dejavu, bukankah hal ini juga pernah diminta oleh Lia. Kenapa cewek yang suka dengan Nata selalu meminta ku untuk menjauh dari Nata sedang mereka sendiri ingin dekat dengan Nata. Apa menurut mereka aku tak pantas untuk Nata? Siapa mereka hingga memiliki pemikiran seperti itu, mereka tak memiliki hak untuk menentukan siapa saja yang dekatnya atau jadi pacar Nata, hanya Nata yang berhak untuk memutuskan semua itu.
"Aku gak mau! lebih tepatnya aku gak bisa. Lagian kalian juga gak ada hak buat menjauh apalagi buat mutusin dia."
Tiba-tiba Dinda tertawa menghina ku, dia kenapa? Emang ada yang salah dari ucapan ku.
"Lo bilang gue gak ada hak, hehehe... lo salah besar! Gue Dinda Akila calon tunangan Nata dan lo bilang gue gak ada hak? lo salah besar Anin, gue punya hak penuh akan itu. Gue berhak menyingkirkan cewek-cewek yang menghalangi gue apalagi yang cewek yang jadi ancaman dari pertunangan gue."
Tunangan? Dinda dan Nata mereka tunangan. Enggak ini pasti bohong baru kemarin Nata bilang kalo aku miliknya dan dia juga milik aku. Ini pasti ada yang salah, Nata gak mungkinkah bohongin aku. Aku harus tanya kebenarannya dulu ke Nata, aku gak boleh buat keputusan secara gegabah. Aku gak mau kejadian ini sana seperti saat aku percaya kata-kata Lia dulu.
"Oh kamu tunangannya Nata, kalo gitu selamat." kata ku dengan senyuman yang seakan semuanya baik-bain saja tapi sangat berbanding terbalik dengan kondisi hati ku, rasanya hati ku sakit saat mengatakannya.
"Oh ya! kalo kamu mau aku putus sama Nata, kamu salah menanyakanya semua itu pada ku harusnya kamu tanyakan ke Nata. Dia yang memutuskan semuanya, aku bahkan pernah meminta dia untuk memutuskan hubungan kami tapi dia selalu menolaknya jadi tanyakan saja semuanya pada Nata dan tak perlu untuk meminta pendapat ku." Aku memang sengaja mengatakannya agar dia tambah marah padaku dan juga agar mereka tau bahwa Nata lah yang memilih ku bukan sebaliknya.
"Lo!_" Dinda ingin maju memukul ku tapi tangannya ditahan tangan seseorang. Arya dan Candra dua sahabat Nata yang selalu bersamanya sekarang berdiri di tengah-tengah antara aku dan Dinda. Tangan Candra yang masih menahan tangan Dinda agar Dinda tak bisa bergerak.
"Lo apaan sih Din, kelakuan lo ini yang bakal buat Nata marah sama lo." Ucap Candra memperingati.
"Kenapa jadi gue yang salah, lo harus belaian gue. Ndra lo kalo gak tau apa-apa gak usah ikut campur deh."
"Mending lo pergi aja deh." Kata Arya menambahkan. Dinda dengan wajah yang terlihat tak suka dia pergi bersama kelompoknya. Dia bahkan sempat menatapku dengan tatapan tajam seakan ada permusuhan besar di antara kami.
"Terimakasih." Kata ku pada meteka berdua saat kelompom Dinda tak terlihat lagi.
"Iya sama-sama." Jawab mereka berbarengan. Candra dan Arya saling tatap seakan memberikan kode kepada satu sama lain yang hanya di ketahui oleh mereka.
"Nia lo mau ke kanti?" Candra tiba-tiba bertanya kepada Nia. Mungkin karena shock ditanya sama doi Nia hanya menjawab dengan anggukan kecil. Nia pernah bercerita kepada ku bahwa dia sudah suka dengan Candra sejak dia masih SMP dulu yang kebetulan satu sekolah dengan Candra. Nia ingin akrab dengan Candra tapi karena berbeda angkatan yang mana Candra lebih tua satu tahun diatasnya membuat Nia canggung untuk mendekatinya. Pasti sekarang Nia senang banget.
"Kebetulan gue juga mau ke kantin, ya udah kalo gitu kita bareng aja." Ku lohat wajah Nia memerah saat tangan Candra menggenggam tangannya. Dan saat Candra menariknya untuk berjalan bersama pun Nia tak protes.
Lah kok aku malah di tinggal, aku ingin mengikuti Nia dan Candra yang sudah jalan duluan tapi tangan ku ditahan oleh Arya. Aku menoleh ke arahnya lalu menatapnya dengan tatapan bertanya.
"Ada yang perlu gue omongin sama lo, mumpung Nata gak sekolah hari ini. Ada satu hal yang mau gue minta sama lo, ini berkaitan dengan Nata."
Pantas saja Nata tak terlihat dari pagi tadi ternyata dia gak sekolah. Arya mau ngomongin masalah apa tentang Nata.
***
Hai semuanya aku mau promosi cerita baru aku, judulnya Disgusting Man.
Buat kalian yang penasaran bisa langsung baca aja ya.
Oh ya jangan lupa Like and comments juga biar aku jadi semangat dan juga jadi motivasi aku buat nulisnya
Yang udah baca, like, dan comments terima kasih semuanya^-^