My Memory

My Memory
Taruhan



Aku sangat senang karena kemarin Nata memuji ku, nilai yang kudapat memang sangat memuaskan maka dari itu aku bertekad aku akan berubah menjadi Anin yang rajin belajar, sehingga aku dapat mempertahankan nilaiku.


Untuk memulai semua itu aku akan rajin membaca buku pelajaran, maka dari itu aku akan meminjam buku sejarah dan buku lainnya untuk tambahan buku belajarku.


Saat ini aku berada di perpus. Aku ingin meminjam beberapa buku sejarah dan lainnya, tapi saat memikirkan akan betapa bosannya aku saat hanya membaca buku pelajaran aku jadi ingin meminjam beberapa  koleksi novel yang ada disini.


Sangat mudah mendapatkan buku yang ku cari karena buku yang ada disini sudah susunan sesuai dengan mata pelajaran.


Dua buku pelajaran yang ku inginkan sudah kudapat tinggal mencari novel yang akan ku pinjam. Rak khusus untuk Novel memang sengaja ditaruh dipojok. Akupun berjalan kesana saat tepat berada didepan rak akupun memilih novel yang akan ku pinjam.


Aku melihat beberapa judul novel dan membaca sinopsisnya seperti itu terus berulang ulang. Aku berhenti memilih novel saat aku mendengar suara seseorang.


"Lo jauhi Anin!" Itu suara kak Dante dan kenapa namaku disebut? Siapa yang sedang berbicara dengannya. "Kalau gue bilang gak mau gimana."


Deg.


Bukankah itu suara Nata, ada masalah apa dia dengan kak Dante hingga kak Dante  meminta Nata untuk menjauh dariku.


"Lo gak pantes buat Anin! Lo cuma memanfaatkannya dan jangan lo pikir gue gak tau lo cuma anggap Anin sebagai budak lo, upik abu lo ya kan. Cowok macam apa lo yang cuma bisanya ngebully orang terutama cewek kaya Anin."


Aku akui apa yang dikatakan kak Dante itu benar, aku cuma budaknya Nata, pesuruhnya, dan upik abunya, tapi Nata tak begitu buruk kok terhadap ku walaupun waktu awal aku kenal dia, Nata sangat kasar pada ku tapi setelah itu dia baik padaku. Saat mendengar kak Dante menyuruh Nata untuk menjauh dariku ada perasaan tak rela, aku tak suka kenapa kak Dante harus ikut campur dalam masalahku dan Nata.


Ada perasaan aku ingin terus bersama Nata, aku suka padanya. Anggaplah aku bodoh karena tak seharusnya aku suka padanya dan seharusnya aku menjauh dari Nata saat ada kesempatan. Tapi, jangankan menjauh aku malah ingin semakin dekat dengannya.


"Kalau gue gak pantes buat Anin terus siapa yang pantes? Lo? Perlu lo ingat gimana pun sikap gue ke Anin dia itu cewek gue, pacar gue bukan pacar lo jadi terserah gue dong mau melakukan apa aja."


Aku tetap diam mendengarkan pembicaraan mereka ada perasaan senang saat Nata mengakui ku sebagai pacarnya.


"Bukan karena dia cewek lo jadi lo bisa semena-mena dengan dia, lo tetap gak berubah masih sama kaya dulu. Lo bertindak semau lo tanpa memikirkan orang lain yang disekitar lo dan sekarang bahkan sikap lo lebih parah dari yang dulu."


"Hehe ... terus kenapa? Lo mau apa? Oke gini aja kita taruhan, siapapun dari kita yang buat Anin jatuh cinta dia pemenangnya."


Taruhan macam apa itu, kenapa jadi aku juga ikut terbawa.


"Oke gue setujui, kalau gue menang lo harus menjauh dari Anin dan kalau gue yang kalah terserah lo mau minta apa."


Ku pikir kak Dante tak akan menerima tawaran Nata tapi ternyata mereka sama saja, mereka sama-sama gila. Apa mereka tidak berpikir kalau aku juga mempunyai perasaan aku bukan barang yang tidak memiliki perasaan sehingga dengan mudahnya mereka permainkan, kenapa mereka tega melakukan itu semua.


"Penawaran yang menarik. Kalau gue kalah gue akan menjauh dari Anin dan lo bisa dapetin dia tapi kalau gue menang_"


Aku tak sanggup lagi mendengar percakapan mereka mungkin kalau itu orang lain aku akan tahan tapi ini Nata. Entah kenapa rasanya sakit, sakit saat mendengar Nata akan menjauhi ku hanya karena taruhan ini.


Aku bergegas pergi dari perpus, aku hampir tak bisa menahan air mataku saat meminjam buku tadi. Aku berlari dan terus berlari entah kemana tujuan ku yang ku inginkan hanya mencari tempat sepi dan tenang untuk ku sendiri.


Akhirnya aku berhenti di belakang sekolah tidak ada siswa selain aku di sini. Aku terduduk dan membenamkan wajahku ke lutut. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku berteriak, terisak mengeluarkan rasa frustasi ku. Banyak pertanyan terus terpikir di kepalaku kenapa mereka tega melakukan ini, apa salahku?


Entah berapa lama aku menangis disini, ku mencoba untuk tenang dan berhenti menangis. Kamu harus kuat Anin, ingat tujuan utama kami sekolah bukan buat jadi mainan mereka tapi buat membanggakan tante yang udah merawat kamu pikirku menguatkan.


Aku tak ingin ketahuan Nia habis menangis jadi kuputuskan pergi ke ruang loker ku dulu. Saat ku buka loker ku untuk menaruh buku yang ku pinjam terdapat surat di sana. Apa itu dari R lagi? Perlahan ku buka surat misterius itu.


'Kila apa kau tau hal yang paling ku benci salah satunya adalah air matamu jadi ku mohon berhentilah menangis, jadilah Kila yang ceria karena saat melihat senyumanmu adalah hal terindah yang pernah aku lihat di dunia ini, seperti dulu peri kecil payung merah ku ^-^


Salam R'


Dia lagi tapi siapa, apa dia mengawasi ku? Apakah dia ada di saatku menangis tadi? Aku tak tau siapa kamu R tapi terimakasih karena mau menghibur ku.


***