My Memory

My Memory
Lo Milik Gue



"Tante kapan pulang sih?" Tanyaku rindu saat berteleponan dengan tante.


"Kenapa? Kangen ya."


Ku selonjorkan kakiku di atas kasur dengan santai. "Iya dong tante, aku sendirian di rumah."


"Baru juga tiga hari, tante kan pulang dua hari lagi."


"Yah kok lama banget." Ku dengar kekehan tante di seberang telpon sana.


"Udah gak usah ngeluh, kamu udah makan belum?" Aku langsung menggeleng kepala saat sadar tante tak dapat melihatku ku jawab. "Belum tante."


"Loh kamu ini... makan sana! Kalo gak mau masak ya delivery aja." Ku dengar percakapan di seberang sana, sepertinya tante sedang sibuk. "Anin tante tutup dulu telponnya, jangan sampai lupa makan ya."


"Iya tante."


Setelah sambungan telepon berakhir aku pergi ke dapur untuk memasak makan malam. Salah satu hal yang paling aku tak suka adalah makan sendiri karena pada saat itu aku sering merasa bahwa aku tak mempunyai siapa-siapa, hanya hidup sendirian di temani oleh kesepian.


Aku berjalan ke ruang keluarga dengan kedua tanganku membawa pikir makanan dan minuman ku.


Aku duduk di sofa santai sambil menikmati makanan yang telah ku buat karena keheningan yang mencekam ku nyalakan televisi untuk memecahkan keheningan walaupun aku tak menonton acara tv apa yang sedang tayang setidaknya itu menemani ku selagi aku menghabiskan makanan ku.


Krek


Ditengah aku menikmati makanan ku terdengar suara pelan pintu yang sedang dibuka. Tubuhku kaku tak berani bergerak, aku takut sesuatu yang sedang ku pikirkan menjadi kenyataan. Jangan bilang rumah ini ada hantunya.


Ku panjatkan doa-doa untuk meminta perlindungan kepada tuhan untuk terjaga dari hantu ini. Ku baca ayat-ayat yang berfungsi mengusir setan. Hantu itu gak dapat di lihat apalagi menyentuh jadi gak perlu takut tekadku dalam hati.


Tubuhku kembali kaku dan jantung berdetak lebih kencang karena takut saat sepasang tangan merayap di sekitar bahuku lalu melingkari dengan sempurna di bahuku. Ingin aku teriak tapi tak bisa karena saking takutnya. Tante cepat datang, tolong Anin.


"Sayang." Bisikan pelan di telinga sebelah kiriku. Gak mau! Aku gak mau disayang sama hantu.


"Segitu takutnya lo sama gue sampai gemetar gitu."


Suara ini, bukannya suara Nata. Ku toleh ke belakang untuk memastikan ternyata benar Nata yang sedang memeluk bahuku dari belakang. Kenapa Nata bisa masuk ke rumah seingat ku, aku sudah mengunci setiap pintu dan jendela.


"Kamu! Kok bisa masuk? dari mana?" Tanyaku penasaran.


Tanpa menaggapi pertanyan ku Nata duduk di sebelah ku. Nata menatapku entah apa yang sedang dia pikirkan.


"Lo berani gak balas chat gue, gak ngangkat telpon gue, dan di sekolah lo sembunyikan entah dimana." Nata berkata dengan tenang, tapi ketenangannya itu malah membuatku takut padanya di tambah Nata yang sedang menyeringai menakutkan seperti itu. "Lo mau mati ya!"


"Aku gak mau mati! Tapi aku juga gak mau berhubungan lagi sama kamu. Aku gak mau kenal kamu, aku mau kamu pergi jauh-jauh dari hidup ku."


Aku beranikan diri untuk mengatakan semuanya, aku tak mau selalu di tindas atau di ancam Nata terus. Aku ingin bebas, bebas dari semuanya dari rasa takut ku, dari Nata, dan dari semua hal yang berkaitan dengannya.


"Lo udah mulai berani ya!" Katanya geram lalu mencengkeram rahangku dengan kuat. Aku harus berani melawan Nata sekarang kalo gak untuk seterusnya aku pasti akan di tindas terus olehnya. Aku gak tau kapan aku berani untuk melawan Nata lagi.


"Ya! Kalo aku berani kenapa?" Tantangku, Nata terlihat tambah geram melihat tingkahku.


"Lo_"


"Kenapa? Kamu bukan siapa-siapa aku, apa hak kamu buat merintah-merintah aku atau bahkan buat ngancam aku. Kamu gak ada hak Nata, gak ada!" Kataku terus berontak dari cengkeraman Nata.


Nata menghempaskan tubuh ku hingga tiduran di sofa, Nata terus manahan bahu dan tubuhku hingga tak dapat berontak.


"Bukan siapa-siapa?" Tanyanya pelan lalu tertawa tak jelas. Nata ini kenapa? Jangan bilang kalo Nata punya gangguan jiwa.


"Hehehe... lo itu pacar gue, milik gue. Dan lo gak berhak buat mutusin semuanya tanpa sepersetujuan gue. Ngerti!"


"Gak! Aku gak ngerti. Kamu bukan pacar aku dan aku bukan milik kamu. Kamu gak ada hak buat mutusin apapun dalam hidup aku karena kamu bukan siapa-siapa aku. Ngerti!"


Bukannya marah Nata malah tersenyum lebar. Kenapa aku merasa sesuatu yang buruk akan terjadi saat melihat senyumannya itu. Nata mendekatkan kepalanya lalu berbisik di telingaku. "Lo mau bukti kalo itu milik gue?"


Apa maksudnya? Nata mau melakukan apa? Ku rasakan tangan Nata yang ada di bahuku turun ke bawah lalu berhenti di perutku. Nata mengusap-usap perutku dengan lembut. Tubuhku kaku, jantung ku berdetak lebih cepat merespon sentuhannya.


"Gue bisa buat Anin kecil ada di dalam sini." Bisiknya lagi padaku tanpa menghentikan elusannya pada perutku.


Nata gak akan segila inikan. Ini pasti cuma ancaman lainnya, Nata pasti gak akan berani untuk senekat itu.


"Gue rasa lo pasti udah siap kan sayang." Katanya lembut di telingaku.


"Kamu_"


Nata mulai menciumku dengan lembut. Menekan tubuhnya pada tubuhku. Gak! Ini pasti bercanda.


**Jangan lupa tinggalkan jejak berupa Like and comments ^-^


Buat kalian yang gak mau ketinggalan bisa masukan novel ini ke daftar favorit kalian.


Terimakasih**^-^