My Memory

My Memory
Tidur Bareng



Nata terus mencium bibirku. Melumat, menjilat dan menggigit pelan bibirku. Aku tak bisa bernapas ku rasakan pasokan oksigen di dalam paru-paru ku mulai menipis. Aku terus berontak untuk melepaskan diri dari Nata.


Saat ada kesempatan ku dorong Nata dengan kuat hingga melepaskan tautan bibir kami. Napas ku memburu, ku tarik napas perlahan untuk menstabilkan napas ku.


Aku bahkan belum sempat menyadarkan diri tentang apa yang sedang terjadi. Nata kembali mencium ku lagi, melanjutkan ciumannya bahkan lebih panas. Nata tak memberikan ku kesempatan untuk menolaknya.


Ciuman Nata turun ke bawah ke leher jenjang ku. Ku tahan napas ku saat merasakan kecupan, jilatan dan hisapan Nata di sana. Aku merasakan gelenjar aneh dalam perut ku lalu menyebar ke seluruh tubuh ku. Otak ku langsung blank. Ini gila! Aku tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Semuanya terasa asing bagiku.


"Nat." Geram ku terus mendorongnya namun tetap gagal.


"Lo milik gue." Bisik Nata di telinga ku dibarengi dengan hembusan napas Nata yang membuatku merinding.


"Aku gak mau." Kata ku terus mendorongnya lagi. Nata tak menghiraukan ku dia terus menekan ku dan kembali membenamkan kepalanya di leherku lalu memulai aksinya lagi.


Aku melenguh pelan saat kurasakan tangan Nata meremas lembut payudara ku dan Nata terus memeberikan rangsangan kepada ku. Gak mau! Aku gak mau seperti ini. Otak ku terus berdebat saat respon tubuh dan pikiranku bertolak belakang.


Kepalaku terus menggeleng dengan keras untuk memulihkan pikiranku agar tak terbawa hasrat yang menyesatkan. "Nat please... aku mohon berhenti!"


Nata mengangkat kepalanya untuk melihat ku. Ku lihat wajah Nata sudah dipenuhi oleh kabut gairah.


"Please... aku mohon." Kata ku dengan suara serak, entah sejak kapan aku mulai menangis. Baru kali ini aku merasakan sangat takut padanya.


"Bukannya lo yang mau bukti." Katanya lembut dan tanganya dengan lembut menghapus air mataku.


"Gak! Aku gak perlu bukti." Kataku cepat takut Nata akan berbuat nekat kembali.


Nata kembali menunduk mengecup kening ku lama lalu bangkit dari atas tubuhku dan duduk bersila di sampingku, Aku juga ikut duduk di sampingnya. Ku lihat dia menghembus nafas kasar karena kesal.


Tanpa permisi Nata melahap makan malam ku walaupun aku baru memakannya sedikit setidaknya itu lebih baik dari pada Nata memakan ku. Nata terus makan dan sesekali menatapku dengan kesal.


"Kamu mau minum?"


"Hmm." Responnya saat menonton televisi sambil memakan makanannya.


Aku berjalan ke dapur untuk membuat minuman untuknya. Sebenarnya aku masih lapar dan untuk memasak makanan kembali aku terlalu malas. Ku cari sesuatu yang bisa dimakan di dapur, ku temukan hanya beberapa snack dan roti. Ya sudahlah dari pada tidak sama sekali.


Ku bawa minuman Nata dan beberapa snack dan roti untuk mengganjal perut ku ke ruang keluarga. Ku lihat Nata masih memakan makanannya.


Aku duduk di sebelahnya memberikan minuman yang ku buat lalu menikmati roti yang ku bawa dan mulai menonton acara tv yang ditonton Nata.


Lama kami diam menikmati makanan masing-masing sampai Nata telah selesai memakan makanan malam ku lalu ikut memakan snack yang ku bawa. Sempat beberapa kali ku lirik Nata untuk melihat kapan dia akan pulang karena jujur saja ini sudah hampir larut malam dan dia masih dengan santai duduk di sofa dan memakan snack yang ku bawa sambil menonton acara tv.


Dia menoleh menghadapku. "Kenapa? Lo ngusir gue."


"Enggak... aku cuma nanya aja."


Nata mengangguk kecil lalu tersenyum lebar kepadaku. "Baguslah, gue nginap disini malam ini."


Nginap? Gak! Kalo Nata nginap di sini aku gak akan aman. Yang ada apa yang Nata lakukan tadi terulang lagi.


"Tapi Nat... kita anu, kalo tetangga pada tau kamu nginap disini nanti yang ada malah gawat Nat." Kataku memberikan alasan agar Nata tak menginap di rumahku. Sebenarnya ini juga bukan hanya alasan kalo seandainya tetangga tau Nata nginap disini di tambah lagi tente lagi gak ada di rumah yang ada nanti tetangga mikir negatif lagi tentang kami. Aku gak mau bikin malu tante.


"Tetangga lo gak bakal tau. Jadi lo diam aja dan gue bakal tetap nginap disini malam ini titik." Katanya keras kepala.


Nata melirik jam yang ada di dinding lalu melihatku dengan senyumannya. "Lo benar, ini udah malam banget lo pasti udah ngantuk bangetkan sayang. Ayo kita ke kamar."


Ayo ke kamar katanya, jangan bilang dia mau tidur satu kamar dengan ku. Gak! Aku gak mau.


"Hehehe... kalo gitu kamu tidurnya di kamar aku aja dan aku nanti tidur di kamar tente." Kataku menjelaskan lalu hendak pergi ke kamar tante.


Belum sempat aku pergi ku rasakan tangan seseorang yang sedang melingkar di perutku dengan sempurna. Ku rasakan hembusan nafas Nata lalu dia berbisik padaku. "Kata siapa lo boleh pergi, malam ini lo tidur bareng gue. Kita bakal satu kamar... eh gak deh lebih tepatnya satu kasur kan sayang."


Belum sempat aku protes atas apa yang dia katakan, Nata sudah menyeret ku kamar ku lalu menghempaskan tubuh ku ke kasur di barengi dengannya yang ikut tidur di sampingku.


Ku rasakan tangan Nata yang memeluk pinggang ku di sertai kakinya yang menindih ku.


Cup


Nata mengecup lembut pipi ku lalu berkata "good night honey."


Gimana bisa tidur dengan Nata yang ada disamping ku, yang ada aku malah terjaga malam ini karena merasa was-was padanya. Ditambah lagi dengan tangan dan kaki Nata yang menjerat ku bagaikan gurita.


***


Keep Reading Gusy ^-^


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


Terimakasih