My Memory

My Memory
Dante Antonio



"Permisi kak, kak Dante nya ada?" Tanyaku ke kakak kelas yang baru saja ke luar dari kelasnya. "Tunggu sebentar."


Tak lama kemudian kakak kelas yang kuminta tolong untuk memanggil kak Dante keluar bersama dengan laki-laki. Apa dia yang namanya kak Dante.


"Nindya," panggilnya. Kak Dante tau namaku seingatku aku tak sepopuler itu hingga dikenal banyak orang. "Iya kak, tapi aku lebih suka dipanggil Anin."


"Ada perlu apa?" Tanyanya to the point maksud aku mencarinya. "Gini kak aku mau minjam kunci ruang eskul tata busana."


"Sudah izin dengan ketua eskul tata busana?" Tanyanya lagi. Aku bingung mau menjawab apa soalnya aku gak tau kak Cahaya ngebolehin aku minjam ruang eskul atau gak.


"Udah kok kak," kata Nia yang tiba-tiba sudah berada dibelakang ku. Setelah mendengar apa yang dikatakan Nia kak Dante masuk ke kelasnya sepertinya mau mengambil kunci ruang eskul tata busana.


"Sorry Nin gue gak bisa nemenin lo ke ruang tata busana gue mau ngerjain tugas kelompok dulu, lo tau sendiri kelompok gue masih belum ngerjain makalahnya padahal sudah harus dikumpulkan besok, jadi sorry ya... kalau udah selesai gue pasti bakalan nyusul ke sana kok."


"Iya gak papa kok," responku gak mungkinkan aku nahan Nia buat nemeni aku sedang kelompoknya juga memerlukan dia. "Oke kalau gitu gue ke kelas dulu," katanya lalu pergi.


"Nih kuncinya," kata kak Dante yang baru aja keluar dari kelas. "Teman lo mana? Lo kesana sendirian gue kira bareng sama teman lo barusan."


"Hmm," responku lalu ingin pergi karena tak banyak waktu yang tersisa untukku. "Kalau gitu biar gue temani aja, gak papa kan?" Tanyanya, aku hanya mengangguk untuk membolehkan Kak Dante ikut denganku.


***


Syukurlah ternyata disini ada setrika jadi aku bisa menyetrika baju Nata. Mungkin 6 sampai 7 menit baju Nata sudah rapiku setrika.


"Nindy_ bukan maksud gue Anin. Bukannya itu baju cowok?" Tanyanya bingung karena baju yang kusetrika adalah baju cowok. "Iya, ini memang baju cowok," jawabku sambil terus menyetrika baju Nata.


Tak begitu lama baju Nata akhirnya rapi sudah karena ku setrika. Apa sebaiknya aku langsung ke rooftop aja lagian sebentar lagi sudah istirahat kedua dari pada aku  dihukum Nata karena telat.


"Sudah selesai?" Tanya kak Dante saat aku sedang melipat baju Nata. "Iya sudah kak," jawabku lalu kami pergi keluar ruangan tata busana.


Saat kami sudah diluar kak Dante langsung mengunci pintu ruang tata busana karena bingung mau ngapain aku akhirnya nunggu kaka Dante saja karena gak mungkin aku langsung pergi gitu aja padahal aku yang minjam ruang ini.


Tiba-tiba ada sepasang tangan yang memelukku dari belakang.


"Nata," panggil kak Dante. Jadi yang seenaknya meluk aku itu si tukang suruh dan pemaksa A.K.A Nata. "Kamu ngapain sama dia sayang," katanya lalu menempelkan dagunya ke bahuku. Apa dia bilang tadi sayang entah kenapa rasanya aku ingin muntah mendengar dia memanggil ku seperti itu.


"Kalian berdua ... " katanya bingung, Nata melepas pelukanya lalu beralih menjadi merangkul bahuku. "Anin itu pacar gue, ya kan sayang?" jelasnya. Kenapa aku harus jadi pacar bohong dia di depan kak Dante bukannya aku cuma jadi pacar bohong dia kalau didepan cewek-cewek yang suka dengannya.


"Hmm," jawabku malas meladeni permainannya.


Kak Dante hanya diam tak merespon apa yang dikatakan Nata. Tanpa menunggu jawaban kak Dante Nata merangkul ku lalu membawaku pergi, dia terus merangkul bahuku sampai kami  melewati belokan di dekat tangga Nata langsung melepas rangkulannya.


Nata mendahului ku menaiki  tangga sampai dia berada beberapa tangga diatas ku.


"Lo ngapain bengong disitu? Cepat naik! Dasar lelet!" gerutunya yang masih dapat kudengar. Akupun akhirnya menaiki tangga mengikuti Nata yang ada didepanku.


Saat kami sampai di rooftop sudah ada kedua teman Nata yang sedang duduk-duduk santai disana.


"Lo duduk disini," perintahnya. Dengan malas aku menurutinya duduk di kursi panjang yang ditunjuk Nata tadi. Saat aku duduk Nata juga ikut duduk tapi tak lama kemudian Nata merebahkan badannya dan menaruh kepalanya di pangkuanku tanpa seizin ku. Dia kira aku bantal apa?


"Gue mau tidur," katanya lalu diam sejenak. "Dan lo jadi payung gue supaya gue gak kena sinar matahari," katanya lalu menutup matanya.


"Nat," panggil temannya yang aku sendiri gak tau namanya. "Hmm," respon Nata dengan mata yang masih tertutup.


"Lo yakin mau ikut balapan malam ini?" Tanyanya lagi. Apa yang dia bilang barusan. Balapan? Jadi Nata juga suka balapan ku pikir dia hanya nakal di sekolah tapi ternyata tidak. Karena penasaran Nata tak merespon dari tadi akhirnya aku menunduk melihat wajah Nata yang sedang tidur.


"Lo ngapain ngeliat gue kaya gitu?" Tanyanya saat membuka mata dan langsung bertatapan denganku. "Siapa juga yang ngeliat kamu, dasar kepedean."


Malu itu yang aku rasakan sekarang. Gimana gak malu coba kalau aku ketahuan ngeliat Nata pasti dia bakalan ngira yang macam-macam tentangku.


"Kenapa gak? Lagian gue juga udah ketemu pasangan kok," entah kenapa firasat aku jadi gak enak kaya ada sesuatu yang buruk bakalan terjadi sama aku.


"Lo udah ada pasangan buat balapan, siapa? Jangan bilang kalau itu si Li_"


"Siapa juga yang mau bawa tu ular jadi pasang gue. Yang jadi pasang gue itu pacar gue Anin bukan dia,"  Sial! Padahal aku sudah berharap kalo itu bukan aku.


"Aku gak mau!" Kataku menolak ikut dengan Nata. "Lo harus ikut SAYANG," tekannya di akhir kalimat.


***


Jangan lupa Like and comments ya :-)


Saran dan kritik kalian sangat membantu ku, mohon dukungannya


Tunggu kelanjutannya ^_^