My Memory

My Memory
Bisa Lo Putusin Dia



Semenjak pagi saat aku datang ke sekolah banyak orang-orang bilang kalau aku menjadi cewek paling beruntung di sekolah karena jadi pacarnya Nata.


What the hell! Mereka bilang apa? Beruntung? Ini bukan beruntung tapi musibah. Mereka aja yang gak tau kalau Nata itu aslinya gimana, kalau mereka tau aku yakin fans Nata pasti berkurang drastis.


Seperti hari ini entah dapat berita dari mana mereka -siswi siswi SMA Garuda- mengucapkan selamat padaku tapi tak sedikit juga yang mencibirku tak pantas pacaran dengan Nata, kalau boleh memilih aku tak ingin ada di posisiku sekarang yang katanya beruntung berpacaran dengan Nata mereka tidak tau saja aslinya Nata seperti apa.


Setelah mengenal Nata beberapa minggu ini Nata memang cowok yang menonjol di sekolah tapi bukan karena kenakalannya tapi karena prestasinya. Nata sering mengikuti perlombaan baik di bidang akademik atau pun non akademik dan dengar-dengar dalam waktu dekat ini dia akan mewakili sekolah dalam perlombaan olimpiade matematika tingkat nasional.


Melihat banyaknya presentasi Nata, kadang aku iri padanya bagaimana dia bisa mencapai semua itu.


Jangan mengira Nata sesempurna tokoh utama pria yang ada di novel-novel yang mengatakan kalau dia ganteng bak arjuna, anak dari pengusaha atau anak dari donatur yang paling berpengaruh disekolah, atau anak bad boy yang suka membuly yang tak akan dihukum bahkan dikeluarkan dari sekolah karena orang tuanya yang memiliki kuasa.


Nata hanya cowok beasiswa yang hidup berdua dengan ibunya di apartemen sederhana bahkan aku pernah melihatnya bekerja paruh waktu di mini market dekat rumahku. Walau aku akui dia memang ganteng dan suka buly orang tanpa sepengetahuan pihak sekolah.


Dan yang paling membuatku terkejut adalah aku cewek pertama yang  di buly olehnya dan itu semua aku ketahui dari salah satu sahabatnya Nata yang waktu itu berkelahi dengan Nata karena adanya kesalah pahaman kalau tidak salah namanya Arya Perdana.


Dan kenapa Arya memberi tau ku itu semua karena dia merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu karena Nata yang Arya kenal tidak akan membuly cewek dan apa lagi menurutnya masalahku dengan Nata hanya hal sepele bukan tipikal Nata sekali.


"Anin yuk kita ke kantin," ajak Nia, sekarang sedang jam istirahat pasti banyak siswa yang ke kanti, sedangkan aki ingin menghindari banyak orang. Aku tak ingin mendengar gosip mereka.


"Aku gak ke kanti deh," kataku menolak ajakan Nia. "Oh... gue tau! Lo pasti lagi menghindar dari orang banyakkan, gue tau kok pasti sulit jadi pusat perhatian."


"Jadi lo mau kemana kalo gak ke kantin?" Tanyanya sekali lagi. "Mungkin ke perpus," jawabku.


"Ya udah lo ke perpus aja, nanti gue beliin roti buat ganjel perut lo," aku merasa beruntung punya teman seperti Nia yang bisa memahamiku.


"Hmm, terimakasih ya Nia," kataku. "Santai aja, gue duluan ya," sahutnya lalu pergi ke luar kelas.


Kelas sudah sepi hanya aku sendiri yang masih berada di kelas. Karena merasakan kesunyian yang mencekam aku mulai takut berada di kelas. Lekas ku rapikan buku yang ada di atas meja ku lalu ku ambil kartu perpus ku, setelah itu aku langsung pergi ke perpus.


Aku suka suasana perpus tidak berisik tapi juga tidak terlalu sunyi, yang kurasakan di sini adalah perasaan yaman entah bagaimana aku menjelaskannya aku sendiri pun bingung untuk menjelaskannya bagaimana.


Ku pilih novel yang ada di rak buku, setelah menentukan pilihan ku bawa novel itu ke meja dan mulai membacanya. Lembar pertama, kedua, ketiga aku mulai tenggelam dalam membaca novel yang ku baca. Lama ku membaca novel ku sampai seseorang duduk di seberangku dan memberikan ku susu kotak rasa stroberi.


Aku pun menghentikan bacaan ku dan mengalihkan mataku ke arah depan untuk melihat siapa yang ada di depan ku.


"Minum," katanya singkat. Nata kenapa dia ada di sini. "Kamu kenapa ada di sini?" Tanyaku.


"Biasa, lo bisa lihat sendiri," katanya lalu mulai membaca modul matematika yang di bawanya. Hehehe kok aku merasa bodoh banget ya di depan dia, Nata datang ke perpus buat belajar lah aku sendiri datang ke sini cuma buat baca novel. Sungguh perbedaan yang sangat jauh bagaikan langit dan bumi.


"Kamu suka banget matematika ya?" Tanyaku penasaran. "Gak, gak sama sekali. Orang normal mana yang suka belajar," jelasnya.


"Terus ini apa? Bukannya nilai matematika kamu bagus sampai kamu sekarang terpilih mengikuti olimpiade itu, " Tanyaku lagi.


"Gue gak suka matematika, gue juga gak suka jurusan gue, dan bahkan gue juga gak suka sekolah di sini. Kalo buka karena terpaksa gue juga gak mau melakukan semuanya," jelasnya.


Sebenarnya aku mau tanya lagi, tapi seperti itu bakal gangguan privasinya. Apa Nata terpaksa sekolah disini ya, apa ada kaitannya dengan beasiswa yang dia terima.


"Kenapa bengong? Gak lanjut baca novel lo," katanya. Sekilas dapat kulihat jam dinding yang ada di perpus. Sebentar lagi jam istirahat selesai. "Gak deh, aku langsung ke kelas aja," kataku lalu mulai merapikan novel yang kubaca dan menaruhnya kembali ke rak buku.


"Terimakasih," kataku pelan saat mengambil susu kotak rasa stroberi yang diberikan Nata kepadaku. Sambil meminum susu itu aku keluar dari perpus.


"Anin," panggil seorang cewek cantik menurutku tapi aku masih belum ingat pernah bertemu dengannya kapan. "Lo Anin kan?" Tanyanya memastikan.


"Ya aku Anin kamu siapa?" Tanyaku karena merasa tidak mengenal dia siapa. "Gue Lia, Gue mau minta tolong sama lo. Bisa lo putus sama Nata." Mintanya langsung tanpa ada hambatan.


Aku hanya tertawa kaku untuk menanggapi permintaannya. Dia bilang apa? Putus? Pacaran aja bohongan mau putus gimana, ah aku tau pasti dia salah satu dari cewek yang suka dengan Nata.