My Memory

My Memory
Demam



"Nin lo kenapa? dari tadi gue lihat lo kelihatan cemas gitu."


"Keliatan banget ya? Aku lagi mikirin Nata, dia lagi sakit soalnya."


Kepalaku dari tadi terus memikirkan Nata, dia sedang terluka tapi malah memaksakan diri untuk masuk sekolah. Aku telah berusaha menahannya dan menyarankan dia untuk pergi ke rumah sakit tapi bukannya menurut dia malah dengan keras kepalanya ingin tetap masuk sekolah.


Satu notifikasi masuk ke handphone ku, ku lihat ternyata chat dari Nata.


'Ke UKS sekarang.'


Untuk apa Nata memintaku ke UKS, apa lukanya terbuka? perasaan cemas mulai ku rasakan aku harus segera ke UKS sekarang.


"Nia aku pergi dulu." Tanpa menunggu respon Nia aku langsung pergi ke luar kelas. Langkah ku tergesa-gesa melewati setiap tangga dan koridor sampai akhirnya aku sampai di depan UKS. Jantung ku berdetak kencang karena habis berjalan cepat dan juga karena memikirkan kemungkin terburuk yang bisa saja terjadi pada Nata.


Saat aku masuk ke dalam ruang UKS tak ada orang di sana suasananya hening tanpa suara hanya terdengar langkah kaki ku yang terdengar nyaring di telingku. Ku lihat sekat-sekat gorden putih yang memisahkan setiap kasur di dalamnya. Ku lihat satu persatu tak ada orang di sana sampai mata ku tertuju pada satu gorden putih yang tertutup sempurna ku buka perlahan, ku lihat Nata tengah berbaring di atas kasur tersebut wajahnya pucat dan dahinya penuh dengan keringat sesekali dahinya berkerut seakan menahan rasa sakit.


"Nat kamu gak papa?" Tanya ku saat berdiri di sampingnya. Nata merespon dengan gumam tak jelas, apa begitu sakit hingga Nata merespon seperti itu. Tangan ku terulur untuk menghapus keringat yang membasahi dahi Nata.


Saat tangan ku bersentuhan dengan kuliat Nata sensasi panas ku rasakan. Nata tak hanya menahan rasa sakit tapi juga demam. Aku mulai panik "Nat... Nata..." tangan ku terus menggoyangkan tubuhnya.


"Hmm," respon saat matanya mulai membuka perlahan. "Nat kamu demam belum lagi kamu juga terluka, kita ke rumah sakit yah?" bujuk ku agar dia mau ke rumah sakit.


Nata menggeleng pelan. "Enggak usah, gue cuma perlu istirahat."


"Nat jangan keras kepala, kamu perlu ke rumah sakit."


"Aku gak papa." Sanggahnya dengan suara serak.


Aku menatapnya marah, kenapa pada saat seperti ini dia masih keras kepala? aku bingung harus membujuknya bagaimana lagi. Ku tinggalkan Nata yang masih di tempat tidur, ku cari kotak obat di lemari yang ada di ruang UKS. Tangan ku memilah-milah obat terus ku cari obat untuk menurunkan demam.


Setelah menemukannya ku bawa obat dan air minum yang tersedia di UKS lalu kembali ke kasur Nata. Nata masih merebahkan tubuhnya. "Nat ayo bangun minum obat dulu, kamu bisa duduk kan?"


Nata mengangguk pelan lalu berusaha bangun melihat dia kesusahan ku bantu dia untuk duduk. Ku berikan obat dan air putih padanya dan Nata langsung meminumnya. Nata ingin merebahkan tubuhnya kembali tapi kutahan saat melihat bercak darah di bajunya.


"Nat luka kamu ke buka, kita ganti perban dulu yah. Kamu tunggu bentar." aku langsung berlari ke arah rak ku ambil perban dan peralatan lainnya lalu kembali ke tempat Nata.


Ku taruh semua barang yang ku bawa di atas kasur yang tengah di tempati Nata.


"Nat buka baju kamu." wajahku langsung memerah saat mengatakannya.


Aku masih fokus melilitkan perban di luka Nata saat ku rasa kepala Nata mulai bersandar di bahuku. "Nin kepala gue pusing." keluhnya, melihat Nata yang seperti ini entah kenapa aku merasa dia seperti anak kecil yang ingin di manja.


"Bentar, bentar lagi ini selesai."


Setelah selesai ku bantu Nata untuk merebahkan tubuhnya kembali dan aku duduk di kursi untuk menemaninya di sini. Susana hening kembali tidak ada yang berbicara aku diam memperhatikan Nata sedangkan Nata mulai memejamkan matanya kembali. Aku terus diam lama hingga akhirnya aku tak tahan lagi dengan susana hening seperti itu.


"Nata..."


"Hmm."


"Teman kamu tau kamu di UKS?" Tanya ku untuk membuka topik pembicaraan.


"Tau," jawab Nata singkat. "terus?" tanya ku bingung.


"Mereka tadi di sini sebelum lo datang, terus gue usir karena mereka berisik."


Setelah itu susana kembali hening, ku lihat ke arah jam sebentar lagi jam masuk kelas. Apa aku ke kelas aja yah? bukannya aku gak mau menemani Nata di sini tapi susana hening seperti ini tidak hanya membuatku bosan sendiri tapi juga membuat ku mulai mengantuk.


"Nat," panggil ku.


"Hmm."


"Aku balik ke kelas dulu, sebentar lagi jam masuk," setelah mengatakan itu aku berdiri berniat untuk keluar dari ruang UKS. Tangan Nata menggenggam tangan ku, dia menahan ku untuk tidak pergi.


"Disini aja, temani gue."


Aku ingin menolak tapi saat aku melihat Nata meminta ku seperti itu aku tak bisa menolaknya, aku kembali duduk.


Nata terus menatapku dan tangannya masih memengang tangan ku, entah kenapa aku merasa Nata tak ingin aku pergi dan dia menahan ku untuk tetap di sini menemaninya, "Ya udah aku di sini gak ke mana-mana."


Setelah aku mengatakan itu Nata masih tetap menahan tangan ku walaupun matanya kembali terpejam. Lama aku terdiam hingga aku mulai merasa bosan dan mulai mengantuk.


Sempat beberapa kali aku menahan rasa kantuk ku hingga akhirnya aku tak tahan lagi lalu ku telungkupkan kepalaku di kasur tempat Nata berbaring, aku mulai memejamkan mataku hingga aku tak sadar entah sejak kapan aku tertidur.


***