
Terasa hangat dan nyaman hal ini malah membuatku semakin tenggelam dan merapatkan diriku dalam selimut. Rasanya aku tak ingin bangun. Sebentar bukannya aku tidak tidur di tempat tidur, bagaimana jadi ada selimut.
Dengan cepat ku buka mataku dan langsung duduk, ku lihat sekitar ku. Kenapa aku ada di kamarku bukannya terakhir kali yang aku ingat aku sedang menemani Nata di UKS.
"Lo udah bangun." Suara yang datang dari samping ku. Aku tolehkan kepalaku untuk melihat ke arahnya, Nata sudah terlihat baikan walaupun wajahnya masih sedikit pucat. Aku berdiri dan menghampirinya.
"Kamu udah mendingan, masih sakit enggak?" Tanya ku untuk mengetahui kondisinya. Tanganku reflek langsung memegang dahinya. Syukurlah udah gak panas lagi.
"Udah kok, luka segini mah gak bakal berasa." Katanya saat mengambil tangan ku dari dahinya, kini tangan kami saling bergandengan.
Nata tersenyum lembut kepadaku, melihat Nata tersenyum seperti itu jantung jadi berdetak kencang. Sumpah! Nata ganteng banget dan aku juga baru sadar kalo jarak kami terlalu dekat.
Cup
Nata mengecup dahi ku lembut. Tubuhku membeku, terkejut saat Nata mencium ku harusnya aku sudah terbiasa dengan Nata mencium ku karena ini bukan yang pertama kalinya Nata melakukannya, harusnya debaran ini berkurang atau bahkan hilang tapi kenapa setiap kali Nata mencium ku debaran ini masih sama bahkan respon tubuhku masih sama.
"Makasih." Ucapnya setelah membuka jarak diantara kami.
"Buat?"
"Semuanya, terimakasih karena udah hadir di kehidupan gue. Makasih karena udah perhatian dan baik banget sama gue dan makasih buat semua yang lo lakukan untuk gue yang mungkin kalo gue sebutih satu-satu itu gak tau sebanyak apa." Jelasnya, Aku menatapnya lembut dan tak disadari bibir ku sudah tersenyum saat mendengar apa yang dia katakan. Bukan hanya Nata yang perlu bilang makasih aku juga sama, karena dia aku mengenal apa yang namanya jatuh cinta dan karena dia juga hidupku jadi lebih berwarna.
Jika waktu bisa berhenti aku ingin seperti ini terus dengan Nata. Tanpa ada pertengkaran dan kesalahpahaman di antara kami.
"*Hehe... terus kenapa? Lo mau apa? Oke gini aja kita taruhan, siapapun dari kita yang buat Anin jatuh cinta dia pemenangnya."
"Oke gue setuju, kalau gue menang lo harus menjauh dari Anin dan kalau gue yang kalah terserah lo mau minta apa."
"Penawaran yang menarik. Kalau gue kalah gue akan menjauh dari Anin dan lo bisa dapetin dia tapi kalau gue menang*_"
Senyuman dibibir ku membeku saat teringat akan taruhan yang dibuat Nata dan Dante waktu itu. Kenapa aku bisa lupa akan taruhan itu, apa semua yang dilakukan Nata hanya untuk memenangkan taruhan itu. Perasaan ku mulai meragukan ketulusan Nata,tiba-tiba perasaan takut mulai merayap di dalam hatiku, pikiran-pikiran negatif mulai bergemuruh di dalam kepalaku.
Aku tersadar saat Nata menjentingkan jarinya didepan wajahku sambil memanggil namaku. "Nin... kok lo bengong, lagi mikirin apa? mikirin gue yah?" Tanyanya dengan senyum menggoda ku.
"Nat aku boleh nanya satu hal sama kamu."
Nata mengangguk kecil, "Boleh, tanya aja." Ku tatap matanya seakan mencari jawaban yang ku cari. Apa aku harus menayakan hal itu? Bagaimana jika semua yang aku pikirkan itu ternyata benar.
"Aku... hmmm." Aku mulai ragu untuk bertanya. Aku takut jika semua itu benar dan Nata tau kalau aku sudah tau tentang taruhan itu, apa dia akan berubah seperti dulu dan menjauhi ku. Tapi aku juga tak mau dalam ketidakpastian seperti ini.
"Oh dikirain apaan. ceritanya panjang tapi intinya ini semua gara-gara Leo, dia gak terima kalo dia kalah balapan sama gue."
Leo? entah kenapa nama ini gak asing buat ku, aku mencoba mengingat sosok Leo yang dimaksud Nata hingga akhirnya wajah Leo terbayang dibenak ku, "Leo musuh bebuyutan kamu itu?"
"Hmm... emang siapa lagi." Katanya sambil mengangguk. Iya siapa lagi musuh bebuyutan Nata selain Leo, kenapa aku harus menanyakan hal yang gak perlu seperti itu.
Nata masih sering ikut balapan bahkan kali ini dia sampai terluka seperti itu. Gimana caranya buat dia berhenti balapan.
"Hey! Kok melamun lagi, lo lagi banyak pikiran yah?"
Iya banyak pikiran, mikirin kamu. Ingin aku berkata seperti itu tapi tidak ku katakan, yang ada nanti Nata besar kepala kalo aku bilang seperti itu.
"Enggak kok, enggak lagi mikirin apa-apa." Jawabku sekenanya.
tok tok tok
Terdengar suara ketukan dari pintu lalu setelah itu tante masuk ke kamar ku, "ngobrolnya dilanjutkan nanti aja, ayo kita makan dulu ." Katanya lalu setelahnya pergi ke ruang makan.
Makan? ku lirik jam di dinding kamarku pukul 18.45 aku baru sadar ternyata udah malam.
"Nat tante tau kalo kamu disini?" Tanya ku saat tente sudah tak terlihat dibalik pintu.
"Hmm... Lo kira gue lewat mana, kalo gak lewat pintu." Aku pikir dia lewat jendela kayak biasanya.
"Terus kamu pulangnya gimana?"
Dahi Nata langsung berkerut, "lo ngusir gue?"
"Enggak, bukan itu maksud aku_" aku terkejut saat tangan Nata mengusap kepala ku.
"Iya gue tau kok maksud lo, masalah pulang itu gampang lo gak perlu mikirin." Gimana gak mikirin, dia kan lagi sakit enggak mungkin buat naik motor sendiri.
"Gue kan ada supir pribadi, tinggal telpon Arya dia bakal nganter gue. Udah ah gue laper mau makan." Katanya lalu pergi ke ruang makan duluan.
"Ih kaya rumah sendiri aja." Gerutu ku lalu menyusulnya ke ruang makan.
***