My Memory

My Memory
Kencan



Saat aku tiba di parkiran dapat ku lihat Nata dan teman-temannya sedang mengobrol di sana. Aku berjalan pelan menghampirinya.


"Nata," panggil ku pelan, mereka pun berhenti mengobrol dan menoleh ke arah ku. "Oh lo udah datang, naik!" Tintanya. Aku hanya berdiri diam melihatnya, Nata gak marah lagi pada ku? Ku pikir dia akan menghukum ku saat tiba di sini.


"Kenapa bengong, naik!" Aku berjalan pelan menghampirinya lalu memakai helm yang diberikannya setelah itu aku duduk diboncengannya. "Gue duluan ya," pamit Nata kepada sahabatnya. Nata melajukan motornya keluar gerbang sekolah, setelah itu aku gak tau dia mau membawaku ke mana.


Saat di perjalanan ku lihat bayangan toko-toko yang bergerak dengan cepat, seperti biasa Nata memang tak pernah mengendarai motor dengan pelan selalu saja dengan kecepatan yang bisa membuatku cepat mati.


Karena merasa pusing melihat bangun yang bergerak begitu cepat, selama perjalan aku hanya menutup mataku. Nata mau membawaku ke mana? Pertanyaan itu yang terus mengganjal di hati ku.


Setelah menunggu lama motor Nata pun berhenti. Ku lihat sekeliling tempat ini, ternyata kami berhenti di depan sebuah kafe. "Gue lapar, ayo masuk." Katanya cepat lalu mendahului ku masuk ke dalam kafe.


Aku mengikuti Nata dalam diam, apa ini kesempatan buat aku minta maaf ke Nata? Aku harus memanfaatkan kesempatan kali ini. Aku mengikuti Nata mencari tempat duduk setelah dia memesan makanan. Setelah makanan yang di pesan datang kami makan dalam diam. Suasana berubah jadi hening karena tak ada yang bicara diantara kami, apa aku minta maafnya sekarang aja ya pikirku.


"Nat, soal yang_" belum selesai aku bicara Nata sudah memotongnya, "Kalo lo cuma mau bahas masalah Lia mending lo diam aja," katanya berhenti makan dan menatapku dengan tatapan membunuh. Bukan, aku juga tak ingin membahas mengenai Lia aku hanya ingin minta maaf.


"Tapi_" nyaliku langsung ciut saat melihatnya menatapku seperti itu, gagal deh aku minta maafnya. "Lo gak ada kegiatan kan habis ini?" Kenapa baru tanya sekarang setelah dia dengan seenaknya membawa ke sini. "Gak ada," jawabku singkat.


Nata menganggukkan kepalanya tanda mengerti suasana kembali hening sampai kami selesai makan. Nata membawa ku lagiĀ  entah kemana, setelah beberapa waktu kami sudah sampai di depan bioskop, ternyata dia mau mengajak ku nonton.


"Kita mau nonton apa?" Tanyaku saat mau mengantri membeli tiket, Nata menahan tangan ku lalu membawaku ke tempat penjual popcorn dan minum. "Gue udah beli tiket," katanya seraya memberikan 2 tiket film kepadaku. Kenapa mesti film horor yang Nata pilih sih, kenapa gak film romantis aja. Tak sadar aku berdecak pelan.


"Kenapa?" Aku menunduk bingung harus menjawab apa. "Ayo masuk, film udah mau mulai." Aku mengangguk pasrah lalu membawa popcorn yang telah dibeli Nata.


Kami duduk dengan nyaman di barisan tengah, aku duduk dengan gelisah saat film akan di mulai. Ku akui aku paling takut mengenai hal-hal yang berkaitan dengan makhluk halus. saat film sedang berlangsung hampir saja aku terik karena tiba-tiba ada yang menggenggam tangan ku.


Ku lirik Nata yang masih fokus menonton film tanpa merasa terganggu sama sekali, ku alihkan pandangan ku melihat tangannya yang sedang menggenggam tangan ku, tangan Nata yang lebih besar dari ku dan terasa hangat sedikit menenangkan ku dan mengurangi rasa takut ku.


Deg deg


Aku kehilangan fokus ku untuk menonton film, selama film berlangsung sampai selesai perasaan ku tak karuan. Ada apa dengan jantung ku, kenapa tak berhenti berdegup kencang. Sempat ku lirik Nata beberapa kali dia masih fokus menonton film dan terlihat beberapa kali memakan popcornnya.


"Ayo pulang."


"Pulang," ku pikir dia akan mengajak ku pergi lagi, tapi sepertinya tidak. Kenapa aku jadi kecewa, aduh ada apa sih dengan kepalaku kenapa harus memikirkan sesuatu yang aneh ini.


Kami keluar dari bioskop lalu Nata langsung mengantar ku pulang tanpa mampir ke mana pun, dan lucunya kenapa aku masih sempat-sempatnya mikir kalo Nata cuma lagi mempermainkan aku dan akan membawa ku ke suatu tempat.


"Udah sampai," kata Nata yang menyandarkan ku. Karena pikiran ku yang kacau selama perjalanan sampai-sampai aku tak sadar kalo kami sudah berada di depan rumahku.


"Terimakasih," ucapku berdiri di sampingnya. "hmm, masuk sana."


"Nat aku mau..." ku lirik Nata yang masih memperhatikan ku. "Aku mau bilang maaf, maaf karena telah ikut campur dalam masalah kamu. Apa lagi waktu itu aku gak minta penjelasan kamu dulu."


Nata tidak langsung merespon permintaan maaf ku dia turun dari motornya dan berdiri di depanku. Ku tundukan kepalaku tak berani melihatnya.


"Oke untuk kali ini lo gue maafin tapi gak ada untuk lain kali, lo itu sekarang pacar gue, gue gak suka punya cewek yang bego dan mudah di manfaatin orang lain, ngerti!" Katanya aku menganggukkan kepalaku pelan tanda mengerti. "Dan lo gak boleh percaya sama siapa pun kalo ada orang yang bicara mengenai gue, baik itu keburukan gue atau apapun yang bersangkutan dengan gue, lo cuma harus percaya sama gue," jelasnya lagi.


"Iya ak_," belum selesai aku bicara Nata sudah mencium ku terlebih dulu.


Deg deg


Degup jantung ku kembali cepat layaknya orang yang sedang berolahraga. "Masuk sana," katanya setelah mencium ku. Tanpa menunggu lagi aku langsung masuk ke rumah tanpa menghentikan langkahku langsung pergi ke kamar lalu ku kunci pintunya. Ingin ku berteriak namun tak bisa, ini benar-benar gila gak mungkinkan aku suka dengan dia. Dengan Nata, kalo di pikir-pikir bukankah ini kencan, kencan pertama ku dengan Nata. Sial! kenapa aku malah senang.


***