My Memory

My Memory
Ciuman Pertama



Tok  tok tok**


Suara ketukan pelan terdengar dari jendela. Kulihat jam dinding yang ada di kamar ku yang sudah menunjukkan pukul 22.30, hanya satu kata yang terlintas di pikiranku ini GILA!, dia menjemputku hampir tengah malam begini, yang benar aja.


Tak ku hiraukan suara ketukan itu, pasti dia akan lelah sendiri nantinya. Namun, pikiranku salah ketukan itu bukanya berhenti tapi malah sebaliknya semakin sering dan keras.


Tak berselang lama ketukan itupun berhenti di gantikan dengan panggilan telpon dari si pengganggu siapa lagi kalo bukan Nata. Panggil pertama tak ku jawab, begitu pula yang kedua, ketiga dan keempat kalinya. Setelah itu lama ku tunggu tak ada panggilan yang masuk ke handphone ku lagi, hanya ada notif empat panggilan tidak terjawab.


Mungkin dia sudah menyerah, gitu kek dari tadi ganggu orang lagi tidur aja pikiranku, baru ku ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiranku, satu notifikasi  dari whatsApp masuk ke  handphone ku karena penasaran dengan chat yang di kirim Nata, kubaca chat darinya.


'Dalam satu menit lo gak buka  jendela, gue pecahin tu jendela.'


Apa! Dia gak bakalan nekatkan, semoga aja ini cuma ancaman dia aja buat nakut-nakutin aku.


'30 detik lagi' satu chat lagi masuk ke handphone ku. 'Kalo lo ngira ini cuma bercanda lo bisa tunggu sampai 30 detik kemudian.'


Sial! Tenyata dia gak main-main, kenapa sih dia harus maksa, kan aku udah bilang gak mau ikut balapan.


Sekarang udah gak ada pilihan lain, mau gak mau aku harus buka jendala kalo gak bisa-bisa nanti tante kesini lagi gara-gara dengar kaca jendelaku pecah.


Kubuka perlahan jendela kamarku, dapatku lihat Nata sedang berdiri dibawah pohon sedang menatap ke arahku. Setelah itu dia berjalan ke arah jendela kamarku.


"Gitu kek dari tadi," gerutunya sambil melompati jendela untuk masuk ke dalam kamarku.


Setelah Nata dengan seenaknya masuk ke kamarku, kututup kembali jendela kamarku.


"Siap-siap sana," perintahnya yang sedang duduk di atas kasurku. "Gak mau! kan aku udah bilang gak mau ikut."


Setelah mendengar jawabanku, Nata menarik tanganku sampai aku terlantang di kasurku, dia mulai menindih tubuhku dengan tubuhnya.


Entah perasaanku saja atau memang wajah Nata semakin dekat, semakin dekat hingga hidung kami bersentuhan, Sial! Mau apa dia.


Cup


Bibir Nata tak tau sejak kapan sudah menempel di bibirku. Nata terus melumat bibirku. Mataku tertutup rapat saking terkejutnya juga takut. Dapat kurasakan Nata menahan kepalaku untuk memperdalam lumatanya.


Kubuka mataku perlahan setelah sadar apa yang sedang terjadi. Nata telah mengambil ciuman pertamaku. Akupun mulai berontak untuk menjauhkan Nata dariku.


Nata melepaskan ciumannya tapi tidak menjauhkan wajahnya, menatapku lekat-lekat dan ku balas menatapnya walaupun dengan perasaan cemas dan takut.


"Lo bakalan nyesel kalo berani  teriak," bisiknya di telingaku. "Lo bilang gak mau ikut gue," lanjutnya.


"Hmm," sambil mengangguk kecil sebagai tanda aku memang tidak mau ikut.


"Lo yakin? Lo bisa milih mau ikut gue atau tetap disini dengan kita melakukan aktivitas yang gak akan pernah lo lupain seumur hidup lo," katanya dengan dia yang masih di atasku.


"Ka... kamu mau ngapain?" Tanyaku setelah melihatnya mulai mendekat lagi. "Lo akan tau sayang, dalam hitungan ketiga lo masih belum milih, lo bakalan terima akibatnya."


Akupun mulai panik setelah mendengar apa yang dikatakan Nata, sial! Dia gak main-main.


"Sana siap-siap!" Perintahnya lagi. Yang kini duduk bersila di samping ku.


Dengan cepat aku mulai bangkit dan berjalan ke arah lemariku. Akupun akhirnya mengambil kaos berlengan pendek dan juga celana jeans panjangku, baju yang simple kemudian langsung ke kamar mandi yang ada di kamarku. Tak perlu waktu lama aku sudah siapa dengan jeans dan baju kaosku lalu dipandu padankan dengan jaket kulit dan tak lupa pula sepatuku.


Kalau dilihat lihat aku seperti anak geng motor saja apalagi dengan pakaian seperti ini.


"Udahkan? Ayo pergi," katanya seperti bosan menungguku.


"Sebentar," kataku cepat. Dengan cepat ku berlari keluar kamar untuk memeriksa apakah tante udah tidur atau belum. Saat berada di depan kamar tante ku buka pintunya perlahan dapat kulihat tante sedang tertidur pulas di kasurnya.


Setelah memastikan tante tidur akupun kembali kamar tak lupa ku kunci kamarku agar tidak ketahuan tante kalo aku tidak ada di kamar kalo seandainya tante terbangun dari tidurnya. Tak lupa juga ku ambil helm kesayanganku. Helm warna pink dengan gambar hello kitty.


"Lo mau pake itu?" Ku anggukan kepala untuk menjawabnya. "Gak boleh! Lo mau bikin gue malu apa? Ganti!"


Dengan tidak rela aku mencari helm yang lain, emang apa salahnya makai helm itu, kan aku suka. Akhirnya ku ganti dengan helm lamaku yang berwarna hitam polos tanpa ada stiker yang menempel disana.


Setelah aku mendapatkan helm, aku dan Nata keluar kamar melalui jendela seperti halnya Nata masuk ke kamarku tadi. Ku rasakan hawa dinginya malam setelah aku di luar rumah.


Nata langsung menarik tanganku agar aku mengikutinya, kami berjalan mengendap-ngendap bagaikan maling yang takut ketahuan oleh orang lain.


"Naik," ku lihat pagar beton setinggi satu setengah meter di depanku. "Mana bisa," bisikku saat pagar yang tak bisa ku panjat.


Melihat kesulitanku Nata langsung mengangkatku sampai aku bisa menggapai atas pagar lalu mendorongku keatas agar aku bisa menaikinya.


Setelah aku sudah di atas pagar, ku ulurkan tanganku dengan niat membantu Nata untuk naik keatas pagar. Tapi, sepertinya percuma karena dengan mudahnya  Nata memanjat pagar sendiri, setelah diatas dia dengan mudah melompot kebawah.


"Turun," katanya pelan agar tak di dengar tetangga rumahku. Aku menggelengkan kepalaku. "Ketinggian Nat."


"Lo itu ribet, lo turun sekarang atau gue tarik kaki lo sampai jatoh," katanya kesal. Jahat banget sih, bukanya nolongin malah mau ngejatohin.


Akupun mulai memberanikan diri untuk lompat, kemungkinan terburuknya paling aku keseleo. Oke dalam hitungan ketiga aku bakal lompat. Kutarik napas untuk menenangkan diri. Satu dua, kututup mataku untuk bersiap melompat. Saat hitungan ketiga akupun melompat turun.


Kok lama banget gak sampai-sampai, seingat ku pagarnya gak tinggi-tinggi banget sampai selama ini. "Lo ternyata berat juga ya."


Langsung ku buka mataku saat tersadar aku sedang digendong oleh Nata, hal gila apa ini. Akupun lekas turun dari gendongannya.


Nata berjalan ke arah motor yang ada di dekat pagar. "Ayo naik," katanya. Aku berjalan ke arahnya lalu duduk diboncengan motornya.


"Udah," kataku pelan, Nata langsung menyalakan motor dan melaju kearah yang tidak ku ketahui.


***


**Jangan lupaupa Like and comments ya!!!


Silahkan berikan saran dan kritik kalian di kolom komentar, mohon dukungannya**