My Memory

My Memory
Aku Juga Punya Perasaan



Tidak terasa dua minggu sudah aku dan Nata tak saling tegur dan tak saling menghubungi, mungkin semuanya sudah berakhir dan ku harap ini adalah jalan yang terbaik untuk ku.


"Mau kemana?" Tanya seseorang yang ada di belakang ku. Aku tak perlu berbalik untuk melihat siapa dia, karena orang inilah yang selama dua minggu ini terus gencar mendekati ku.


Aku terus berjalan tanpa menghiraukannya dan ku dengar suara langkah kaki cepat di belakang ku, sepertinya dia mengejar ku. Kak Dante tersenyum ke arahku setelah mensejajarkan langkah kakinya dengan ku dan sekarang dia berjalan disampingku. "Mau gue bantu? kelihatannya berat?" kak Dante melihat kebawah, melihat tumpukan buku yang sedang ku bawa.


"Eng_" sebelum sempat aku menolak tawarannya, kak Dante telah mengambil semua beban yang ku bawa. Kenapa harus bertanya kalo dia melakukan dengan seenaknya, tapi ya sudahlah. "Terimakasih."


"Sama-sama." Balasannya disertai dengan senyuman bangga. Kami berjalan beriringan di koridor kelas, hanya terdengar langkah kaki kami yang saling bersahutan. Sekolah sudah sepi karena jam pulang sekolah sudah lewat dua jam yang lalu. Padahal aku sudah dengan sengaja pulang paling akhir untuk menghindarinya Nata dan juga dia, tapi sepertinya dia menunggu ku.


"Ini mau dibawa ke ruang guru?"


"Iya kak." Kata ku singkat. Aku kadang masih merasa risih bila bersama kak Dante. Aku masih tidak tau motif apa yang ada di dalam hati kak Dante untuk mendekati ku, apa karena taruhan itu atau murni untuk berteman dengan ku. Aku tak ingin ada Nata yang ke-2, cukup Nata saja yang berhasil memanfaatkan ku, aku tak ingin untuk jatuh ke dalam lubang yang sama dengan orang yang berbeda.


Kami berjalan ke ruang guru dalam diam, tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang memulai pembicaraan baik aku atau sebaliknya.


"Mau pulang bareng?" Tawar kak Dante saat kami telah mengantar buku ke ruang guru. Aku menggeleng pelan, "Enggak kak, terimakasih." tolak ku sopan.


"Aku juga bawa motor sendiri. Kalo gitu aku balik duluan kak." aku hendak berjalan pergi ke arah tempat parkir sekolah. Kak Dante menahan tangan ku untuk tidak pergi, "Kenapa?" Tanyanya pelan.


Aku menyengit bingung atas pertanyannya, kak Dante menatapku dalam. "Kenapa lo seakan jaga jarak dengan gue? Dan kenapa cuma gue yang lo perlakuin seperti ini, kenapa lo dengan orang lain bisa nyaman sedangkan dengan gue enggak. Apa gue ada salah sama lo? oke kalo gue ada salah, gue minta maaf. Kasih gue satu kesempatan buat buktiin kalo gue gak seburuk yang lo pikirkan."


Apa aku udah keterlaluan kepada kak Dante hingga dia merasa seperti itu. Aku gak pernah ngerasa kak Dante itu buruk, aku hanya merasa risih dan kadang merasa tidak nyaman di dekat dia oleh karenanya aku sering menghindarinya.


"Maaf aku gak bermaksud begitu, cuma... hmm." Aku bingung harus berkata apa. Aku tak pernah membenci kak Dante ataupun ingin bermusuhan dengannya, cuma aku sendiri juga gak tau kenapa harus menghindarinya. Seakan-akan alam bawah sadar ku ingin aku tak terlalu dekat dengannya.


"Maaf kalo tindakan ku selama ini malah buat kak Dante merasa begitu, tapi sunggu aku benar-benar gak bermaksud seperti itu."


Kak Dante tersenyum lembut pada ku, seakan dia mengerti apa yang ku maksudkan. "Oke sekarang gue ngerti, lo gak benci gue. Jadi bisa kita mulai berteman?"


***


"Lo kayanya dekat banget sama ketos." Sebuah suara yang tiba-tiba muncul saat aku masuk kamar. Suara yang amat ku kenal, seseorang yang selama dua minggu ini tak pernah berbicara lagi dengan ku sekarang untuk apa dia disini, di kamar ku.


"Bukan urusan kamu dan lagi kenapa kamu ada di kamarku?" Aku terus melakukan aktivitas ku dan tak menatapnya. Aku bertindak seakan dia tak ada di sana, di tempat tidur ku.


"Semua yang berkaitan dengan lo itu urusan gue, lo lupa kalo lo itu pacar gue."


Pacar? Emang ada hubungan pacaran kaya gini dan lagi apa dia lupa bahwa semuanya cuma sandiwara, aku hanya pacar pura-puranya.


"Nat, kamu lupa kita cuma pura-pura dan aku gak mau lanjutin ini semua." aku berkata sambil membelakanginya, aku tak ingin melihat wajahnya.


"Lo gak bisa mutusin ini semua, lo lupa yang berhak mutusin ini semua cuma gue!" Katanya dengan suara meninggi. Entah sejak kapan Nata sudah ada di belakang ku, dia membalik tubuhku agar berhadapan dengannya lalu mencengkeram bahuku kuat, rasanya sungguh sakit. Aku sempat meringis tapi tidak dipedulikan Nata.


Kami saling berdekatan, dia menatapku dan ku balas untuk menatapnya. "Aku capek." kata ku lirih bahkan hampir tak dapat terdengar.


Drama yang dibuat Nata semuanya membuat ku lelah, aku ingin berhenti tak ingin melanjutkannya lagi. Semua ini hanya menyakiti ku, apa Nata tak sadar kalo aku menyukainya. Aku telah jatuh cinta padanya dengan sikap Nata yang seakan menarik ulur ku seperti ini itu malah sangat menyakiti ku. Aku tak ingin seperti ini, aku tak ingin terjebak dalam hubungan yang tak jelas ini.


"Aku capek Nat, semua ini terlalu melelahkan buat aku. Kalau kamu mau ngalanjutin ini semua sama aja kamu mau nyakitin aku. Kamu pernah mikir gak sih kalo aku juga punya perasaan." Entah sejak kapan air mata ku mengalir, aku tersadar air mata ku mengalir saat tangan Nata yang ada di bahuku berpindah ke pipiku lalu dengan lembut menghapus air mata yang mengalir di pipiku.


Tangan Nata membawaku ke dalam pelukan hangatnya. Kenapa dia melakukan ini, kenapa dia harus memberiku harapan lagi.


"Maaf." ucap Nata lembut di atas kepalaku. Saat mendengar bukannya menenangkan ku untuk berhenti menagis aku malah menangis sejadi-jadinya untuk mengeluarkan semua frustasi ku. Aku menagis hanya karena seorang Nata, seorang cowok yang gak peka.


"Dasar cowok gak peka!" ingin aku berteriak seperti itu didepanya.