My Memory

My Memory
Devil



"Kila kamu gak papa?" Tanya laki-laki itu kepada ku, sekarang aku  sedang mengenakan dress biru selutut. "Sakit R_"


Apa apaan ini! Aku merengek kesakitan dengan laki-laki itu. Kapan aku punya sikap manja seperti ini. Oh tuhan ini sangat memalukan ini pasti hanya mimpi.


Ku lirik laki-laki itu dia hanya tersenyum kepadaku lalu dengan mudahnya menggendongku ke punggungnya dan mengatakan sesuatu yang membuatku merasa tenang dan yaman di dekatnya.


"Hey kamu tak perlu menangis, kita akan segera pulang jadi berhentilah, Kila yang kukenal adalah Kila yang kuat dia takkan menangis hanya karena kakinya terluka, bukankah ini hanya masalah kecil?" Jelasnya kepadaku, aku hanya menganggukan kepala mengiyakan apa yang dikatakannya. "Terimakasih R_"


Kenapa? Kenapa selalu tak dapat terdengar saat aku memanggil namanya. Aku ingin tau namanya, oh tuhan ini membuatku frustasi.


Kringg   kringg


Bel berbunyi pertanda jam pelajaran akan dimulai, perlahan aku mulai membuka mataku menyesuikan cahaya matahari yang masuk melalui jendela yang tak sengaja mengenai mataku.


Jadi tadi itu hanya mimpi? Sebaiknya aku segera kembali ke kelas sebelum guru pelajaran ke empat masuk. Dengan cepat aku merapikan buku pelajaran serta novelku lalu kelur dari perpus.


Kenapa? Padahal beberapa hari belakangan aku tak bermimpi aneh lagi dan terakhir kali aku bermimpi aneh itu saat hari pertama masuk sekolah dan sekarang saat aku ketiduran di perpus kenapa bermimpi aneh itu datang lagi.


Tak perlu kau pikirkan Anin mimpi itu hanya bunga tidur jadi kau tak perlu repot-repot memikirkan sesuatu yang hanya akan membuatmu sakit kepala.


Aku baru ingat kalau aku harus menaiki tangga sebelum sampai ke kelas dan itu sangat merepotkan.


Bugh bugh


Suara apa itu? Seperti ada yang berkelahi. Semakin aku menaiki tangga maka semakin jelas pula suara itu dan saat aku sampai di belokan tangga aku melihat dua orang yang sedang berkelahi sepertinya mereka bukan murid baru, hal itu dapat di lihat dari seragam mereka. Oh betapa gilanya mereka apa mereka tak berpikir bisa saja salah satu dari mereka jatuh dari tangga atau tidak saat seseorang yang sedang menaiki tangga atau sebaliknya yang malah akan terkena hantaman mereka.


"APA KALIAN GILA!" Teriakku menghentikan mereka berdua. "Kalian berkelahi di tangga? Apa kalian gak mikir kemungkinan yang bisa aja terjadi huh!"


Mereka diam melihat ke arahku salah satu dari mereka terduduk tak berdaya dan satunya lagi, oh tidak Anin kau telah berbuat kesalahan lihat berapa tajamnya tatapannya itu seolah-olah mengatakan kau akan mati di tanganku.


Bagus Anin kau adalah juaranya, juara dalam perlombaan tingkat kecerobohan paling akut dan sedikit kesialan tentunya.


Dia mulai mendekat tapi kakiku terasa kaku sampai saat dia mengurungku dengan kedua tangannya. Oh sejak kapan aku sudah terhimpit antara dia dan tembok yang ada dibelakangku. Anin kenapa harimu sungguh sial.


"Lalu," katanya pelan. Aku tak menjawab merasa bingung apa yang dia maksud. "LALU LO PIKIR LO SIAPA HUH!" Bentaknya didepan wajahku seketika itupula aku menutup mataku, aku sudah merasa akan menangis saat itu karena saking takutnya. "Lo gak berhak untuk mengatur gue apalagi ceramahin gue, lo paham," bisiknya tepat di telingaku.


Dia sangat menakutkan bagaimana mungkin bisa ada manusia sepertinya. Dia mulai menjauhkan tangannya dariku lalu dia ingin berbalik namun tak jadi oh apa lagi sekarang. Tangganya meraih daguku lalu mengangkatnya tinggi sehingga pandangan kami bertemu.


"Perlu lo ingat didalam otak kecil lo, lo adalah terget gue ANINDYA SHAKILA," katanya penuh penekanan di namaku. Dia pergi meninggalkanku yang masih shock, oh tuhan kenapa kau pertemukan aku dengan iblis itu.


"Lo gak seharusnya bantuin gue. Lo lihat sekarang lo yang jadi targetnya," kata kakak kelas itu. "Dan satu lagi Nata itu gak pandangan buluh terserah itu cowok atau cewek, siapapun itu dia tetep akan ngebully lo."


Dasar gak tau terimakasih banget sih tu kakak kelas bukannya bilang makasih malah langsung pergi setelah bilangan kelakuan si devil itu. Jadi nyeselkan udah bantuin dia.


Lagian tu devil masa sama cewek aja dia lawan. Emang dasar devil banci.


***


Bel berbunyi petanda jam pelajaran telah usai dan seluruh siswa diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.


Ini adalah hal yang paling kutunggu pulang ke rumah lalu istirahat di kamar kesayangan ku. Walaupun sebelum masuk kelas tadi ada kejadian yang sangat sial dan sangat menyebalkan tapi tak apalah yang penting sekarang aku bisa pulang.


"Anin lo mau pulang," kata sahabatku Thania, aku hanya mengangguk antusias siapa sih yang tak mau pulang ke rumah apa lagi tadi pelajaran yang sangat membosankan.


"Kamu mau bareng? Setidaknya sampai jemputanmu datang," ajakku Thania mengangguk setuju lalu kami berjalan keluar kelas.


Kami sekarang di halte bus yang ada di depan sekolah tempat yang biasanya Thania menunggu jemput. Dan apa yang kulihat, si devil itu melewati kami bersama temannya menggunakan motor sport mereka masing-masing dan hey apa yang salah dariku kenapa dia menatapku tajam seperti itu. Tak usah kau pikirkan dia Anin anggap saja dia itu angin yang tak dapat dilihat.


"Anin jemputan gue udah datang lo gak pulang."


"Kalo gitu aku pulang duluan ya, dah Nia," kataku lalu memakai helm dan menghidupkan motor maticku.


"Bye Anin hati-hati dijalan," katanya lalu pergi ke mobil yang menjemputnya.


***