My Memory

My Memory
Permulaan



Kesal, perasaan itu yang sedang kurasakan sekarang setiap kali mengingat apa yang terjadi kemarin membuat kesal.


Karena kesal terhadap Nata aku jadi tak sadar meremas baju yang ada ditanganku. Oh tidak bajunya jadi kusut bagaimana ini tidak mungkinkan aku izin pulang ke rumah hanya untuk menyetrika baju ini.


Handphone yang berada di sakuku bergetar sepertinya ada yang menghubungiku. Kugeser ikon hijau bergambar telpon.


"Hall_" belum selesai aku menyapa si penelpon yang ada di seberang sana dia sudah meneriakiku kalau saja telponnya tak aku jauhkan bisa tuli aku mendengar teriakannya.


"Ke rooftop sekarang! kalau lo gak datang dalam hitungan ke sepuluh gue hukum lo," apa hukuman lagi. Kenapa sih dia selalu mengancamku dengan hukumannya terus. "Dan jangan coba-coba putusin sambung telponnya."


Ku perhatikan sekeliling ku untuk memastikan tidak ada Nata yang sedang mengawasi ku. Namun aku salah saat kulihat ke atas, dapat kulihat dia ada di rooftop gedung fasilital kenapa tidak di rooftop gedung kelas agar aku mudah kesana. Dapat kulihat dia juga melihatku bersama kedua temannya ku pikir dia hanya punya satu teman tapi ternyata tidak.


"Satu," dia mulai menghitung. Aku yang berada depan gedung kelas jadi harus berlari karena dia hanya memberi waktu sampai hitungan ke sepuluh. Aku pasti kena hukumannya lagi mustahil aku bisa sampai di rooftop dalam hitungan sepuluh.


Sekarang aku ada di lantai dua dimana tempat semua ruang eskul berada tinggal satu lantai lagi yang harus ku lewati.


"Enam," hitunganya lagi. Entah memang dia sengaja menghitung lambat atau apa tapi aku bersyukur setidaknya aku bisa sampai di rooftop bila dia terus menghitungnya seperti ini.


Saat aku berada di tangga terakhir dia sudah menghitung ke delapan. Tinggal dua angka lagi maka dia akan berhasil menghukumku. Ayo Anin kamu pasti bisa tinggal beberapa anak tangga lagi maka kamu tak akan di hukumnya.


"Sepu_" saat dia mau menyebutkan angka sepuluh aku langsung membuka pintu yang ada di rooftop. "Gue disini," kataku masih tersengal-sengal karena harus berlari dari lapangan dan menaiki anak tangga untuk sampai kesini.


"Lo lama! Mana baju gue?" Dasar gak sabaran banget sih nih orang. Aku langsung memberikan baju yang kubawa sedari tadi.


"Kok jadi lecek gini?" Tanyanya saat melihat bajunya kusut karena ku kucek. "Oh itu ... tadi ... anu," kataku bingung mau menjelaskannya gimana.


"Halah paling lo sengajakan bikin baju gue sampai lecek kaya gini kan," aku tau pasti dia liat aku mengucek bajunya tadi dan dia sengaja mempermasalahkan hal ini. "Lo setrika baju gue sampai rapi. Gue mau bajunya udah rapi pas jam istirahat kedua."


Dia gak mikir apa gimana caranya aku bisa setrika bajunya dan perlu dia ingat kalau ini di sekolah bukan di rumah.


"Tapi_" belum selesai aku bicara dia sudah memotongnya duluan. "Gak ada tapi-tapian, pokoknya gue mau baju itu udah rapi pas istirahat kedua," katanya lalu maju beberapa langkah ke depanku. "Perlu lo ingat ini baru permulaan dari hukuman lo," bisiknya di telingaku.


"Ayo guys mending kita ke kantin," katanya mengajak temannya pergi ke kantin tapi tunggu dulu bukannya dia yang berantem dengan Nata waktu itu. Jadi mereka temenan kalau tau gitu mending aku gak usah melerai mereka berantem dan aku pasti gak akan berurusan dengan Nata kaya gini.


***


"Lo tau dimana tempat gue bisa setrika baju ini?" Tanyaku lalu mengeluarkan baju Nata yang sedari tadi ada didalam laciku. "Ini kan baju cowok! Kok lo ... Jangan bilang lo di bully."


Aku diam bingung mau menjelaskannya gimana, apalagi Nia termasuk orang yang bersumbu pendek A.K.A pemarah.


"Siapa? Siapa yang ngbully lo? Biar gue laporin mereka ke kepsek," katanya berapi-api. Sudah kubilang Nia itu mudah sekali marah. "Nata, Adinata Reynand dia yang_"


"Dia yang ngebully lo? Bukannya dia anak beasiswa dan juga gak mungkin banget dia ngebully lo. Lo gak salah orangkan?"


"Lo gak percaya sama gue?" Nia hanya menggelengkan kepalanya. Emang Nata itu seperti apa? Dia anak beasiswa? Terus ini semua apa? Nata itu sebenarnya bad boy atau gak sih.


"Udahlah Nia lebih baik lo bantu gue mikir gimana ini baju udah rapi saat istirahat," dari pada membahas Nata yang gak tau dia itu bad boy atau gak mending cari cara buat baju ini bisa rapi dan aku jadi terbebas dari hukumannya nanti.


"Oh ya gue ingat kitakan ada eskul tata busana siapa tau disana lo bisa setrika nih baju," sarannya, nah gitu kek dari tadi. "Tapi gimana gue masuk ke ruangan eskul tata busana."


"Kalau masalah kunci lo tinggal minta dengan ketos soalnya semua kunci ruang eskul dia yang pegang tapi lo juga harus izin ke kak Cahaya dia ketua eskul tata busana." Huh ribet ternyata harus izin ke kak Cahaya dulu, minjam kunci dengan ketos terus belum lagi aku menyetrika baju Nata, emang sempat dalam waktu 10 menit.


"Tapi ini 10 menit lagi istirahat loh emang sempat?" Kataku tak yakin. "Gini aja lo pinjam kunci ke ketos terus gue minta izin kek kak Cahaya kalau kaya gini kayanya keburu deh."


"Oke kalau gitu tunggu apa lagi mending kita jalan sekarang dan lo tau kelas ketos dimana."


"Di kelas XI MIPA 1 terus bilang aja lo lagi cari kak Dante," katanya lalu kami pergi ke lantai dua khusus untuk kelas XI.


***


Jangan lupa Like and comments ya ^-^


Saran dan kritik kalian sangat membantu ku.


Bagi reader yang udah baca terimakasih ^-^