My Memory

My Memory
Hari Pertama



"Aku sayang kamu. Kila," kata  laki-laki itu terus memandangku.


Dan disini aku berdiri didepanya melihatnya tersenyum tulus padaku. Kami berdua sama-sama memakai pakaian putih biru khas seperti baju sekolah anak SMP.


Aku ingin melihat wajahnya. Namun tak bisa, wajah kabur dalam pandanganku. Aku tak bisa mengenali wajahnya.


Dan lebih membuatku terkejut tubuhku bergerak dengan sendirinya seakan-akan punya pikirnya sendiri. Aku berlari dan langsung memeluknya.


"Aku juga, aku juga sangat menyayangimu R_"


Kata itu begitu saja terucap oleh mulutku. Siapa dia sebenarnya kenapa tubuhku bisa bergerak sendiri saat bersamanya. Tiba-tiba aku merasakan bahuku digoyang oleh entah siapa dan tak lama aku mendengar ada yang memanggilku.


"Anin! Hei bangun sayang kamu harus sekolah hari ini," oh aku sangat kenal dengan suara ini. Ini suara tante tercintaku. "Ayo bangun nanti kamu telat loh."


"Hmm," jawabku petanda aku sudah bangun kalau tidak tante pasti akan terus menggoyang bahuku sampai aku benar-benar terbangun. "Iya tante Anin udah bangun."


Kubuka mataku yang masih sangat mengantuk kulihat tante sudah pergi dari kamarku setelah itu kulirik jam yang tertempel di dinding kamarku. Jam menunjukkan pukul 05.30 masih cukup banyak waktu untukku bersiap.


Laki-laki itu siapa dia? Kapan aku mengenalnya? Dan siapa R? Beberapa pertanyaan terus berputar di kepalaku memikirkan apakah itu hanya mimpi atau kepingan dari ingatanku.


Karena malas berpikir terlalu keras di pagi hari akhirnya kuputuskan untuk mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.


***


Sesampainya aku di sekolah bukan kelas yang kudatangi tetapi mading sekolah. Hei ayolah bagaimana mungkin aku bisa tau kelasku dimana sedangkan aku tak ikut MOS dan pengumuman pembagian kelas pasti diberitahu saat acara MOS berakhir.


Cukup mudah menemukan mading sekolah karena terletak disamping ruang guru. Baiklah coba kita lihat dimana kelasku berada.


Akupun mulai mencari namaku Anindya Shakila pasti berada dibarisan atas karena namaku diawali hurup A dan itu dia aku berada di kelas X-B.


Sistem pembagian kelas di sekolah ini secara acak tak sesuai dengan nilai rapot atau tes masuk itu karena kelas yang akan aku tempati adalah kelas sementara. Semua kelas X akan dirombak dari kelas A sampai F menjadi kelas perjurusan baik itu IPA, IPS atau Bahasa. Dan perombakan dilakukan di akhir semester satu dimana nilai kita yang akan menentukan kita akan masuk kelas jurusan apa. Dan saat kelas jurusan telah di bentuk maka kelas itu akan menjadi kelas tetap sampai kami lulus dari sekolah ini.


Di sekolah ini terdapat dua gedung dan masing-masing memiliki 3 lantai. Gedung pertama adalah untuk ruang guru, tata usaha, dan fasilitas sekolah lainnya dan gedung kedua adalah gedung kelas yang dimana kelas X dilantai paling atas, kelas XI dilantai tengah, dan dilantai dasar tentu saja kelas XII.


Sepagi ini aku harus berolah raga untuk sampai ke kelasku dan jujur saja itu sungguh menyebalkan. Aku memang sengaja datang sepagi ini karna aku tak ingin dapat tempat duduk paling belakang dan paling pojok.


Tak perlu duduk paling depan tapi setidaknya aku ingin duduk di tengah dan kalo bisa sih di dekat jendela.


Kuedarkan pandangan mataku keseluruhan kelas dan kursi yang kuincar belum ada yang menempatinya, oh terimakasih tuhan kau masih menjaga kursi itu untukku. Posisinya pas sekali tak terlalu dibelakang dan tak terlalu didepan dan lebih bagusnya lagi kursi itu ada disebelah jendela, oh aku sangat sangat berterima kasih tuhan.


Sebaiknya segera kutempati kursi itu sebelum keduluan orang lain. Saat aku berada ditempat dudukku yang akan aku tempati selama satu semester kedepan aku mulai membuka novel yang sengaja kubawa dan oh betapa senangnya aku sekarang.


"Hai boleh aku duduk disebelahmu," tanya seseorang membuyarkan konsentrasiku membaca. Akupun akhirnya melihatnya. "Boleh aku duduk disebelahmu."


Kuedarkan pandanganku ke  seluruh kelas masih banyak tempat duduk yang kosong karena hanya sedikit murid yang telah datang kenapa dia mau duduk disebelahku.


"Tidak boleh yah?" Katanya menyadarkanku, aku tersenyum lalu berkata, "tentu saja boleh."


"Terimakasih," jawabnya singkat lalu duduk disebelahku. "Namaku Thania, Adlia Thania," Katanya memperkenalkan diri.


"Namaku Anin, Anindya Shakila," jawabku mengikuti caranya berkenalan.


"Apa kamu tak merasa bosan?" Katanya sambil menghadap kearahku. "Mau jalan-jalan bersamaku? Aku bosan terlalu lama dikelas."


"Eh baiklah aku juga mulai bosan di kelas," kami pergi mengelilingi sekolah ke tempat yang belum aku ketahui di sekolah ini.


"Apa kamu mau pergi ke kantin? Entah kenapa perutku terasa lapar," katanya menampilkan senyuman khasnya. "Ya tentu."


Saat kami di kantin satu kata yang terlintas dipikirkanku wow!, Wow penuh banget kantinnya sampai-sampai aku merasa kami takkan dapat tempat duduk.


"Kau yakin mau makan di kantin," kataku menyakinkan Thania. "Yakin banget soalnya gu ... eh maksudnya aku udah lapar banget."


"Pakai gue juga gak papa kok," aku diam sejenak melihat sekeliling siapa tau ada tempat untuk kami, nah itu dia ada yang kosong. "Nia kita duduk disana aja tempatnya kosong kok."


Kami duduk disana lalu Nia pergi memesan makan ke salah satu penjual yang ada di kantin. Aku sendirian Nia cukup lama mungkin karena mengantri.


Kuedarkan pandanganku keseluruhan kantin disini banyak kakak kelas dari pada murid baru seperti kami mungkin mereka pergi ke kantin karena merasa bosan sama sepertiku karena hari ini proses belajar mengajar belum aktif mungkin besok sudah akan belajar seperti pada umumnya.


Saat melihat ke seluruh kantin pandanganku bertemu dengan seseorang yang melihatku kaget aku tak dapat mendengar apa yang dia ucapkan tapi aku bisa melihat gerak bibirnya yang menyebutkan nama seseorang  'Kila'.


***