
Dengan tubuh yang berkering kami di suruh untuk baris. "Baik jam pelajaran olahraga telah selesai kalian boleh istirahat dan jangan lupa ganti baju olahraga kalian dengan baju seragam." Arahan dari Pak Rinto selaku guru olahraga.
"Baik pak." Jawab kami serempak.
Setelah dibubarkan kami mulai berpencar ada yang langsung pergi ke kantin untuk istirahat ada pula yang pergi untuk mengganti baju terlebih dahulu. Sama seperti lainnya aku dan Nia mau ganti baju terlebih dahulu kami pun berjalan ke arah loker kami untuk mengambil baju seragam.
"Nanti habis ganti baju kita liat mading dulu ya." Pintanya saat kami masih berjalan di selasar kelas.
"Nilai kita udah keluar?" Tanyaku memastikan. Ku lihat Nia mengangguk kecil mengiyakan.
Aku jadi gugup gimana ya hasil belajar ku dengan Nata selama dua hari kemarin, semoga saja aku lulus semua.
"Gue duluan ya." Kata Nia setelah mengambil baju seragamnya lalu masuk ke dalam toilet yang ada di ruang loker khusus cewek.
"Iya duluan aja." Sahutku, ku buka loker ku untuk mengambil baju seragam ku. Ku lihat surat berwarna merah muda disertai dengan coklat ada di atas seragam sekolah ku. Surat dari siapa? Ku lihat surat tersebut tidak ada nama pengirimnya.
Aku mulai penasaran ku buka surat tersebut, terdapat pesan singkat tertulis di sana.
'Hai Kila, akhirnya aku menemukanmu, apakah kau masih sama seperti dulu. Bukankah coklat makan kesukaanmu ku harap kau mau menerimanya.
Salam R'
Siapa dia, R bukankah itu nama yang selalu ada di dalam mimpiku. Apakah dia juga sekolah disini tapi kenapa dia baru mengirim surat setelah sekian lama. Siapa dia sebenarnya, banyak pertanyan terus berputar di kepalaku hingga aku mulai merasa pusing rasanya.
"Cie! Dapat surat dari siapa nih!" Goda Nia mengagetkan ku.
"Entah, aku juga gak tau dari siapa." Kataku jujur. "Emang gak ada nama atau petunjuk buat lo tau gitu?" Tanya Nia sekali lagi.
"Ada, cuma aku juga gak tau siapa. Kamu tau siapa di sekolah ini yang namanya diawali huruf R."
"Kalo itu mah banyak."
"Ya udah deh dari pada pusing buat mikirin surat gak jelas ini mending aku ganti baju aja." Kataku lalu mengganti baju ke toilet.
Saat berganti baju di toilet aku terus kepikiran siapa sebenarnya pengirim surat itu. Kesimpulan dari semua mimpi ku, yang ku tau R itu adalah orang yang aku sayang tapi kenapa dia baru muncul sekarang? Kenapa gak dari dulu aja saat aku pertama kali masuk sekolah ini. Kenapa dia harus muncul di saat aku sudah menyadari kalo aku punya perasaan ke Nata, kalo aku suka Nata. Kalo bisa memilih aku tak ingin R itu muncul kembali di kehidupan ku sekarang.
Tok tok tok
"Nin udah belum, bentar lagi jam istirahat selesai." Kata Nia mengingatkan.
"Kelamaan ya? Kalo gitu ayo kita ke mading dulu untuk liat nilai kita."
Aku dan Nia berjalan ke arah mading sekolah, ku lihat disana ada beberapa siswa yng sedang melihat nilai juga. Saat kami sudah di depan mading kamipun mulai sibuk mencari nama masing-masing.
Ku cari namaku dengan teliti dari atas ke bawa terus kulihat dan akhirnya ketemu. Ku lihat nilai empat pelajaran ku yang tidak lulus sebelumnya betapa senangnya aku nilaiku sekarang lulus semua. Dengan bahagia ku foto nilai tersebut sebagi bukti nanti untuk ku tunjukkan ke Nata. Dia pasti bangga melihat nilaiku karena nilai ku termasuk yang tertinggi di antara siswa lain yang mengikuti ujian perbaikan.
Rasanya tidak sia-sia aku belajar dengan keras dengan bimbingan Nata tentunya.
"Nilai aku lulus semua Nia." Kataku bahagia, "kamu gimana?"
"Sama, nilai gue juga lulus semua. Nilai lo tinggi baget Nin selamat ya." Ucap Nia tulus.
"Hehe sebenarnya ini juga berkat Nata, dia yang ajarin aku selama dua hari kemarin buat persiapan ujian ini." Jelasku senang.
"Wah... curang! Lo gak ngajak-ajak gue kalo lo dapat guru privat hebat kaya gitu." Kata Nia meraju padaku. Aku jadi tak enak dengan Nia, pasti dia belajar dengan keras untuk memahami pelajaran yang tidak dia mengerti sendiri.
Karena terlalu senang Nata yang akan mengajari ku, aku sampai kelupaan mengajak Nia buat belajar bareng.
"Maaf ya, aku lupa ngajak kamu." Kataku dengan perasaan bersalah. "Tapi aku janji kalo nanti Nata mau belajar bareng lagi aku akan mengajakmu."
"Janji ya." Katanya menyakinkan. "Gitu dong, kita harus susah senang sama-sama." Katanya sambil merangkul ku dengan semangat.
"Ayo kita ke kantin." Ajaknya aku langsung mengangguk mengiyakan jujur saja aku sudah lapar dari tadi.
Setelah kami sampai di kantin kami langsung berpencar menuju stand penjual makan favorit kami masing-masing.
"Mbak nasi goreng dan teh es ya satu."
"Tunggu ya de," kata si penjual lalu sibuk membuat pesananku. Kantin saat ini memang tidak terlalu ramai karena sudah banyak siswa yang kembali ke kelas. Hanya tinggal segelintir siswa termasuk aku dan Nia yang terlambat untuk istirahat.
"Ini de pesanannya," katanya seraya memberikan sepiring nasi goreng dan segelas teh es kepadaku. "Berapa mbak."
"Lima belas ribu," akupun langsung membayar sesuai harga yang disebutkan mbak penjual nasi goreng. Setelah itu ku bawa makanan ku sambil mencari keberadaan Nia, ku dapati Nia sedang duduk di kursi paling pojok sebelah kanan kantin akupun berjalan ke sana.
Tanpa menunggu lagi kamipun makan makanan kami dan semoga saja waktu istirahatnya cukup untuk kami sampai selesai makan.
***