My Love From The Sea

My Love From The Sea
Kilas Balik Pertemuan



" Siapa nama kamu?"


Belva menghentikan langkahnya setelah mendengar pertanyaan Sagara. Bagaimana bisa lelaki itu tidak tahu namanya selama ini. Seingatnya, mereka sudah kenal seminggu. Dan Sagara baru menanyakan namanya? Astaga!


Belva yang kesal membiarkan lelaki itu meninggalkannya di jalan setapak dimana di sisi kanan-kirinya terdapat tambak-tambak dan pagi-pagi begini, terlihat banyak orang yang bekerja di sana. Ada yang menabur makanan, ada pula yang memanen ikan-ikan, undang-udang, bahkan belut pun ada.


" Kenapa berhenti?" Sagara yang sadar langsung berbalik dan berjalan mendekati Belva.


" Kenapa kamu baru tanya namaku?" Belva ngambek. Ia bicara tapi membuang muka sembari bersedekap.


" Menurut kamu setiap awal pertemuan harus tanya nama?"


Belva tidak suka dengan kebiasaan Sagara yang banyak tanya, " ya."


" Kalau begitu, Ayo kita ulangi pertemuan kita!" mata Sagara kelihatan berbinar-binar. Lelaki itu meraih tangan Belva dan menariknya untuk melanjutkan perjalanan menuju pantai.


Sagara memang berencana ingin ke pantai sejak kemarin. Tapi, melihat Belva sebentar-sebentar tidur, ia tidak tega meninggalkan. Kata Ayahandanya, perempuan itu perlu dijaga. Jadi, Sagara memutuskan untuk tetap berada di dekat Belva selama perempuan itu terlelap. Dan ketika ia mengatakan ingin ke pantai, reaksi Belva justru diluar dugaan. Perempuan itu kelihatan senang sekali, saking senangnya sampai dia bangun sangat pagi. Bahkan sebelum matahari terbit.


Dan sekarang, mereka sudah berjalan lumayan jauh melewati jalan setapak dimana tambak-tambak digantikan dengan tanaman bakau yang tinggi-tinggi. Suasana di sini sejuk sekali karena cahaya matahari tidak dapat dengan leluasa menembus daun-daun lebat yang melindungi tanah bercampur pasir di areanya agar tetap lembab.


Sagara masih menggandeng Belva melewati kebun bakau yang jalan setapaknya lebih sempit dari jalanan di tambak dan kebun melati. Di sini, mereka harus hati-hati agar tidak terpeleset dan masuk ke akar-akar bakau yang besar-besar dan tinggi-tinggi itu tumbuh.


" Sagara, apa nggak ada jalan lain selain lewat sini?" Belva bertanya, menyadari jika ternyata jalan ini begitu mengerikan. Tapi, kenapa waktu itu terasa tak semenakutkan ini? apa karena Belva tidak punya kesadaran penuh pasca tenggelam?


" Kenapa kamu banyak protes?"


Tak mendapatkan jawaban, Belva memilih diam. Lelah ngobrol dengan Sagara.


Tak lama, Belva mendengar suara deburan ombak. Artinya, mereka sudah dekat. Bahkan sepuluh langkah kemudian, Belva dapat melihat air berkejaran dari kejauhan.


" Wah..." Belva bergumam, takjub. Ini adalah kedua kali Belva kemari. Tapi, kali ini ia bisa melihat betapa indahnya pemandangan di depan sana. Pasirnya yang merah muda seperti warna kesukaannya membuat mata Belva semakin memuji keindahan alam di depannya.


Tapi, mengapa Belva baru sadar jika tempatnya pertama terbangun memiliki pasir berwarna merah muda?


Mereka telah berada di pesisir. Berdiri memandang hamparan samudera yang membentang luas. Menikmati ombak yang berkejaran mengenai kaki-kaki yang bertelanjang. Sesekali ombak itu menarik kaki Belva dan Sagara ke depan. Membuat Belva terhuyung dan memegang lengan Sagara agar tidak jatuh.


" Jadi ayo kita mulai," Sagara membuka percakapan. Beruntung bagi Belva karena lelaki itu tidak membukanya dengan pertanyaan.


" Mulai apa?" Belva tak paham kemana arah pembicaraan Sagara.


Belva langsung paham, " mana bisa!"


Sedetik setelah mengucapkan itu, Belva merasa ombak semakin besar. Menerjangnya. Menyelimutinya. Menariknya ke tengah dalam pelukan. Belva berusaha meminta tolong. Tapi, suaranya tertahan. Sagara kemana? Kenapa lelaki itu tidak menjaganya. Bukannya Sagara bilang jika Ayahandanya mengatakan jika Sagara harus melindunginya? Tapi kemana dia? Jika memang bisa membaca perasaan Belva, harusnya lelaki itu di sini. Karena Belva sangat ketakutan. Terlebih ketika ia mulai tenggelam. Napasnya megap-megap, seperti ikan hidup yang terlalu lama dijemur di daratan.


Belva tak pernah berpikir jika ia akan mengalami ini lagi. Tenggelam di lautan yang dalam. Gelap dan hampa. Menakutkan. Kedinginan. Belva menutup mata. Sudah pasrah dengan ajal yang mungkin akan menjemputnya. Tapi, ia masih sadar. Bahkan sangat sadar. Otaknya masih bisa berpikir. Telinganya masih bisa mendengar. Namun, mata dan mulutnya tidak dapat bergerak.


Tiba-tiba, sebuah tangan meraih pergelangan tangannya yang mulai pucat. Sontak Belva mengingat sesuatu yang dilihatnya di kedalaman mata Sagara waktu itu. Ia yakin jika sesuatu yang menariknya adalah makhluk setengah ikan, setengah manusia yang sangat rupawan. Belva merasakan tubuhnya semakin naik begitu cepat hingga ia dapat merasakan oksigen perlahan-lahan menuju paru-parunya. Tapi, sepertinya kuantitas air di dalam sana lebih banyak sehingga Belva merasa sesak napas.


Belva merasa dibaringkan di atas pasir yang panas. Tak lama, langsung digantikan dengan suatu benda yang tidak terlalu keras tetapi terasa sejuk. Belva tidak tahu apa itu karena meski bisa merasa, mata dan mulutnya tak bisa berfungsi dengan baik.


Jantung Belva berdebar sangat cepat sekali ketika merasakan embusan napas di atas wajahnya. Embusan itu beraroma laut. Semakin lama semakin terasa dekat. Belva benar-benar tidak mengerti dengan sesuatu yang begitu menggila dalam dirinya. Perasaannya hangat dan sangat tenang. Tiba-tiba... Belva merasa ada sesuatu menyentuh bibirnya dan menekan-nekan dadanya. Tak lama, Belva membuka mata. Terkejut bukan main ketika menyadari ia tak lagi terbaring. Melainkan sudah duduk, berhadapan dengan Sagara dengan bibir yang saling bertaut.


Lima detik. Tapi terasa sangat lama. Sagara menarik kepalanya menjauh. Seperti tanpa dosa, lelaki itu mengulas senyum tipis yang sangat misterius.


" Siapa nama kamu, wahai manusia?"


Belva masih diam. Mematung. Belum sadar terhadap apa yang baru saja terjadi. Sagara menciumnya? Apakah waktu itu dia juga melakukan hal yang sama?


" Siapa nama kamu, wahai manusia?" Sagara bertanya sekali lagi. Kali ini membuat Belva mengerjap-ngerjapkan matanya.


" Eh... ya? Belva Anindira," Belva menjawab dengan gelagapan.


" Jadi, aku perlu panggil kamu apa?" tanya Sagara lagi. Sangat tenang.


" Belva."


" Baiklah. Belva Anindira. Aku cuma perlu panggil kamu Belva," Sagara mengulangi apa yang baru ia ketahui. Kemudian melanjutkan, "Ayah... namanya Belva," teriaknya ke arah samudera luas di depannya.


Belva tak tahu apa yang sedang dilakukan Sagara. Yang jelas, ia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia alami. Kembali tenggelam ke dasar laut bukanlah hal yang menyenangkan. Tapi, mengetahui kenyataan jika seseorang yang menarik lengannya waktu itu adalah Sagara, Belva jadi merasa berhutang budi. Dan... menyadari jika Sagara menciumnya... maksudnya memberi napas buatan dengan cara menempelkan bibir membuat hati Belva jadi campur aduk.


" Namaku Raden Mas Agung Sagara Banyu Biru."


Belva menoleh. Bertepatan dengan Sagara yang juga menoleh ke arahnya.


" Jadi, kamu lapar?"


***