My Love From The Sea

My Love From The Sea
Mulai Sekarang, Kamu Pacarku



Belva membuka mata. Mengerjakan berkali-kali, iya langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Kaget karena ia terbangun di kamarnya.


Kapan ia pulang? Apakah semalam Sagara yang mengantarnya dalam keadaan tidur? peristiwa semalam, apakah ia mimpi? Belva bertanya-tanya. Ia yakin apa yang ia lakukan semalam nyata.


Pintu kamar Belva terbuka. Menampakkan Bi Mirna yang tersenyum ke arahnya.


" Non Belva sudah bangun?"


Belva mengulas senyum, " sudah, Bi. Kalau boleh tahu, semalam Belva pulang jam berapa ya?"


" Jam sembilan, Non. Non Belva tidur nyenyak banget. Tapi, untungnya Mas Sagara baik banget mau gendong Non Belva ke kamar," jawab Bi Mirna sembari membuka tirai jendela yang membuat Belva Silau.


Belva melirik jam dinding yang menunjukkan pukul delapan pagi. Semenjak ia menghilang dan kembali lagi, Belva tidak tahu harus melakukan apa. Posisinya di bank telah digantikan seseorang secara permanen dan Belva juga sudah enggan masuk lagi ke perusahaan beken itu.


" Non, Mas Sagara itu keliatan baik banget ya," tiba-tiba Bi Mirna berkomentar, " oh ya. Sekarang kok Bibi jarang liat Mas Arman main kesini ya, Non?"


Setelah Belva senang karena Bi Mirna memuji Sagara, kini moodnya berubah jelek karena menyinggung-nyinggung soal Arman.


" Putus, Bi."


Jawab Belva pada akhirnya. Sudah saatnya ia memberi tahu satu per satu anggota keluarganya jika ia dan mantan pacarnya yang brengsek itu sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.


Belva melirik Bi Mirna yang terpaku. Tangannya yang memegang kemonceng itu tadi bergerak-gerak kesana-kemari, tapi kini, berhenti. Belva tahu Bi Mirna pasti terkejut. Hubungan lama yang serius dan sudah nyaris menikah kini kandas karena hal gila yang akhirnya Belva ketahui sendiri sebelum Arman benar-benar menjadi suaminya.


" Maaf, Non. Bibi nggak bermaksud buat...."


" Nggak apa-apa kok, Bi. Belva bersyukur banget bisa putus dari Arman."


Bi Mirna tidak berkomentar lagi. Mungkin takut Belva akan tersinggung atau apa. Tapi, Belva justru mulai bercerita tentang semuanya. Di saat seperti ini, Belva merasa memiliki orang tua. Sudah sejak lama, Belva menganggap Bi Mirna sebagai Ibu kedua.


" Non... Bibi tahu. Non Belva pasti berusaha buat mencari yang paling baik dari yang baik."


Bi Mirna benar. Belva melihat Bi Mirna menjauh darinya dan keluar kamar, menutup pintu, meninggalkan Belva yang masih duduk diam di atas ranjangnya. Meraih ponsel, rupanya ada pesan-pesan yang belum ia baca dari Sagara.


Dari Sagara


Selamat tidur. Aku harap bangun tidur nanti, ingatan kamu segera pulih.


Belva, aku rindu.


Kenapa kamu tidak mau pergi dari pikiranku, sih?


Tidurlah. Aku akan menunggu sampai matahari bersinar lagi.


Belva... aku rindu.


" Non Belva, ada Mas Sagara."


Belva kaget mendengar Bi Mirna berteriak di tengah pintu kamarnya secara tiba-tiba. Belum sempat Belva menyelesaikan adegan senyum-senyum sendiri, kini lelaki yang membuat dirinya berbunga-bunga bahkan di jam sepagi ini sudah duduk di ruang tamu.


Apakah dia tidak bekerja?


Ah! persetan dengan itu. Belva langsung membersihkan diri dan sepuluh menit kemudian, sudah tampil lumayan rapi.


Belva bersiap keluar kamar. Dan Belva betul-betul terkejut karena Sagara duduk di ruang tamu dengan penampilan super kasual yang membuatnya seratus kali lipat lebih tampan dari biasanya.


" Ayo kita jalan-jalan," Sagara langsung berjalan menghampiri Belva dan menggenggam tangan Belva.


" Kamu tidur nyenyak semalam?"


Suara Sagara memecah lamunan Belva yang melantur, " ya."


" Belva, kamu mau aku ajak jalan-jalan kemana?"


Bukannua menjawab, Belva justru bengong memandangi Sagara yang sedang menyetir dari samping.


" Belva, aku tahu aku tampan. Tapi, aku perlu konsentrasi menyetir. Kamu jangan begitu," rupanya Sagara juga merasa risih dan salah tingkah dipandangi Belva macam itu.


" Sagara, terimakasih ya."


" Untuk apa?"


" Terimakasih karena kamu udah buat aku bisa lupain orang brengsek secepat membalikkan telapak tangan."


" Ya."


Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Tapi Belva mengamati gerak-gerik tangan Sagara yang ingin menyetel lagu. Setelah lagu terputar, betapa terkejutnya Belva. Queen, My Chemical Romance, The Beattles, Whitney Houston, Michael Jackson, Stevie Wonder dan masih banyak lagi playlist dari lagu-lagu jadul yang terputar. Rupanya, selera musiknya sekelas musisi Ahmad Dhani dan Diva-Diva hebat di Indonesia.


Meskipun selera musik Sagara tidak main-main uniknya, Belva lebih suka jika musik yang terputar lebih kekinian.


" Kamu mau ganti lagunya?" seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Belva, Sagara bertanya.


" Boleh?"


Sagara mengangguk. Belva yang mendapat persetujuan dari Sagara langsung mengambil ponsel Sagara dan mencari lagu-lagu yang lebih masuk ke telinganya seperti Conan Gray, Travis Scott, Ariana Grande, Justin Timberlake, Niki, Rich Brian dan musik-musik dua ribuan ke atas lainnya.


" Jadi... siapa penyanyi idola kamu?" Belva membuka pembicaraan. Sepertinya membahas musik dan idola akan sangat menyenangkan disaat macet-macetan karena masih terlalu pagi. Orang-orang masih sibuk berangkat kerja.


" Aku tidak yakin mengidolakannya. Tapi aku suka suaranya Freddie Mercury."


Itu nama vokalis band Queen. Jika dibandingkan Freddie, Belva lebih suka grup acapella yang pernah mengcover lagu Bohemian Rhapsody dengan sangat luar biasa keren, " mungkin kamu bisa liat Pentatonix mengcover lagu Freddie Mercury. Menurutku, bagus banget!"


" Rekomendasi dari kamu, pasti aku tonton," Sagara menghentikan mobilnya di salah satu resto, " karena aku tahu kamu belum sarapan, jadi... ayo kita sarapan dulu."


Belva mengangguk dan keluar dari mobil. Masuk ke resto bergandengan tangan, seolah mereka tidak ingin melepaskan satu sama lain.


" Kalau kamu, siapa penyanyi yang kamu suka?" kini, Sagara yang bertanya. Mereka duduk berhadapan di salah satu kursi di dekat jendela.


Belva tak yakin pada siapapun, " nggak ada kayaknya. Aku suka semuanya yang menurutku enak."


" Kalau aku, kamu suka?" Sagara mengangkat sebelah alisnya, membuat tingkat ketampanannya meningkat lagi.


Belva hanya senyum-senyum malu. Wajahnya memerah. Soal itu, harusnya Sagara tidak perlu tanya apa-apa. Bukannya perasaan Belva sudah otomatis selalu berbunga-bunga jika dekat-dekat dengan Sagara?


" Aku suka kamu, Belva," ucap Sagara singkat, padat dan membuat Belva semakin tidak berdaya.


Astaga. Belva benar-benar tidak bisa menyembunyikan apapun jika Sagara mengatakan hal begitu lagi.


" Mulai detik ini, kamu pacarku, ya."


Ucapan maut apalagi itu? Belva bahkan tidak bisa merespons apa-apa selain berusaha menyembunyikan semburat merah di pipi yang kelihatan begitu jelas. Bahkan ketika pelayan datang menawarkan menu, Belva tidak berani memesan apapun. Menu sarapannya, ia serahkan kepada Sagara. Terserah lelaki itu mau memesan apa. Yang jelas, Belva hanya berusaha bertingkah normal di tempat umum. Tapi Sagara selalu membuat Belva selalu kelihatan konyol dengan ungkapan-ungkapan tak terduganya.


***