My Love From The Sea

My Love From The Sea
Bukan Manusia



Belva duduk di ranjangnya sembari memangku bantal. Pikirannya mengawang, membayangkan betapa anehnya memar yang tiba-tiba hilang di pipi Sagara. Ia masih tak habis pikir dengan apa yang tadi ia dengar dari mulut Sagara. Sama sekali tidak masuk akal dan mustahil.


" Baiklah. Aku bukan manusia," ucapan Sagara serius. Pandangannya masih membuat Belva memabukkan meski ia sedang ketakutan, " kamu sudah tahu segalanya, Belva. Sadarlah."


Belva berusaha mengingat, namun tidak ada yang dia ingat selain beberapa bayangan yang tiba-tiba muncul di kepalanya secara tiba-tiba. Ah, memaksakan diri untuk mengingat membuat kepalanya semakin berdenyut-denyut nyeri tak tertahankan.


" Apa kalimat putera mahkota penguasa laut yang bijaksana itu betulan?" Belva begitu polos. Ia tidak dapat berpikir lagi. Baginya, kehilangan luka memar dalam waktu beberapa detik setelah diusap air bukanlah hal yang logis.


" Benar. Itu bukan omong kosong."


Kini, ingatan tentang apa yang mereka lakukan di kamar berdinding emas terasa masuk akal. Padahal, Belva sempat menganggap itu hanya mimpi. Karena ketika terbangun, Belva sudah ada di kamarnya.


" Kemarin itu kamar kamu?"


Sagara mengangguk, " Belva, aku sedang berusaha menggali ingatan kamu lagi. Kamu sudah tahu sangat banyak soal aku, duniaku dan beberapa teman-temanku."


" Teman-teman?"


" Ya. Aku tidak mau menyebut mereka. Karena, salah satu dari mereka akan mengacaukan kita kalau sampai kesini."


Ah! Belva membanting tubuhnya di atas ranjang. Kini, matanya memandang langit-langit ruangan yang rendah. Warnanya putih bersih seperti baru dicat ulang. Entah kapan.


Memejamkan mata, Belva melihat sekelebatan atap kayu yang tinggi. Ia sedang tidur di sebuah bale kayu. Disebelahnya ada sesuatu yang melingkar. Hitam. Kemudian bergerak pelan. Saat Belva sadar, ia kaget dan berteriak ketakutan melihat ular di sebelahnya. Ular itu kabur begitu cepat. Saat Belva merasa ular itu benar-benar sudah kabur, Belva menurunkan kaki di lantai kayu, hendak mencari Sagara. Namun, tiba-tiba ular itu melilit kakinya dan pelan-pelan bergerak naik ke bertis. Belva kaget dan refleks berteriak minta tolong hingga Sagara datang.


" Aaauh!" Belva memegangi kepalanya yang nyeri. Rasa nyerinya dua kali lipat dari biasanya. Ingatan apa itu? Belva di mana? Tapi, bayangan itu terasa begitu jelas dan nyata. Bahkan durasinya paling panjang dari semua bayangan yang pernah Belva lihat sebelumnya. Tapi, efeknya begitu tidak mengenakkan. Rasanya kepala Belva mau pecah.


Memejamkan mata, berusaha tertidur tiba-tiba ia mengingat sebuah nama.


" Bhumi?"


Belva membuka matanya kembali, " Bhumi?" ia berusaha mengingat nama itu sekali lagi. Namun, ia tak menadapatkan jawaban apapun.


" Bhumi siapa? aaagh!" Belva menutupi wajahnya dengan bantal. Pusing sendiri. Nama itu tiba-tiba muncul di benaknya. Tapi, Belva masih belum tahu siapa itu.


Mencoba untuk terlelap lagi, tiba-tiba ponsel Belva bergetar-getar, menandakan ada panggilan masuk. Meraih ponselnya, Belva melihat si penelpon. Sagara. Mendadak Belva merinding. Ia jadi ngeri setelah mendengar pengakuan Sagara jika dia bukan manusia. Lalu, apa yang harus Belva lakukan sekarang?


Panggilan berakhir. Belva tidak menjawabnya.


Kemudian, ada sebuah pesan masuk. Dari sagara.


Sagara


Kamu memanggilnya?


Belva mengernyit. Ia baca pesan itu berulang kali, tapi masih tidak memahami juga apa maksudnya. Kemudian, Sagara menelponnya lagi. Sepertinya penting sampai dia menelpon berkali-kali dan mengirimi Belva pesan singkat yang tak dapat dicerna otaknya.


" Halo, Belva. Kamu, baik-baik saja?" suara Sagara kedengaran panik.


" Ya. Aku... ng... nggak ada masalah," Belva gugup, sedikit takut.


" Belva, apa kamu memanggil dia?"


Belva mengernyit tak paham, " dia? siapa?"


" Halo?" Belva memastikan jika Sagara tidak ketiduran. Lagipula, sekarang sudah cukup malam. Jam sembilan. Bisa saja, Sagara ketiduran karena kelelahan setelah seharian jalan-jalan.


" Harusnya kamu ingat, kalau kami tidak tidur, Belva."


Mata Belva melebar. Itu bukan suara Sagara yang sering membuat dadanya berdebar. Bukan pula suara Dokter Tirta. Itu suara lelaki lain yang lebih berat dan kedengaran sangat macho.


" Kamu siapa? Sagara di mana?"


Terdengar suara berisik yang tidak jelas. Maksudnya, Belva mendengar suara adu mulut yang tidak kedengaran jelas di telepon. Tapi ia yakin, itu suara macho barusan dan suara Sagara yang sedang bertengkar. Astaga. Apa yang mereka lakukan?


Apakah tadi suara teman Sagara?


Mendadak, Belva ingat kata-kata Sagara siang tadi. Jika ia mengenal beberpaa teman Sagara. Tapi, Belva sama sekali tidak mengingatnya. Apakah suara macho tadi suara teman Sagara yang ia kenal?


" Harusnya kamu ingat, jika kami tidak tidur, Belva."


Kalimat itu tiba-tiba terputar lagi di kepala Belva. Berulang-ulang seperti playlist yang sengaja disetting untuk mengulang satu lagu berkali-kali.


Mereka tidak tidur. Sagara bukan manusia. Artinya... Belva tak peduli dengan pertengakaran mereka yang masih belum selesai. Artinya... teman Sagara barusan bukan manusia juga. Dan... satu pertanyaan yang ada di benak Belva sekarang. Apakah Dokter Tirta manusia? Bukannya Dokter Tirta memperkenalkan Sagara sebagai adiknya?


Aaargh! Belva jadi frustasi sendiri memikirkan hal tidak masuk akal semacam itu. Mengapa ia bisa mengalami hal mistis seperti ini? Apa yang terjadi dengan dirinya saat ia menghilang dan semua orang mencarinya? Apakah ia terjebak di dunia hantu dan bersahabat sampai pacaran dengan hantu?


" Belva, kamu udah makan?"


Belva kaget. Maya sudah berdiri di depan ranjangnya. Belva bahkan tidak mendengar suara ketukan, suara pintu terbuka atau suara langkah kaki. Belva yakin, ia sedang sangat kacau hari ini.


" Mbak beli ayam spicy, kalau kamu lapar ayamnya ada di atas meja makan ya."


Belva mengubah posisinya menjadi duduk, " Mbak Maya lagi sibuk?"


" Mbak lagi menemin Hana ngerjain PR, ada apa?"


Belva berpikir sejenak. Tapi, kepalanya sudah tidak bisa dipakai berpikir lagi, " ng... Mbak Maya percaya hantu, nggak?" ragu, namun akhirnya Belva bertanya juga.


" Mbak lebih percaya adanya Jin. Kenapa kamu nanya begitu?"


Belva menggeleng, kemudian tersenyum kikuk sembari menggaruk kepalanya yang seperti kesemutan, " enggak apa-apa, kok. Duh, Belva laper. Kayaknya mau makan ayam spicy yang Mbak Maya beliin ya."


" Ya sudah. Ayo kita keluar bareng."


Belva mengangguk, kemudian meraih tangan kakaknya dan berjalan bergandengan keluar kamar. Namun, saat sampai di ruang tengah, Maya menghampiri Hana yang sedang berkutat dengan buku pelajaran dan Belva pergi ke dapur.


Meski ada salah satu lauk kesukaannya, tapi rasanya Belva tidak ingin makan. Ia malah duduk sembari menopang dagu dengan dua tangan sembari bengong.


Jin. Yang Belva tahu, Jin itu termasuk dalam golongan makhluk halus juga.


" Jin... cih!" Belva berdecih, sebaliknya sendiri. Kenapa ia justru ingat wajah salah seorang personel boyband korea?


***