My Love From The Sea

My Love From The Sea
Memar yang Hilang



" Arman, kamu mau kemana?"


Febi menahan tangan Arman agar tak bertindak gila. Cuaca begitu panas, tidak lucu jika Arman tambah memanaskan suasana dengan adu jotos di tempat umum begini.


" Feb, lepasin!"


Meski kekuatan Arman lebih besar, namun Febi berusaha kuat untuk tetap menahannya. Ia tidak ingin menambah dosa lagi kepada Belva. Dengan melihat Belva bahagia di hadapannya, Febi sudah sangat senang. Meski ia tahu, Belva belum menyadari keberadaannya dan Arman di sini.


" Arman. Udah. Ayo, kita balik ke kantor."


Febi berusaha menenangkan Arman. Mereka memang bekerja di tempat yang sama dan sering menghabiskan waktu bersama. Makanya, sejujurnya Febi memiliki rasa yang lebih dari teman terhadap Arman. Tapi sayangnya Arman malah menyukai Belva, sahabatnya. Sial bukan hidupnya? Tapi, itu sebelum Arman ketahuan belangnya. Mereka sering sekali melakukan segala hal berdua tanpa Belva. Bahkan, Febi dan Arman berkali-kali melakukan hubungan badan. Tak masalah bagi Febi, karena ia mencintai Arman. Tapi, bodohnya Febi dimanfaatkan dan sampai sekarang ia tak bisa marah pada Arman meski apa yang mereka lakukan telah diketahui Belva.


Kini, meskipun hubungan antara Arman dan Belva sudah berakhir, Febi sama sekali tak merasa menang. Karena ia sadar jika Arman bukanlah benda yang bisa diperebutkan sebagai hadiah dari suatu permainan. Perasaan seseorang tidak bisa digadaikan dari satu hati ke hati yang lain. Perasaan Arman masih tak bisa ia miliki meski kini Belva sudah tak pernah menghubunginya lagi.


Jika masih ada kesempatan untuk membersihkan namanya, Febi akan lebih memilih menjalani hidupnya seperti sedia kala. Penuh tawa dan suka. Ketika buntu, Belva bisa memberinya solusi. Ketika sedih, Belva bisa menghiburnya. Tapi kini, ia sedang berada pada titik paling rendah dan tidak tahu harus bicara pada siapa.


Arman pun sudah berubah. Ia bukanlah lelaki asik yang terlihat begitu tampan dan mempesona. Arman yang sekarang cenderung arogan dan menutup telinga pada segala hal.


" Feb, biar aku mau ngomong sama Belva. Lepasin," suara Arman merendah. Febi dapat mendengar nada memohon dengan sangat.


Febi melepaskannya. Membiarkan Arman berjalan menghampiri Belva dan lelaki tampan yang begitu asing ke dalam sebuah minimarket. Febi belum pernah melihatnya sekalipun.


Febi yang berdiri mengamati dari pintu minimarket, kaget saat tiba-tiba Arman menjotos lelaki yang bersama Belva. Febi panik bukan main. Ia melakukan kesalahan lagi. Febi bingung. Memutar-mutar badannya sembari berpikir. Ia begitu malu untuk menampakkan diri di depan sahabatnya sejak kejadian itu.


Ah! persetan dengan malu. Febi menghambur masuk. Di dalam minimarket yang tidak terlalu ramai, pengunjung lain memandangi Arman yang sudah ditahan oleh salah seorang kasir lelaki. Untungnya, tak ada perlawanan dari Arman maupun lelaki yang bersama Belva.


" Mas, tolong lepaskan teman saya," ucap Febi kepada si kasir. Kasir lelaki itu melepaskan Arman.


" Mas, lain kali kalau mau berantem liat tempat. Ini tempat umum. Kayak nggak punya etika banget!" komentar si kasir agak kesal.


Febi hanya menundukkan kepala kepada si kasir, kemudian kepada Belva dan beberapa orang yang menonton sebagai permintaan maaf. Kemudian keluar dengan menyeret Arman dengan kesal.


" Kenapa kamu nekat gitu, sih?"


***


Belva masih mematung memandangi punggung Febi dan Arman. Ia tak salah lihat jika tadi itu Febi, kan? Kenapa badannya kurus sekali?


Apa yang dia makan akhir-akhir ini?


Apakah dia bahagia?


Dan berbagai pertanyaan lain berkecambuk di kepala Belva.


Belva memang mengikrarkan diri untuk tidak pernah peduli pada pengkhianat-penghianat itu. Tapi, melihat tubuh Febi, ia tidak tega. Kebersamaannya dengan Febi sangatlah lama. Dan Belva tidak pernah melihat Febi semenydihkan ini.


" Belva, kamu oke?"


Belva mengerjap setelah mendengar suara Sagara. Kini pandangannya ia alihkan ke arah Sagara. Pipinya sedikit memerah. Tapi, Sagara kelihatan baik-baik saja.


" Kamu, sakit?" tanya Belva, memastikan jika Sagara tidak kenapa-kenapa.


" Aduh! pipiku sakit sekali. Panas!"


Mendadak, Belva panik. Ia langsung berlari ke kasir dan menanyakan obat pereda sakit setelah dipukul, tapi si kasir malah memberikan salep untuk kutu air.


" Kayaknya salep buat memar nggak ada, Mbak. Mungkin di apotik sebelah ada."


Belva mengangguk. Tak sadar jika Sagara sudah ada di belakangnya dan meletakkan dua botol besar air mineral dingin di depan kasir.


" Kamu ke mobil duluan saja," perintah Sagara, namun Belva tidak menggubrisnya.


Belva menyentuh pipi Sagara yang semakin lama semakin membiru, " masih sakit?"


" Aduh! sakit banget!"


Tanpa basa-basi lagi, Belva segera keluar dari minimarket dan menanyakan obat memar kepada penjaga apotik di sebelah minimarket. Tak buruh waktu lama, Belva sudah membeli salep itu dan masuk mobil bersamaan dengan Sagara keluar dari minimarket.


Saat Sagara sudah duduk di balik kemudi, Belva langsung membuka salepnya, " Sagara, kata mbak-mbak penjaga apotik ini akan kerasa agak panas. Tapi, dua atau tiga hari, pasti memar kamu sembuh."


Sagara menoleh dan menjauhkan wajahnya saat Belva hendak mengoleskan salep itu, " tidak usah. Aku tahu cara yang lebih instan."


Belva menghentikan niatnya. Ia mengernyit. Kemudian menerima tisu dari Sagara untuk membersihkan telunjuknya yang sudah berbalur salep.


" Apa?" Belva kebingungan.


Sagara mengeluarkan air mineral dari dalam plastik.


" Kamu haus?"


Sagara mengangguk, " ya," kemudian meminum air mineral dalam botol besar di genggamannya sampai habis seperempat, " telapak tangan kamu."


Belva menyodorkan telapak tangannya. Kemudian, Sagara merapatkan kemarin Belva dan menuangkan sedikir air di sana.


" Oleskan di sini," Sagara menunjuk pipinya yang membiru.


Belva menurut. Ia mengoleskan air di tangannya ke pipi Sagara. Ah. Sagara memandangnya seperti itu, membuat Belva jadi tidak bisa konsentrasi. Apalagi, saat Sagara memegangi pergelangan tangannya yang masih berputar-putar di pipinya. Seperti ada aliran listrik yang begitu dahsyat dan meluluhlatakkan pertahanannya.


" Jangan lupa, cium di sini," Sagara menunjuk bibirnya dengan telunjuk satunya. Kemudian, mendekatkan wajahnya ke wajah Belva.


Cup! sebuah kecupan yang berlanjut menjadi ciuman panas. Belva memejamkan mata. Jika sudah begini, Belva tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Ciuman Sagara begitu memabukkan dan membuat Belva selalu pasrah. Belva bahkan lupa jika sedang mengobati Sagara. Kini, posisinya sudah berada di pangkuan Sagara dengan atasan yang sudah tak bersisa. Polos.


Belva membuka mata. Kemudian tersadar saat melihat pipi Sagara yang tidak lagi membiru. Astaga. Apa ini? Ia bahkan mengusap-usap pipi Sagara dengan jemarinya yang panjang-panjang.


" Ada apa?" tanya Sagara, seolah lupa jika tadi ia ditonjok sampai biru.


" Pipi kamu, sembuh?"


" Aku sudah bilang, kan? itu cara paling instan."


Belva masih tidak percaya. Ia menggeleng dan kembali duduk kursi sebelah Sagara sembari memungut atasannya yang ada di dasbor. Sembari memakai pakaiannya, Belva tak berani melirik Sagara.


" Kamu kenapa?"


" Sagara, kenapa kamu bisa sembuh secepat itu?"


***