
Pukul delapan malam. Di pasar tradisional yang setiap jam empat sore hingga jam sebelas malam berubah layaknya pusat jajanan serba ada. Hujan mengguyur Jakarta secara tiba-tiba dan lumayan deras. Sagara menutupi kepala Belva dengan telapak tangannya menuju teras salah satu ruko yang kebetulan tutup tak jauh dari tempat mereka berada.
Cumi bakar yang harum dan lezat masih memenuhi indera penciuman Belva. Meskipun tadi sore sudah makan di retoran bersmaa Sagara, tapi aroma bumbu-bumbu oles yang dibakar pada tubuh cumi membuat perutnya berbunyi lagi. Meski begitu, Belva tidak bilang apa-apa. Ia hanya tidak ingin membuat Sagara ilfill dengan perutnya yang bisa melebar seperti ular.
Belva terkejut saat Sagara tiba-tiba menggenggam tangannya dsn menarik dirinya agar lebih dekat. Jantungnya seperti mau copot. Tapi Belva menurut. Mendadak tubuhnya menghangat dan nyaman. Belva seperti dialiri sesuatu yang magis dan membuat Belva ingin waktu berhenti seperti ini. Memejamkan mata, Belva seperti bermimpi. Ia melihat hamparan kebun yang sangat luas. Ia berjalan bersama seseorang yang tidak kelihatan wajahnya, bergandengan tangan. Namun, rasanya begitu dekat dan hangat. Apakah itu Sagara?
Belva menunggu. Ia seperti sedang menonton film yang penasaran dengan siapa pemeran tokoh utama pria. Belva tidak sabar kamera mengarahkan lensanya pada wajah si lelaki. Sialnya, saat kamera itu hendak mengarak pada wajah sang tokoh utama, Belva justru membuka mata karena sebagian badannya basah, dari dada hingga kaki. Dada Belva naik turun melihat sebuah mobil hitam melaju cepat tanpa dosa. Ingin sekali ia marah, tapi percuma. Lagipula, Sagara lebih dulu mengelus punggungnya sebagai isyarat agar Belva bisa sabar.
" Biar saja. Nanti juga kena karma," lirih Sagara sembari masih menenangkan Belva.
Belva mengatur napas agar emosinya tidak meledak. Agak berterimakasih kepada Sagara karena telah mengingatkannya.
" Sagara..." kemudian, Belva ingat apa yang barusan ia lihat ketika memejam.
" Iya."
" Aku melihat hamparan kebun... kayak kebun teh," Belva memberi tahu.
" Ya," Sagara memandang Belva penuh harap. Ia berharap, Belva ingat lebih dari hanya sekadar kebun yang luas.
" Aku jalan, digandeng lelaki."
" Ya..." Sagara masih menunggu.
" Tapi, aku nggak tahu itu siapa."
Sagara kecewa. Jelas. Ia hanya ingin Belva segera ingat semuanya. Agar mereka bisa menjalani hidup seperti semula. Tapi kali ini, tanpa ada ular tanah si pengganggu itu tentunya.
" Sagara... apa itu kamu?" Belva bertanya lagi sembari mengibaskan tangannya di pakaiannya yang agak basah dan kotor.
Sagara tidak menjawab apa-apa. Yang ia lakukan adalah membuka jaket jeans milik Tirta yang dia pakai dan memberikannya kepada Belva.
" Apa?"
" Kamu bisa ganti pakaian kamu."
Belva paham dan menerima jaket pemberian Sagara. Ia menengok kanan-kiri, mencari tempat untuk dapat membuka kemejanya. Kemudian, Belva menemukan ruang kecil dan gelap.yang tertutupi dinding di ujung sebelah kiri ruko tempat mereka berteduh.
" Sebentar," Belva bergegas pergi. Ketika sampai, ia menyesal karena tidak mengajak Sagara untuk menjaga karena ternyata tempat itu tidak terlalu dalam. Tapi, sudahlah. Sudah terlanjur. Kini, Belva hanya perlu buru-buru. Tidak sampai lima menit, kemejanya sudah ada di tangannya dan digantikan dengan jaket jeans yang dikancing semua.
" Sudah?"
Belva nyaris jantungan mendengar suara itu. Namun, setelah melihat wajah Sagara di depannya, Belva perlahan-lahan mengatur napasnya lagi.
" Kamu, dari kapan di sana?"
" Baru saja. Seharusnya aku ikut, kan?"
" Terimakasih, ya," ucap Belva kemudian.
" Ya," Sagara menjawab dengan lemah. Mata mereka saling bertemu cukup lama. Sagara mendorong tubuh Belva kembali ke tempat perempuan itu tadi ganti. Rupanya sangat gelap dan lumayan menakutkan. Tapi, Sagara tidak takut pada apapun. Ia justru mengunci tubuh Belva. Membiarkan perempuan itu bersandar pada dinding dan memandangnya dengan perasaan tidak karuan. Sagara menyukai saat Belva salah tingkah seperti ini.
" Sagara..."
" Hmm?"
" Tolong..."
" Hmm?"
Belva diam. Ia tidak tahu mengapa tubuhnya begitu nyaman seperti ini.
" Belva, lelaki itu aku."
Deg. Jantung Belva berdegup sangat cepat. Perutnya seperti dikocok-kocok. Rasanya cenderung mulas. Antara senang dan entahlah. Di kegelapan, di tengah derasnya guyuran hujan, Belva melihat Sagara tersenyum lagi. Tipis dan misterius. Namun, Belva suka, bahkan sangat menyukainya. Hingga ia tidak sadar telah berjinjit dan mengecup bibir Sagara dengan panas.
Belva begitu menikmati ciuman itu. Ia tidak sadar jika ia yang memulainya. Matanya terpejam, dan ketika membuka mata Belva terkejut karena tidak lagi berada di ruangan gelap yang sempit dan menyeramkan. Kini, ia justru berada di ruangan yang pernah ia lihat dalam sekelebatan ingatannya waktu itu. Kamar seluas lapangan bola dengan dinding-dinding emas. Bahkan, Belva tidak lagi berdiri. Ia terlentang di sebuah ranjang yang sangat luas dan empuk dengan Sagara di sebelahnya.
" Sagara, tempat apa ini?" hanya itu yang ada di kepala Belva setelah sadar dimana ia berada.
" Ini kamarku. Kamu pasti pernah melihatnya," Sagara tersenyum.
Mengapa Sagara sering sekali menampilkan senyum seperti itu? Belva seperti langsung kehilangan akal jika Sagara terus menerus seperti itu. Apalagi, jika Sagara memandangnya seperti sekarang. Mata birunya terasa memabukkan. Embusan napasnya, membuat Belva lupa diri meski ia berusaha menahannya.
Sial. Kini bibir mereka telah bersatu kembali. Bahkan lebih panas dari sebelumnya. Bahkan, Belva mengizinkan Sagara menindihnya, melepas seluruh pakaiannya dan melakukan segalanya.
Belva tidak tahu apakah yang ia rasakan mimpi atau nyata. Rasanya seperti nyata. Bahkan, suara yang keluar dari mulutnya sungguh nyata. Namun disisi lain, ia juga bermimpi. Ia seperti melihat dirinya melakukan hal ini di tempat yang sama, dengan orang yang sama.
Kali ini, Belva semakin yakin jika ia dan Sagara bukan hanya sebatas teman. Belva bahkan tidak pernah mau berhubungan badan seperti ini dengan siapapun sebelumnya, termasuk Arman. Tapi, kini... ia melakukannya. Parahnya, Belva begitu menikmati. Lebih parahnya, Belva percaya jika ini bukanlah pertama kalinya mereka melakukan ini.
Tubuh Sagara ambruk di sebelah Belva. Napas mereka ngos-ngosan. Bahkan, Belva merasa tubuhnya lengket karena keringat. Belva memiringkan badannya dan memeluk tubuh polos Sagara. Ia jelas mencintai lelaki ini lebih dari apapun.
" Belva, apa kamu ingat sesuatu?" tanya Sagara di tengah napasnya yang terengah.
" Aku belum sepenuhnya tahu siapa kamu. Tapi, aku yakin kalau kamu lelaki yang aku cintai, Sagara."
Sagara balas memeluk Belva, " ya. Kita memang saling mencintai."
" Apa ini alasannya aku merasa biasa aja waktu liat Arman? karena sebetulnya aku udah menemukan penggantinya. Yang bahkan udah aku kasih segalanya."
Sagara melepaskan pelukannya. Kemudian, kembali memangut bibir Belva lagi. Sagara seolah masih belum puas dan ingin melakukannya lagi. Berkali-kali. Sagara juga sangat mencintai Belva.
***