
Hamparan kebun melati yang seolah tidak berujung itu hanya terlihat seperti bayang-bayang gelap di bawah cahaya rembulan yang sabit. Sagara berdiri di ambang pintu, sembari mengamati punggung Bhumi yang sedang duduk membelakanginya.
" Kenapa Wulan akhir-akhir ini pelit sekali menampakkan cahayanya, Sagara?" Bhumi bergumam, suaranya menceracau seperti orang yang terlalu banyak minum alkohol.
" Mungkin dia sakit hati karena kamu mengganggu kekasih orang," Sagara menjawab asal. Ia berjalan pelan mendekati Bhumi, kemudian duduk di sebelahnya.
" Kamu serius cemburu?" Bhumi tak habis pikir dengan Sagara. Setahunya, Sagara sangat setia kepada satu perempuan. Puteri salah satu raja muslim paling berpengaruh di Aceh. Namun, kisah cinta mereka sangat tragis. Seperti kisah yang dituliskan Shakespeare dalam novelnya, Romeo dan Juliet. Dramatis dan murahan!
" Apa yang kamu pikirkan?"
" Aku cuma berpikir kalau kamu masih mencintai puteri yang dibuang itu."
Sagara menelan ludah pilu. Dadanya seperti ditusuk-tusuk belati. Sakit sekali. Tapi, sudahlah. Hubungan itu sudah berlalu sangat lama. Meski masih sangat membekas, tapi Sagara mau tak mau harus rela. Masa lalu itu begitu pahit dan kini Sagara harus menelannya, membiarkan lambungnya mencerna dan mengeluarkan residunya.
" Kamu tahu, aku pernah baca salah satu kisah cinta yang tidak direstui jagat raya. Romeo dan Juliet."
Sagara mengulas senyum tipis. Ia mengamati bulan yang malu-malu. Ia baru tahu jika Bhumi membaca karya sastra legendaris yang menggelikan seperti itu, " bacaanmu terlalu melankolis."
Bhumi tersadar. Sagara hanya mengidentifikasi tanpa dasar. Bagi Bhumi, itu adalah caranya bersenang-senang. Hidup di alam manusia dengan wajah dan postur tubuh mirip orang-orang terkenal. Kemudian, bermain-main dengan perempuan tak berakal yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk lelaki tampan.
" Sagara, bagaimana caramu menaklukan hati perempuan secepat itu?"
Sagara bukanlah tipe orang yang suka menertawakan kebodohan orang lain. Tapi, mendengar pertanyaan Bhumi membuatnya tidak tahan untuk tidak tertawa tanpa mengeluarkan suara. Sagara berhanti setelah Bhumi menepuk pundaknya dengan sangat keras. Menimbulkan jiplakan jemari jelek sang penguasa daratan itu.
" Jangan pernah menertawaiku," Bhumi memperingatkan.
" Bersikaplah lembut, Bhumi. Kamu itu kurang romantis."
Bhumi melotot tidak terima, " kamu sok tahu!"
" Wulan itu positif. Sedangkan kamu negatif. Saling bertentangan," Sagara sebenarnya ingin mengatakan jika Wulan adalah bidadari langit yang murah hati dan tak pernah menuntun manusia pada dosa. Sedangkan Bhumi lebih suka menyesatkan. Ibarat putih dan hitam. Dua makhluk berbeda visi dan misi. Jelas tidak akan pernah bersatu.
Bhumi mendengarnya. Sagara bahkan tidak mengunci pikirannya, " kamu salah. Harusnya kamu ingat kalau magnet akan saling tarik menarik kalau dua kutub yang berbeda di dekatkan."
" Tapi, putih dan hitam, kalau dicampur akan menjadi abu-abu. Abu-abu bukanlah warna yang bagus. Kamu tahu itu, kan?"
Bhumi hanya termenung. Memandang ke langit malam yang membuat perasaannya berdenyut-denyut, " kalau abu-abu bukan warna yang bagus, lalu kamu apa, Sagara? bukannya kamu abu-abu?"
Entah mengapa perasaan Sagara menjadi tidak enak. Bhumi benar. Sagara adalah abu-abu. Warna hitam dan putih yang dicampur. Ia bisa saja menyesatkan, bisa pula menuntun ke jalan yang benar. Semua tergantung keinginan manusia yang sering mengirimkan sajen ke laut. Ia pernah gagal soal cintanya waktu itu. Apakah semua karena perbuatannya? karena dirinya berwarna abu-abu?
" Sagara, aku melihat pacarmu itu berwarna putih cenderung abu-abu. Kamu tahu kan artinya? berhati-hatilah, jangan sampai kamu menyia-nyiakan perasaan hanya demi sesuatu yang berpotensi menyakiti kamu lagi."
" Bukannya abu-abu dan abu-abu itu serasi?"
Bhumi menoleh, tidak percaya dengan kebodohan temannya ini. Ingin sekali ia menempeleng kepala Sagara yang kosong, " itu petaka. Magnet dengan kutub yang sama akan saling menolak."
Bhumi menggeleng, " aku cuma penasaran."
" Apa yang buat seorang penguasa daratan penasaran?"
Bhumi tidak ingin menjawabnya. Biar Belva yang memberitahu. Paling tidak ia dapat mengulur waktu untuk Sagara mengetahui kelemahan barunya.
" Kamu tidak mau memberi tahuku?"
" Kamu akan tahu secepatnya. Pacarmu lebih tahu tentang dirinya."
Ucapan Bhumi semakin membuat Sagara bertanya-tanya. Apakah Bhumi sedang merencanakan hal buruk? Bukannya lelaki itu sering melakukan hal buruk meskipun kemampuan akademisnya sangat baik. Di usia yang sudah seribu tahun, Bhumi sudah meraih banyak gelar dengan banyak nama samaran. Sagara sampai tidak dapat menghitung berapa ijazah yang lelaki itu miliki ketika bersenang-senang di alam manusia. Sedangkan dirinya, hanya memiliki beberapa gelar keren. Seperti master ilmu budaya, ilmu politik, sains dan ekonomi.
" Rambut kakakmu menakuti pacarku."
Bhumi ingin tertawa. Tapi, ia tahan. Tidak ingin mengganggu Belva yang sedang nyenyak tertidur. Karena, kesadaran manusia akan merepotkannya.
" Sebenarnya, apa yang kamu curigai dari Belva, Bhumi?"
" Kamu bodoh atau pura-pura bodoh. Dia pulih lebih cepat dari manusia normal. Apa kamu tidak curiga?"
Sagara sama sekali tidak curiga. Mengingat Belva adalah perempuan yang berhati bersih. Atau bisa jadi, ini sebagian dari rencana Ayahandanya.
" Ah iya. Kamu kan sudah buta!" Bhumi mencibir, " sebentar lagi dia juga akan pergi," lelaki itu melanjutkan. Ia kemudian berdiri dan berjalan menjauhi Sagara yang masih duduk.
" Kamu jangan mengada-ada, Bhumi!" Sagara tidak terima. Ia membaringkan tubuhnya di atas panggung.
" Aku serius. Kita buktikan saja!"
Bagaimanapun, Sagara tidak bisa mengabaikan peringatan Bhumi. Ular itu berusia dua kali lipat dari usianya. Jadi, pengalamannya sudah cukup banyak. Tapi, untuk kali ini, Sagara hanya berharap agar Belva akan tetap di sini. Bersamanya. Diperkenalkan kepada Ayahandanya secara formal. Menikah secara resmi. Menjalani hidup rumah tangga yang bahagia. Memiliki anak yang lucu. Dan... Sagara jika Belva mau, Sagara ingin menarik jiwanya ke kerajaan laut dan hidup sampai kiamat dengan bahagia.
" Sagara... aku takut."
Sagara mengubah posisinya menjadi duduk, kemudian menoleh. Belva sudah berdiri di ambang pintu. Namun, Belva tidak sendirian. Ada sosok lain yang berdiri di belakang perempuan itu. Sagara melihat bayangan kepalanya yang memakai penutup kepala. Tapi anehnya, Sagara tidak bisa melihat sosok itu secara langsung.
" Sagara," Belva berjalan mendekat, begitu juga dengan bayangan itu.
Sagara tersadar, ia kemudian bangkit berdiri dan mengecek belakang Belva yang kosong. Pun bayangan itu yang tiba-tiba menghilang. Sagara mencubit Belva cukup keras, membuat perempuan itu mengaduh kesakitan dan matanya melebar.
" Sagara, sakit!"
Sagara menghela napas lega. Perempuan itu benar-benar Belva. Ia menggandeng Belva ke kamar. Menemani perempuan itu kembali memejamkan mata. Dia benar-benar Belva. Lalu, bayangan siapa yang ia lihat tadi? Apakah sosok itu yang membuat Bhumi penasaran dan nekat membawa Belva berteleportasi, meski tahu risikonya adalah kematian?
***