My Love From The Sea

My Love From The Sea
Kembali



Maya terlihat sangat putus asa. Ia duduk di atas ranjang yang biasa ditempati adiknya. Sudah dua bulan. Kepolisian dan SAR masih belum memberikan kabar baik. Padahal, ia sudah membayar mahal untuk proses pencarian ini. Tabungannya sudah terkuras lebih dari setengahnya. Bahkan, orang pintar yang pernah didatanginya lebih dari sebulan yang lalu pun masih belum jelas.


Andre, suami Maya berdiri di ambang pintu. Memandangi istrinya kasihan. Sudah dua bulan semenjak kematian Papa dan hilangnya Belva. Kehangatan keluarga terasa lenyap, terenggut hanya dalam waktu satu hari saja.


Istrinya tidak mempedulikan apapun. Bahkan, sejak saat itu, Andre juga yang harus turun tangan mengecek restoran milik istrinya dan sesekali mengantar Hana, anaknya ke sekolah. Sedangkan, kakak kandung Maya malah sibuk bolak-balik ke notaris untuk mengurus warisan bagiannya. Egois dan menjijikan!


Ia bahkan pernah sampai adu jotos sampai babak belur dengan kakak iparnya itu untuk mengurus masalah keluarganya dulu.


" Lagian paling benar apa kata media. Anak itu pasti pergi ke Luar Negeri buat menenangkan pikiran. Udahlah, Belva itu sudah dewasa. Udah bisa bedain mana benar, mana salah!"


Meski bukan kakak kandung Belva, mendengar kakak iparnya berkata begitu, Andre langsung naik darah. Bagaimana bisa Guntur berucap seenteng itu ketika adiknya menghilang secara misterius berminggu-minggu?


" Kamu nggak punya hati, Bang! kamu lihat Maya sampai begitu. Depresi! Hadi mondar-mandir ke kantor polisi dan ngelakuin banyak usaha untuk menutup mulut media, sedangkan kamu malah ngurusin warisan. Egois!"


" Kita bertiga punya tugas masing-masing. Anggap aja sedang bekerja di perusahaan. Setiap orang punya tanggung jawab yang berbeda. Lagian, kamu kenapa repot-repot sih ngurusin urusan keluarga saya?"


Habis kesabaran Andre. Ia memukul Guntur. Sebenarnya dimana otak kakak iparnya itu? mengapa begitu egois? lagipula, Andre peduli karena Belva juga adik iparnya. Keluarga. Andre, hampir saja merenggut nyawa Guntur andai saja tidak Bi Mirna dan Istri Guntur tidak melerai keduanya. Perkelahian itu berujung Andre harus membayar biaya rumah sakit untuk pengobatan Guntur. Dasar mata duitan!


" Papi, lagi ngapain?"


Andre tersadar saat mendengar suara Hana. Anak perempuan berusia sepuluh tahun yang baru pulang sekolah itu berlari kecil menghampirinya. Memeluk pinggangnya. Setelah itu terdengar suara Bi Mirna memanggil-manggil nama Hana berkali-kali, namun suara itu tiba-tiba lenyap. Barangkali karena tahu bagaimana perasaan orang-orang di depannya.


" Mami belum sembuh, Pi," suara Hana melirih. Rautnya berubah jadi sedih.


Andre tak menjawab apa-apa. Ia berjongkok, memandangi Hana sembari mengulas senyum tipis, " Mami pasti sembuh, kok. Doakan supaya Tante Belva cepat ketemu."


Hana mengangguk polos.


" Sekarang, kamu ganti baju dulu ya. Nanti kalau Mami sembuh kita liburan."


Hana mengangguk lagi. Ia berjalan menuju Bi Mirna yang masih berdiri di belakangnya. Mereka berjalan pergi ke kamar Hana di lantai dua. Andre memandangi keduanya dengan pandangan sayu. Kemudian ia dikagetkan dengan dering ponselnya di dalam saku celana. Melihat layar, terpampang nama Hadi di layarnya. Menggeser simbol telepon berwarna hijau, Andre menempelkan benda pipih itu di telinganya.


" Bang Andre, Belva masih hidup."


***


Setelah melalui kemacetan yang panjang di jalanan Jakarta yang panas, akhirnya Andre dan Maya sudah sampai di Rumah Sakit di Kota Tangerang. Maya terlihat lebih baik. Ia sudah memiliki tiga puluh persen kesadaran yang lumayan dibanding sebelum mendengar berita ini.


Mereka berlari-lari menuju IGD tempat dimana Belva berada. Di depan ruang IGD, Hadi sudah duduk ditemani salah seorang polisi yang masih muda.


" Hadi, gimana keadaan Belva?" Maya mengguncang-guncang tubuh adiknya, " Belva di mana?"


Maya lemas. Ia duduk di sebelah Hadi, dibantu suaminya. Sepanjang menunggu, Maya tidak bicara apa-apa lagi selain mencemaskan keadaan adiknya. Ia baru kehilangan Papanya dua bulan yang lalu, ia tidak mau benar-benar kehilangan adiknya hari ini.


Ia hanya mendengarkan percakapan antara suaminya dan adiknya. Katanya, Belva ditemukan di pesisir pantai di Kabupaten Tangerang dengan tubuh membiru dan pucat pasi oleh nelayan yang sedang menjaring ikan. Si nelayan yang panik dan tahu Belva masih hidup akhirnya meminta tolong warga untuk membawa Belva ke rumah sakit terdekat. Nyatanya, keadaan Belva begitu parah dan harus dibawa ke Kota untuk mendapatkan perawatan dengan alat-alat medis yang lengkap.


" Kebetulan Dokternya mengenali muka Belva. Jadi, dia langsung telepon kantor polisi."


Syukurlah. Masih banyak orang baik yang mau membantu keluarga mereka. Kemudian, mereka semua mendengar suara pintu dibuka. Seorang Dokter lelaki keluar dari dalam sana. Maya mengerjap berkali-kali memandangi Dokter itu. Mendadak, kesadarannya meningkat menjadi lima puluh persen. Wajah itu terlihat tidak asing. Begitu juga dengan mata sebiru lautan lepas. Maya yakin dan tidak akan salah. Baru dua bulan. Ia masih belum lupa. Dokter itu adalah dokter yang menyatakan Papanya meninggal dua bulan lalu.


" Keluarga pasien Belva Anindira?"


" Iya, Dok. Kami keluarganya," Andre yang menjawab, " gimana keadaannya?"


" Air menutupi jalan napasnya, sehingga napas Saudari Belva lemah sekali. Tapi, kami sudah memberikan infus kristaloid. Kalian tenang saja, kami akan berupaya semaksimal mungkin. Jika hasil rontgen kepala dan paru-parunya keluar, dan tidak ada gejala lain, perkiraan saya potensi sembuhnya enam puluh persen."


" Enam puluh persen?"


Si Dokter mengangguk, " itu baru asumsi awal. Jangan khawatir."


Mendengar penjelasan seperti itu membuat Maya agak takut. Potensi sembuhnya enam puluh persen. Empat puluh persen sisanya adalah kemungkinan paling buruk. Perasaannya jadi was-was.


" Kalau begitu, boleh saya bicara dengan walinya?"


Maya mengangguk dan maju, " saya kakaknya, Dok."


Dokter melirik Maya sekilas, kemudian tersenyum, " baiklah. Ibu boleh ikut ke ruangan saya."


" Dok, saya boleh ikut?" Andre menghentikan langkah Dokter dan Istrinya, kemudian berjalan maju dan berbisik, " istri saya belum pulih dari sakit."


Si Dokter mengangguk, " baiklah."


Maya dan Andre mengekor di belakang Dokter. Kemudian memasuki ruangan yang serba putih dan berbau obat yang menyengat. Mereka duduk setelah Dokter menyuruh mereka duduk. Maya yang heran, kemudian bertanya, " Dokter bukannya yang dua bulan lalu mendiagnosa Papa saya meninggal ya?"


Si Dokter menyipit, seperti mengingat-ngat, " saya tidak ingat. Tapi, saya memang baru pindah di rumah sakit ini dua minggu yang lalu karena di sini kekurangan tenaga medis."


Jawaban itu semakin menguatkan dugaan Maya jika Dokter tampan di depannya ini adalah Dokter yang sama dengan yang waktu itu. Semoga Dokter ini bisa menyelamatkan adiknya.


" Jadi... apakah Saudari Belva memiliki penyakit bawaan lain?"


***