My Love From The Sea

My Love From The Sea
Membaik



" Febi, Belva masih hidup!"


Lelaki itu buru-buru meraih jaket jeans yang tersampir di belakang pintu kamar. Senang mendengar Belva masih hidup. Namun, ia takut jika Belva benar-benar akan meninggalkannya.


Febi menutup gerbang sebelum masuk mobil dan duduk di sebelah lelaki itu, " sayang, kamu yakin mau pergi ke Tangerang?"


" Jangan panggil gue begitu. Kita cuma teman!" lelaki itu menekan setiap ucapannya.


" Dasar bajingan!" umpat Febi sembari membuang muka. Matanya memandangi gedung-gedung dari balik jendela mobil. Ia menghela napas dalam-dalam dan membuangnya kasar.


" Feb, chat Mbak Maya dong. Minta kirimin maps Rumah Sakitnya," perintah lelaki di balik kemudi.


" Minta aja sendiri!" Febi ngambek lantaran lelaki di sebelahnya tidak mau dipanggil sayang, padahal ia sudah melakukan apapun untuk Arman.


" Jiah, ngambek!"


" Bodo amat!"


Lampu merah. Arman memanfaatkan kesempatan ini untuk mengirim pesan singkat kepada Maya, menanyakan dimana lokasi Rumah Sakit tempat Belva dirawat. Lagipula, kenapa Belva ditemukan sejauh itu? Tak lama, Maya membalasnya dengan mengirim peta. Berdasarkan peta yang dikirimkan oleh Maya, mereka akan sampai dua jam lagi karena rutenya banyak menunjukkan warna merah, macet.


" Kamu masih cinta sama Belva?" Febi membuka pembicaraan. Kini wajahnya mengarah ke depan, punggungnya disandarkan pada kursi.


" Kamu tahu gimana perasaan aku ke Belva kan? kenapa perlu nanya lagi?" Arman jelas masih sangat mencintai Belva. Bagaimana pun Belva adalah cinta terakhirnya. Tidak ada perempuan lain yang mampu mengubah perasaannya.


Hilangnya Belva membuat Arman sakit kepala bukan main. Ia berusaha menghubungi nomor Belva berkali-kali, tapi ternyata kekasihnya itu malah minta putus sehari sebelum hari pernikahan mereka. Parahnya, pernikahan mereka batal karena Belva menghilang selama dua bulan. Arman frustasi sekali. Ia bahkan berusaha mencari keberadaan Belva di tempat-tempat bersejarah bagi mereka, namun nihil. Arman hanya menemukan kenangan yang tertinggal di sana dan membuatnya semakin sedih saja.


" Ya. Sebaik apapun aku, kamu tetap akan milih Belva."


Suara Febi memecah ingatannya. Arman kembali memfokuskan pamdangannya ke jalanan, " Feb, maaf ya. Aku nggak bermaksud manfaatin kamu."


" Nggak apa. We're friend, aren't we? friend with benefit," ucap Febi getir. Kini ia bersedekap sembari memejamkan mata. Perjalanan akan lama. Daripada memikirkan hal yang tidak-tidak, lebih baik ia tidur saja. Atau memikirkan tempat apa yang cocok untuk menyembunyikan wajahnya jika nanti Belva sadar.


Jujur ia malu sekali. Pertemuan terakhirnya dengan sahabat kecilnya benar-benar menjijikan. Sama sekali tidak baik. Namun, tidak ada gunanya menyesal. Yang harus ia pikirkan hanyalah, bagaimana caranya menampakkan wajah di depan orang yang pernah ia sakiti hatinya? Berhubungan badan dengan calon suaminya jelas menyakiti hatinya, kan?


***


" Arman... Febi!" Maya memeluk mereka berdua. Baginya, Arman dan Febi sudah seperti keluarga sendiri. Keduanya sangat baik. Apalagi Febi, ia sudah menganggap perempuan itu seperti adik sendiri karena berteman dengan Belva sejak kecil.


" Gimana keadaan Belva, Mbak?" Arman penasaran sekali. Jika boleh masuk ke kamar ICU, rasanya ia ingin masuk sekarang juga. Bagi Arman, dua bulan bukanlah waktu yang sebentar.


" Masih belum sadar. Tapi, di hari kedua ini, Dokter bilang kondisinya sudah ada peningkatan. Kalau sore ini keadaannya semakin membaik, Belva akan dipindahkan ke ruang rawat."


Arman dapat menghirup napas lega setelah mendengar keadaan Belva semakin membaik. Paling tidak, ia akan bisa menjelaskan semuanya kepada Belva tentang hari itu. Sungguh Arman menyesal. Ia tidak bermaksud menyakiti hati Belva dengan cara apapun.


" Mbak sendirian aja?" Kali ini, Febi yang bertanya. Matanya memandangi seluruh area yang tidak terlalu ramai. Bahkan di kursi tunggu hanya ada Maya seorang diri saja.


" Hadi dan suami saya sedang mandi di rumah teman Hadi nggak jauh dari sini."


Febi manggut-manggut. Ia duduk di kursi tunggu, diikuti Maya dan Arman.


" Kenapa Belva bisa begini, Mbak?" Febi bertanya lagi. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu.


Maya menggeleng, " Mbak juga nggak tahu, Feb. Semuanya kayak mimpi."


" Kalian haus?" Maya menawarkan air mineral dalam botol kepada keduanya yang mendapat respons gelengan kepala. Dari kejauhan, Maya melihat Hadi dan suaminya kembali. Ia kembali mengecek ponselnya, berharap pesan singkatnya mendapat jawaban dari kakaknya, Guntur. Namun, sejak kemarin malam kakaknya bahkan belum membalas pesan singkatnya. Kemana sih dia?


" Mbak, aku mau ngomong," Hadi memasang wajah serius, " tapi nggak di sini."


Maya mengangguk, kemudian berdiri. Berjalan berdampingan dengan Hadi menuju ke arah pintu keluar rumah sakit yang langsung berhubungan dengan basement. Mereka berhenti di basemant.


" Mbak, orang pintar yang waktu itu ngechat aku. Dia nanya, Belva sudah kembali atau belum."


" Kamu jawab apa?"


" Sudah. Tapi belum sadar."


" Apa kakek itu bilang yang lain?"


" Kita perlu kesana untuk mengambil penetralisir."


Alis Maya saling bertaut, " penetralisir apa?"


Hadi mengangkat bahu, " Kakek itu mau menjelaskan kalau kita kesana."


Maya agak bingung dengan penjelasan Hadi. Tapi, bagaimanapun ia perlu tahu penetralisir apa yang dimaksud, " perjalanan dari sini ke Bogor berapa lama?"


Hadi berpikir sejenak, mengingat-ingat perjalanan wisatanya yang tak terlalu lama, " Satu sampai satu setengah jam mungkin."


" Setelah Belva sadar. Kita kesana," Maya memutuskan.


Sebagai adik, Hadi hanya mengangguk saja. Ia hanya mengikuti apa kata kakaknya. Lagipula, Hadi perlu mempercayai kakek itu juga berperan terhadap kembalinya Belva kemari.


Pembicaraan selesai. Mereka kembali ke ruang tunggu IGD yang ramai. Hadi duduk di sebelah kakaknya, sembari sesekali melirik ke arah Febi yang menunjukkan gelagat aneh.


" Kamu kenapa, Feb?"


Febi menoleh, " kenapa? emangnya kenapa?"


Hadi menyipit, " tumben banget kayak bingung gitu."


" Ini bukan bingung, tapi cemas."


Hadi tidak menjawab lagi. Tak lama, Dokter datang dan masuk ke ruangan ICU tempat Belva terbaring. Lalu dua orang suster menyusul masuk. Setengah jam kemudian, dua orang suster keluar mendorong bangkar Belva. Di susul sang Dokter.


Mendadak Maya panik, ingat ketika Papanya meninggal, suster melakukan hal serupa, " Dok, kenapa adik saya?"


Dokter itu tersenyum tipis, " saudari Belva sedang dipindahkan ke ruang rawat inap karena denyut nadi dan naapsnya mulai normal."


Akhirnya, Maya menghela napas lega. Rupanya, adiknya menunjukkan progres yang sangat bagus hanya dalam waktu sehari-semalam.


" Nanti saya infokan ruangannya di mana, kalian tunggu di sini sebentar," ucap Si dokter seraya berlalu meninggalkan sekumpulan orang yang merasa lega.


***