My Love From The Sea

My Love From The Sea
Bertukar Nomor Ponsel



" Aku minta nomor Hp kamu."


Belva mengernyit, mengamati tangan Sagara yang terjulur ke arahnya dengan ponsel pintar model lama di genggamannya. Sedangkan kakaknya dan Tirta sudah lebih dulu keluar dan membiarkan pintu kamar Belva terbuka lebar agar dapat diamati dari luar.


Agak ketakutan, Belva mengambil ponsel dari genggaman Sagara. Belva masih berpikir tentang pusaran di mata Sagara. Ia kemudian mendongak dan menatap mata sebiru laut itu. Begitu teduh dan menenangkan jiwanya. Belva merasa begitu familiar dengan semuanya. Wajahnya sangat rupawan. Sungguh Belva tidak berbohong.


" Kamu ingat sesuatu?"


Suara itu membuat Belva mengerjap berkali-kali. Ia tersadar jika jantungnya berdebar sangat cepat. Dan dia gugup. Cepat-cepat Belva menyalakan ponsel Sagara yang sudah ada digenggamannya. Menelan ludah, Belva bertanya, " polanya?" sembari menunjukkan layar ponsel yang terkunci dan menunjukkan pola sebagai pinnya.


" Pola?" Sagara kebingungan, " pola apa?"


Kini, Belva yang tidak mengerti, " Hp kamu kekunci. Pola untuk buka kuncinya apa?"


Sagara merebut ponsel dari tangan Belva dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa menutup pintu. Hal itu membuat Belva geli sendiri. Bagaimana ada orang yang tidak tahu pola untuk membuka kunci ponselnya?


Meraih salah satu bantal, Belva memangkunya. Mendadak ia senyum-senyum sendiri mengingat betapa polosnya wajah Sagara.


" Ganteng."


Astaga. Baru pertama kali bertemu dengan Sagara kalimat laknat itu berhasil lolos dari mulutnya yang lancang. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Belva. Mengapa ia seperti orang jatuh cinta begini?


Jangan Belva. Jangan jatuh cinta. Bukannya ia sudah dikecewakan Arman? Tidak semudah itu kan untuk percaya kepada yang lainnya?


" Nomor Hp kamu."


Belva kaget karena tiba-tiba Sagara sudah berada di depannya sembari menyodorkan ponselnya lagi. Bagi Belva, otaknya mulai kacau. Apa ia terlalu memikirkan rasa sukanya hingga tidak sadar jika Sagara masuk ke kamarnya? Bodoh!


Meraih ponsel Sagara, Belva langsung mengetikkan nomor ponselnya. Ia berharap agar Sagara segera menghubunginya.


" Nama kamu?" tanya Sagara.


" Panggil saja Belva. Kamu?"


" Raden Mas Agung Sagara Banyu Biru..."


" Putra Mahkota Penguasa Lautan yang Bijaksana?"


Entah mengapa Belva mengatakan itu. Tapi, apa yang dikatakan Sagara seperti pernah ia dengar sebelum ini. Begitu familiar. Apa ia pernah menonton film dengan jargon yang seperti itu hingga kata-kata itu tertanam di alam bawah sadarnya?


" Kamu... ingat sesuatu?" Sagara duduk di sisi ranjang. Ekspresinya penuh harap sekali.


" Ingat apa?"


" Bukan apa-apa. Kalau begitu, aku pulang ya," Sagara berbalik dan berjalan menjauhi Belva.


Belva tidak berharap Sagara pulang. Tapi, tidak mungkin juga dia menahan orang yang bukan siapa-siapa untuk tetap tinggal paling tidak sampai ia terlelap.


Perasaan Belva mendadak kosong setelah pintu kamarnya tertutup. Tubuh kekar Sagara sudah benar-benar lenyap dari pandangan dan itu membuat Belva sangat kecewa. Namun, kekecewaannya mendadak luntur saat ponselnya bergetar menandakan pesan masuk. Belva langsung meraih ponsel dan mendapati nomor tidak dikenal.


...Disimpan ya....


...Sagara....


Senyum lebar langsung terukir di bibir Belva. Bagaimana bisa dia sesenang ini hanya dengan sebuah pesan singkat yang bahkan tidak ada romantis-romantisnya sama sekali.


Ponselnya kembali bergetar. Dari Sagara lagi.


...Kalau kamu ingat sesuatu, bisa telepon aku. Tidurlah. Kamu perlu istirahat yang cukup....


Tuhan. Perhatian sekali dia. Sungguh lelaki sempurna idaman seluruh wanita di muka bumi. Andai Belva bisa menjadi pacarnya, bukankah ia akan merasa jadi manusia paling beruntung di dunia?


Cepat-cepat Belva menyimpan nomor ponsel Sagara ke kontaknya agar tidak lupa. Kemudian membalas pesan singkat tersebut.


...Kamu, hati-hati di jalan ya....


...Iya. Kalau aku sudah sampai, nanti kutelepon....


Astaga. Belva tidak sabar agar Sagara segera sampai. Ia memejamkan mata dan sekelabat bayangan wajah Sagara di suatu tempat asing muncul. Begitu cepat hingga Belva tidak bisa mengingat jelas tempat apa itu. Belva berusaha memejamkan mata lagi, siapa tahu ia bisa melihat sesuatu yang barangkali ia lupakan. Namun, nihil. Tak ada sesuatu pun yang ia lihat selain warna oranye, efek dari lampu yang tepat berada di atas kepalanya.


Tadi itu apa?


Apa sebenarnya Belva memiliki memori dengan Sagara di tempat antah berantah? atau sekelebatan tadi hanya bagian dari sugestinya? Bagaimana pun, di pertemuan pertama ini, Belva seperti merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Bisa jadi itu hanya reaksi alam bawah sadarnya saja yang melebih-lebihkan sesuatu.


Tiba-tiba ponsel.Belva bergetar berkali-kali. Tanda ada panggilan masuk. Ia senang bukan main, karena Sagara benar-benar menelponnya. Tapi, setelah melihat layar ponselnya, Belva kecewa. Itu bukan telepon dari Sagara. Melainkan telepon dari mantan kekasihnya, Arman. Ogah-ogahan, Belva mengangkat panggilannya.


" Halo, Belva. Gimana keadaan kamu?"


" Baik."


" Udah minum obat?"


" Udah."


Terdengar helaan napas dari ponselnya.


" Bel... apa kita bisa ketemu buat ngebahas hubungan kita?"


" Nggak ada yang perlu dibahas lagi."


" Bel, aku mohon..."


" Kita udah selesai, Arman."


" Bel... kamu harus denger penjelasan aku."


" Aku nggak butuh itu."


" Bel..."


" Aku mau istirahat."


Belva mematikan sambungan teleponnya. Entah mengapa, sesuatu yang berhubungan dengan Arman kini justru tak berarti apa-apa. Padahal, dulu Belva begitu mencintai Arman lebih dari apapun. Tapi, setelah tahu mentan pacarnya main belakang dengan sahabatnya, Belva hanya kecewa sesaat. Kemudian semuanya baik-baik saja. Seolah hidupnya yang dulu sama dengan kehidupannya yang sekarang. Tidak ada penyesalan apapun. Tidak ada rasa ingin kembali. Apalagi berpikir untuk melanjutkan pernikahan yang hampir terjadi.


Mungkin begitulah cara Tuhan menjauhkan sepasang kekasih yang tidak ditakdirkan untuk berjodoh. Meski begitu, Belva sangat bersyukur karena bisa mengetahui sisi bejat dua orang yang dulu amat ia percayai dan sayangi. Kini, Belva tidak keberatan tidak punya teman dekat yang bisa saling berbagi suka dan duka. Meski begitu, Belva perlu berterimakasih kepada Febi yang telah mengajarkannya bagaimana harus bersikap kepada orang lain. Seberapa banyak porsi seseorang untuk mempercayai orang lain.


Ponsel Belva kembali bergetar berkali-kali. Ia tidak mau terlalu berpikir yang berlebihan dulu sebelum melihat nama yang tertera di ponselnya. Sagara. Astaga. Sungguh lelaki itu menelponnya? Cepat-cepat Belva mengangkat panggilan itu.


" Kamu udah sampai?" Belva buru-buru bertanya. Ia begitu antusias sekali meskipun dadanya berdebar-debar tidak karuan.


" Baru saja sampai. Kamu... baikan?"


Debaran jantung Belva jelas tidak normal. Tapi, ia merasa tiga kali lipat lebih baik dari kemarin-kemarin, " ya. Baik banget."


" Kalau kamu sudah merasa sembuh total, apa kita bisa keluar?"


" Keluar?"


" Ng, maksud aku... jalan-jalan."


Belva tidak bisa membendung rasa senangnya. Apakah mereka akan berkencan setelah ini? Astaga... mengapa Belva sangat cepat jatuh cinta begini?


" Belva?"


" Ya. Besok kita jalan-jalan."


***