My Love From The Sea

My Love From The Sea
Kamar Rumah Sakit



" Sagara..."


Itu suara Belva. Maya yang duduk di sebelah Bankar Belva sejak satu jam yang lalu melihat jemari adiknya bergerak-gerak.


" Belva, kamu sadar?" Suara Maya gemetaran. Ia tidak bisa membendung air mata bahagia saat mata itu terbuka dan kepala adiknya bergerak-gerak.


" Sagara... kamu dimana?"


Arman yang baru saja masuk berniat untuk memberikan air mineral titipan Maya mendengar itu. Mendadak perasaannya perih mendengar Belva menyebutkan nama seorang lelaki. Namun, sebisa mungkin Arman kelihatan biasa saja. Ia meletakkan kantong plastik bertuliskan nama minimarket dan berdiri di dekat Belva.


" Aku kenapa?" Belva mengerjapkan matanya berkali-kali. Berusaha mengadaptasikan pandangannya dengan cahaya di ruangan serba putih yang beraroma memusingkan. Kepalanya pening. Ia mendengar suara seorang perempuan, tapi tidak jelas. Telinganya terasa pengang. Seperti penuh oleh air. Pandangannya juga buram sekali serta kepalanya berat.


" Belva..." kali ini Arman yang berusaha menyadarkan Belva. Ia ingin sekali memegang tangan itu, tapi sepertinya Belva akan benar-benar sadar dan ingat semuanya sebentar lagi. Pertemuan terakhirnya kan sangat tidak baik. Syukur-syukur jika ia tidak diusir oleh Belva dari sini.


" Belva, ini Mbak Maya," Maya mengusap air matanya dan ikut berdiri di sisi berlawanan dengan Arman.


Belva memejamkan matanya cukup lama. Berusaha mengatur napas pelan-pelan untuk mengurangi rasa pusing di kepalanya. Lalu membuka mata. Satu detik, buram. Dua detik, masih buram, lima detik, tetap buram, sepuluh detik, perlahan-lahan pandangannya mulai jelas. Wajah pertama yang terlihat oleh matanya adalah wajah Arman, kemudian ia langsung berpaling dan mendapati wajah kakaknya yang sangat tidak karuan.


" Mbak Maya..." lirihnya, " aku... di mana?"


" Belva, kamu di rumah sakit," Maya tidak sanggup menahan kebahagiaannya mengetahui Belva kembali sadar, " kamu masih hidup, Bel."


" Kenapa aku ada di sini?"


" Arman, tolong panggilkan Dokter. Bilang kalau Belva sudah sadar," ucap Maya kepada Arman, " extension-nya tertempel di dinding. Dokter Tirta Sadewa."


Arman menurut. Ia langsung meraih gagang telepon dan mencari nama yang disebutkan oleh Maya pada daftar ekstension yang tertempel di dinding. Serangan Maya, mengusap rambut adiknya dengan sayang.


" Kalau kamu sudah sembuh total, nanti Mbak ceritakan. Kamu istirahat saja dulu ya," kali ini Maya mencoba menjawab pertanyaan Belva yang tadi.


" Mbak Maya... apa Sagara ada di sini?"


Maya tidak tahu siapa yang Belva maksud. Jadi, ia hanya menggeleng. Di sisi lain, Arman langsung menoleh. Sembari menutup telepon, ia kembali menghadap Belva. Ia tidak bicara apa-apa, karena Belva tidak mau menolehkan wajah kearahnya. Arman sakit mendengar nama Sagara dua kali. Sebenarnya, Sagara itu siapa? Apakah selama ini Belva dibawa kabur oleh lelaki bernama Sagara?


Belum pertanyaannya terjawab, pintu terbuka. Menampakkan dokter dan seorang suster masuk. Mereka segera mengecek keadaan Belva. Mulai dari suhu badan, denyut nadi, denyut jantung, telinga, hidung, mata dan semua yang diperlukan.


Belva menyipit, memandang lelaki berjas putih yang sibuk memeriksanya. Untuk beberapa detik, mata mereka saling bertemu. Belva dapat melihat bola mata sebiru laut yang tenang. Namun, semakin lama Belva melihat kegelapan yang hampa. Dirinya duduk sembari memeluk lutut, ketakutan. Namun, sosok lelaki tampan menghampirinya. Mengulurkan tangannya yang kekar. Belva meraihnya, kemudian mereka berjalan menyusuri jalanan gelap yang sunyi. Belva tak dapat melihat apa-apa di depannya hingga sebuah cahaya yang begitu terang menyelimutinya, setelah itu... Dokter Tirta berkedip. Belva tidak dapat melihat apa-apa lagi dari matanya yang sebiru laut.


" Keadaanya lima puluh persen lebih baik dari kemarin. Ini aneh, tapi Saudari Belva sembuh lebih capat dari seharusnya," Dokter Tirta menjelaskan, ia melirik Belva lagi, mengernyit.


" Apa Dokter kenal Sagara?" Belva tidak tahu mengapa ia bertanya begitu. Melihat Dokter di depannya mengingatakannya dengan Sagara. Belva dapat melihat sesuatu di pupil mata yang berwana biru itu. Namun, ia merasa janggal dengan ini semua. Kenapa Belva melihat sesuatu di mata Dokter itu? Jangan-jangan... Dokter itu bukan manusia? Makhluk yang sama seperti Sagara?


Dokter Tirta mengangguk lemah, kemudian memalingkan pandangan ke arah Maya, " ini ajaib. Tapi kemungkinan besarnya, saudari Belva sudah bisa pulang besok. Saya pamit," ia menundukkan kepala, kemudian pergi.


Di atas bangkar, Belva mengamati punggung berjas putih itu. Wajahnya kelihatan tidak asing, tapi ia lupa pernah bertemu dimana.


" Arman, tolong jaga Belva. Mbak perlu bicara dengan Dokter Tirta," ucap Maya seraya keluar dari ruangan dan mengejar Dokter Tirta.


" Bel... maaf."


Belva masih diam saja. Telinganya yang pengang, tiba-tiba terasa begitu lega saat sesuatu di dalam sana terasa seperti pecah, berubah menjadi air yang keluar dari telinga. Membuat sarung bantal yang berwarna putih basah sedikit. Kemudian, Belva merasa kepalanya agak sedikit ringan, meski pangkal hidungnya berdenyut-denyut tidak karuan.


" Bel... kamu dengar aku?" Arman mencoba bertanya.


" Kamu masih peduli sama aku?" Belva balik bertanya ketus.


" Bel... aku minta maaf."


" Aku nggak bisa."


Jawaban Belva begitu ketus. Intonasinya tegas dan tidak dapat diganggu gugat. Tapi, Arman tidak akan menyerah, " Bel, aku memang salah. Nggak seharusnya..."


" Arman... kamu tahu aku lagi sakit. Jadi, jangan buat kepalaku makin sakit. Aku mau istirahat."


Belva memiringkan tubuhnya, membelakangi Arman. Ia memejamkan mata, berusaha untuk terlelap. Namun, suara Arman dan Febi terputar berkali-kali. Seperti podcast menjijikan yang tidak ingin Belva dengar.


" Arman, kamu bejat! Besok kamu mau nikah, kenapa malah main sama perempuan lain?"


" Kalau aku bejat, nggak mungkin kamu mau sama aku."


" Ah!"


" Aw! Jangan digigit, Arman!"


" Kenapa?"


" Nanti bengkak!"


" Ah! Ayo, aku udah basah."


Belva berusaha menutupi telinganya agar suara itu tidak mengganggunya. Namun, semakin ia menutup telinga, suara itu terdengar semakin keras dan terus terulang.


" Arman, stop!" Belva berteriak karena tidak kuat. Ia masih bertahan dengan posisinya. Kini telinganya tertutupi bantal yang cukup tebal.


" Belva, perlu aku panggilan Dokter Tirta?" Arman yang tadi sudah duduk, kini berjalan mendekat lagi ke ranjang Belva. Ia menyentuh punggung Belva yang bergetar, ingin sekali mengusapnya.


" Arman, kamu ingat kan kalau kita udah putus?" Belva sengaja bertanya begitu. Untuk memastikan jika Arman tidak melupakan status terakhir mereka. Agar Arman ingat jika mereka sudah bukan siapa-siapa lagi.


" Ya. Tapi, aku nggak mau."


" Aku juga nggak mau lihat muka kamu lagi," ucapnya sebelum suara-suara itu semakin melemah dan perlahan-lahan hilang dari indera pendengarannya.


***