My Love From The Sea

My Love From The Sea
Senyuman



" Belva, kamu mau kemana?"


Belva menghentikan langkah dan tersenyum lebar ke arah kakaknya yang keheranan. Penampilannya rapi dan wangi sekali, " mau keluar."


" Sendiri atau sama Arman?"


Mendadak suasana hati Belva berubah setelah mendengar nama Arman. Keluarganya belum tahu jika diantara menerak sudah tidak ada apa-apa. Belva pun sesungguhnya tidak berminat sama sekali akan membahas Arman pada salah satu obrolan antara kakak dan adik di waktu senggang kapan-kapan.


" Janjian sama teman."


" Siapa?"


" Ada deh," Belva mengecup pipi Maya sebelum berlari keluar tanpa berkata apa-apa lagi.


Belva baru saja memesan ojeg online sembari membuka gerbang yang menjulang tinggi. Namun, Belva kaget saat melihat chevrolet hitam sudah terparkir di depan gerbang rumahnya dengan kepala Sagara yang keluar lewat kaca mobil. Belva segera mendekati chevrolet itu.


" Masuk," perintah Sagara.


Tanpa membuang waktu, Belva menuruti perintah si tampan itu. Ia membatalkan pesanan ojeg online-nya.


" Kenapa nggak bilang kalau mau jemput?" tanya Belva yang masih tidak percaya. Sore ini mereka benar-benar berkencan. Hanya berdua.


" Supaya kamu terkejut," Sagara menjawab sembari menjalankan mobilnya.


" Jadi, kita mau kemana?" Belva bertanya lagi. Mengingat Sagara tidak memberitahunya kemana mereka akan pergi sore-sore begini. Tapi kemudian Belva tahu setelah melihat layar ponsel Sagara menampilkan peta digital. Tempat makan.


" Kamu belum makan, kan?"


Belva menggeleng, " Belum."


Astaga. Mengapa Belva kegirangan begini meski hanya diajak makan oleh orang tampan. Melirik wajah Sagara dari samping, membuat Belva berdebar-debar tidak karuan.


" Kamu ingat sesuatu?" tanya Sagara tiba-tiba.


Belva mengernyit heran. Sagara selalu bertanya hal itu di setiap pertemuannya. Belva tidak mengerti apa maksudnya. Apakah Sagara tahu sesuatu mengenai ingatan Belva yang hilang akibat meminum air putih dari Maya?


" Sagara..."


" Ya."


" Apa kamu adalah bagian dari ingatanku yang hilang?" tanya Belva kemudian yang sia-sia. Sagara bahkan tidak menjawab pertanyaannya kali ini. Matanya fokus menyetir.


Hening. Apakah Belva salah bertanya seperti itu?


Suara ponsel memecah keheningan di antara mereka. Itu ponsel Sagara yang menunjukkan nomor baru tak dikenal. Sagara mengangkat panggilannya dan mengeraskan volume panggilannya.


" Sagara! kamu bawa mobil aku? Astaga! kamu kan tidak punya SIM! kenapa nekat sekali?" cecar suara di ponsel Sagara.


" Aku cuma pinjam sebentar. Nanti aku kembalikan. Daaaah." Sagara memutus sambungan teleponnya.


Di samping Sagara, Belva menahan tawa, " siapa?"


" Dew... maksudku Dokter Tirta."


" Kamu saudaranya?"


" Adik."


" Sagara, kalau ada polisi, kita bisa tukar posisi," Belva langsung mengingatkan. Sebenarnya Belva tak terlalu peduli soal orang lain punya SIM atau tidak. Yang jelas, jika kemampuan menyetirnya sudah layak untuk turun ke jalanan manapun, itu tidak masalah. Lagipula, orang yang tidak punya SIM belum tentu tidak hati-hati dan orang yang memiliki SIM tidak juga berpotensi melakukan kesalahan seperti menabrak sesuatu, misalnya.


Meski tidak tahu kegunaan SIM itu apa, Sagara tetap mengangguk, " siap, tuan puteri."


Belva tersenyum senang, " kamu jangan terlalu berlebihan, Sagara." Rasa-rasanya pipinya Belva memerah.


" Aku tidak berlebihan, Belva."


Astaga. Debaran dada Belva sangat tidak karuan. Ia bahkan tidak sadar jika mobil telah parkir di depan salah satu restoran yang menunya menjadi salah satu favoritnya di Jakarta.


" Kita sampai," ucap Sagara seraya menoleh ke arah Belva.


Ketika mata mereka saling bertemu, Belva semakin tidak karuan. Rasanya ia akan segera kehabisan napas jika terus-menerus bertatapan macam tokoh-tokoh sinetron yang jatuh cinta. Belva menelan ludah saat kepala Sagara perlahan-lahan maju. Dari jarak yang sangat dekat, Belva dapat merasakan embusan napas Sagara yang hangat. Belva memejamkan mata, lalu ia merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibirnya yang mungil.


Rasanya aneh. Belva seperti dekat sekali dengan Sagara. Sekelebatan adegan dirinya dengan Sagara yang terbaring di atas ranjang di sebuah ruangan yang dinding-dindingnya terbuat dari emas terputar bagai klip film berdurasi sepuluh detik. Kemudian, latar berubah menjadi di pantai. Belva di pangkuan Sagara, berciuman. Adegan itu bagai sekelebatan yang membuat kepala Belva tiba-tiba pening.


Sagara melepaskan ciumannya saat merasakan ketidakberesan pada kekasihnya. Lelaki itu menarik kepala Belva agar bersandar ke dada bidangnya.


" Sagara... apa kita sudah pernah kenal sebelum ini?" Belva bertanya lirih, nyaris tak terdengar.


" Kamu mengingat sesuatu?"


" Aku nggak yakin itu ingatan atau apa. Yang jelas, aku ngelihat kita ngelakuin hal yang sama kayak tadi di pantai."


Sagara memeluk Belva semakin erat. Kini ia tahu, bagaimana cara mengembalikan ingatan Belva dengan cepat. Ia harus melakukan hal-hal yang pernah dilakukannya kepada Belva ketika di pulau cenderawasih. Apakah Sagara perlu membawa Belva ke pulau itu lagi dengan dalih liburan agar semuanya segera kembali normal?


" Sagara, kamu ini siapa? kenapa aku seolah mengenal kamu lebih dari ini?"


Sagara bingung. Apakah ia harus mengatakannya sekarang jika mereka telah berpacaran lebih dari sebulan?


" Belva, semuanya akan kedengaran aneh kalau kamu tidak menyadarinya sendiri." Sagara berkata jujur. Semua yang Belva alami di Pulau Cenderawasih mungkin akan sangat aneh dan menyeramkan jika Sagara menceritakannya sekarang. Kondisi Belva sedang tidak memungkinkan untuk menerima kenyataan yang akan kedengaran seperti bualan. Maka dari itu, Sagara memutuskan untuk mengembalikan ingatan Belva saja.


" Kamu lapar, kan? ayo kita makan," Sagara melepas pelukannya. Kemudian keluar dari mobil, membukakan pintu di sisi Belva.


Sagara tidak mengerti mengapa ia segila ini. Meski hubungan mereka terlarang, tapi Sagara tidak peduli. Ia tahu apa konsekuensinya jika nekat ingin menikah dengan manusia.


Sedangkan di sebelah Sagara, Belva diam saja. Ia yakin jika dirinya dan Sagara sudah lama kenal. Karena perasaannya aneh sekali. Belva merasa sangat nyaman saat Sagara nemeluknya. Seperti ada sesuatu kehangatan yang menyelimutinya.


Mereka mengambil tempat duduk di lantai dua. Duduk berhadapan sambil hanyut dalam pikiran masing-masing, hingga salah satu pelayan datang dan mencatat pesanan Belva dan Sagara.


Sepeninggal pelayan tadi, Belva mengamati Sagara yang juga mengamatinya, " Sagara."


" Ya?"


" Walaupun kamu nggak mau bilang siapa kamu di hidup aku, tapi aku yakin. Kamu orang yang berarti buat aku, Sagara."


Sagara mengulas senyum. Ini adalah pertama kalinya Belva melihat Sagara tersenyum sejak pertemuan pertama mereka. Astaga. Senyum itu... membuat Belva seperti mau pingsan. Tapi, sekelebatan senyum Sagara di lain tempat kembali terputar di kepala Belva.


" Belva, kamu ingat sesuatu lagi?" Sagara panik. Ia berdiri dan memegangi badan Belva yang mendadak lemas agar tidak jatuh.


" Sagara, ternyata ini bukan pertama kali aku lihat kamu senyum."


***