My Love From The Sea

My Love From The Sea
Mimpi



Sagara berdiri di dekat pintu. Mengamati Belva yang masih terlelap padahal hari sudah siang. Matahari bahkan sudah hampir naik dengan sempurna.


Lelaki itu mengernyit. Mengapa semakin lama Belva semakin suka tidur? memangnya apa enaknya tidur? Sagara selalu terjaga sepanjang waktu. Tidak pernah mengantuk seperti manusia yang tukang tidur.


Sembari mengamati, Sagara berusaha mencari sesuatu yang ada di dekat pacarnya. Apa saja yang ia lihat semalam. Bayangan aneh yang membuat Sagara bertanya-tanya, makhluk apa itu. Tapi, semakin Sagara mencari, semakin ia tidak menemukan apa-apa.


" Sagara, aku mau pulang..."


Sagara mengernyit. Ia hampir saja melompat jika Belva tidak kembali diam. Perempuan itu sedang apa barusan? Merubah posisi saja? mengigau? kemudian tidur lagi? Tapi, bagaimana pun, apa yang Belva ucapkan barusan bagai mantra yang membuat Sagara takut. Ia takut Belva benar-benar akan pulang dan meninggalkan dirinya dalam kehampaan. Sendirian.


" Belva, kalau bisa kamu tetap di sini saja, ya," lirihnya pada Belva. Tapi suara itu hanya bisa di dengarkan oleh dirinya sendiri.


" Papa..."


Sagara kembali mengeryit. Perempuan itu kenapa? mengapa mengigau siang bolong begini? sudah dua kali. Tidak biasanya. Apa sesuatu yang masuk ke mimpinya? Sagara memejamkan mata, berusaha untuk masuk ke alam bawah sadar Belva. Namun, ia gagal. Jiwanya terpental keluar, seperti ada cahaya yang sangat terang sekali yang melemparnya.


Apa itu?


Sagara kembali memejamkan matanya lagi. Berusaha mencari tahu cahaya apa yang membentengi alam bawah sadar kekasihnya. Sagara khawatir itu adalah sesuatu yang jahat. Namun, ketika ia kembali ingin masuk ke alam bawah sadar Belva, Sagara kembali terpental. Ia tidak tahu cahaya apa itu hingga tidak dapat ditembus.


Sagara yakin. Bhumi pasti mengetahui sesuatu. Bhumi pasti sudah menyusun rencana untuk mencari tahu lebih jauh soal ini. Soal lelaki semalam. Tiba-tiba, bahu Sagara ditepuk seseorang dari samping. Ketika menoleh, Sagara tak menemukan apapun. Bahkan setelah ia keluar untuk mencari tahu siapa pelakunya. Tetap tidak menemukan siapapun.


" Bhumi!" teriaknya asal. Tapi secara logika, jika bukam Bhumi, siapa lagi yang akan menepuk bahunya sekeras itu. Lintang tak punya tenaga sekuat Bhumi.


" Kamu memanggilku?"


Sagara membalikkan badan. Bhumi sudah berdiri bersedekap di belakangnya. Si penguasa daratan nyengir.


" Bukan aku, sungguh!" ucapnya. Jika Sagara tidak mengunci pikirannya, Bhumi bisa leluasa tahu apapun yang dipikirkan temannya ini.


" Kamu jangan bercanda!" Sagara tidak percaya. Apa maksudnya cahaya putih?


" Cahaya itu terbang ke sana!" Bhumi menunjuk arah di belakang Sagara. Hamparan kebun melati. Namun, arah tunjukkan tidak pasti ke arah mana. " Intinya, cahaya itu lari ke kebun itu!"


" Menurutmu itu apa?" Sagara kebingungan, masih tidak paham dengan cahaya putih yang disebut-sebut Bhumi.


" Kemungkinan besar, sesuatu yang mau menjemput," Bhumi tidak tahu pasti. Yang jelas, yang akan terjadi sebentar lagi adalah kepergian Belva dari sini.


" Jemput siapa?" meski Sagara tahu maksud dari menjemput yang disinggung_-singgung Bhumi, ia masih bertanya. Hanya ingin memastikan jika cahaya itu tidak bermaksud merenggut Belva dari genggamannya.


" Siapa lagi. Tidak usah pura-pura bodoh!" Bhumi berlalu. Masuk ke dalam dan melongok Belva dari ambang pintu. Ia terkejut bukan main ketika melihat sosok lelaki tua sedang duduk di atas bale, di sebelah Belva tertidur. Aromanya harum sekali, mengalahkan bunga-bunga melati yang bermekaran di kebun.


" Siapa kamu?" Bhumi penasaran. Tak lama, Sagara sudah berdiri di sebelahnya. Temannya tak kalah terkejut melihat makhluk tua itu.


" Jadi, kamu yang semalam?" Sagara masih tidak percaya.


" Dia cucuku," lelaki tua itu menjawab. Suaranya dalam dan tegas.


" Apa kamu cahaya tadi?" Bhumi bertanya lagi.


Lelaki tua itu menggeleng, " cahaya itu baik. Biar dia membawa cucuku pulang."


" Tidak bisa!" Sagara berteriak, " dia pacar saya!"


" Usiamu enam ratus tahun. Kenapa masih seperti anak-anak?" tanya lelaki tua itu.


" Darimana kamu tahu?"


Lelaki tua itu tidak menjawab. Kemudian, sosoknya perlahan-lahan berubah menjadi asap dan lenyap. Sagara dan Bhumi hanya saling pandang melihat itu. Bahkan, setelah lelaki tua itu lenyap, mereka berdua tidak bisa melacak keberadaannya di mana.


" Sepertinya dia jauh."


" Ka... kalian... ngapain ngeliatin aku begitu?" Belva gemeteran, terutama saat matanya bertemu dengan mata Bhumi.


" Cih! Berapa lama kamu tidur?" Bhumi berdecih. Tak membutuhkan jawaban dari pertanyaannya, ia melenggang keluar.


" Sagara, ada apa?" Belva kelihatan kebingungan sekali.


Sagara berjalan pelan ke Belva, " kamu mimpi apa?"


" Papa. Papa datang?"


Sagara menaikkan sebelah alisnya, " papa kamu sudah meninggal, kan?"


Belva mengangguk. Wajahnya jadi muram. Perempuan itu menundukkan wajahnya dalam h dalam sembari menyandarkan kepala di lengan Sagara yang besar.


" Kalau kamu mimpi orang yang sudah meninggal, hati-hati. Jangan sampai mau diajak kemana-mana," Sagara memperingatkan. Karena ia tahu, sosok yang menyerupai orang meninggal bisa saja energinya negatif yang akan mengurung jiwa manusia di alamnya.


" Aku pernah dengar soal itu. Tapi, apa Papa jahat?"


Sagara merasa Belva seperti anak kecil. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu. Harusnya, di usia dewasa ia tahu mana baik dan buruk. Mana yang perlu ia ikuti dan mana yang tidak.


" Sagara, tadi ada lelaki tua yang mau ajak aku pulang."


Sagara berdebar. Ia menarik tubuh Belva lebih dekat dan erat, " lelaki tua, bersorban?"


Belva menggeleng, " Berpeci hitam."


Sagara mengernyit. Makhluk apa lagi? Lelaki tua tadi jelas bersorban, sedangkan yang mengajak Belva pulang adalah lelaki tua berpeci. Apa jangan-jangan... cahaya itu?


" Tapi, aku nggak mau. Aku nggak kenal dia."


Sagara harus menghela napas lega dengan keputusan yang Belva ambil. Bagaimanapun, Belva memilih keputusan yang benar. Karena Sagara tidak mau kehilangan Belva dalam waktu dekat. Meski jika Belva kembali ke keluarganya, ia bisa saja menjalani hari-hari seperti manusia normal, tapi baginya itu sangat merepotkan. Dan, Sagara paling tidak suka jika ada segelintir orang yang bisa mendeteksinya.


" Sagara, kenapa kamu diam aja?"


Sagara tersadar. Ia kemudian melepas Belva dari pelukannya, " aku bersyukur kamu lebih milih tidak ikut."


" Lelaki itu kelihatan baik sebenarnya."


" Pilihan kamu benar, Belva."


Belva tampak diam, " Sagara, kamu bilang pulau cenderawasih ini nyata?" kemudian bertanya.


" Ya. Manusia biasa bisa lihat pulau ini."


" Apa semua petani-petani di luar sana itu manusia?"


Sagara diam saja. Ia hanya menunggu waktu agar Belva mengetahui apa sebenarnya penghuni pulau ini.


" Sagara..."


" Belva, apa kamu lapar? Ayo aku antar cari makan."


Belva mengangguk, kemudian minta diantar mandi sebentar sebelum keluar.


" Kenapa cuacanya panas banget ya?"


***