My Love From The Sea

My Love From The Sea
Pertanyaan



Tirta baru saja selesai memeriksa pasien dan hendak masuk ke ruangannya. Ia terkejut mendapati Bhumi sudah duduk di meja kerjanya sembari mengetuk-ngetukkan telunjuk.


" Lama sekali," Bhumi mengeluh, " jadi, apa yang kamu lakukan dengan ingatan Belva?"


" Tentu saja menyelamatkannya."


" Dewa Tirta, kamu salah!"


Tirta tidak mengerti apa hubungan Bhumi dan Belva. Ia juga tidak tahu apa yang telah terjadi antara Adiknya, Belva dan Bhumi di Pulau Cenderawasih. Yang ia tahu hanya, Belva tidak perlu itu semua. Bahkan, adiknya dan Bhumi tidak perlu mengurusi hidup manusia itu.


" Bersikap normal lah, Bhumi. Bilang ke Sagara juga," ucap Tirta tak acuh. Ia mengambil beberapa berkas di atas meja. Itu adalah beberapa hasil rontgen pasien-pasiennya.


" Jadi, kamu tidak setuju dengan hubungan mereka?"


Mereka yang Bhumi maksud jelas Belva dan Sagara. Tapi Tirta tak menjawab. Baginya pertanyaan itu tak butuh jawaban apapun. Bukan hanya dia yang tak setuju, semesta pun pasti akan melarang hubungan itu.


" Ya. Aku mengerti."


Sial. Tirta lupa mengunci pikirannya. Ia membuang napas sebal, " pergilah."


" Tidak mau, sebelum kamu mau bekerja sama denganku."


" Apa lagi, Bhumi?"


Bhumi tidak langsung menjawab. Ia malah senyum-senyum sendiri. Apakah dia senang Tirta tidak menyetujui hubungan adiknya dan Belva? jangan-jangan... Bhumi menyukai Belva?


" Kamu tahu, kan kalau makhluk seperti kita harusnya bisa membaca pikiran manusia?"


Bhumi seolah butuh jawaban, padahal itu bukan pertanyaan yang perlu dijawab.


" Aku cuma penasaran, kenapa aku tidak bisa menembus pikiran perempuan itu."


Apa dia bilang? dia penasaran? Astaga! itu sangat buang-buang waktu. Tidak adakah niatnya untuk bertaubat dan berbuat baik kepada manusia?


" Bahkan, Dhara tidak bisa membaca isi kepalanya. Jadi, ayo kita cari tahu sebenar nya makhluk apa dia?"


Tirta terbahak-bahak. Usia Bhumi sudah seribu tahun, tapi otaknya begitu dangkal. Mengapa dia serepot itu hanya karena tidak bisa membaca pikiran manusia? lagipula, isi kepala Belva bukanlah urusannya.


" Jangan tertawa seperti itu!"


Tirta mengusap matanya yang mengeluarkan air mata dan berusaha menahan diri agar tidak tertawa, " sudahlah. Pikirkan saja cara menyesatkan orang. Jangan urusi dia."


" Dewa Tirta, kalau begitu kembalikan ingatan dia. Aku akan cari tahun sendiri."


***


Sagara dan Belva duduk bersebelahan di dalam mobil di parkiran rumah sakit. Setelah mengobrol santai, kini Belva sudah tidak takut lagi dengan Sagara. Bagi Belva, apapun Sagara, dua tetap kelihatan tampan dan mempesona. Lagipula, selama ini Sagara sangat baik dan tidak pernah mencelakainya.


" Aku pernah datang ke konser Queen. Freddie keren sekali!"


Komentar nya saat lagu Queen terputar. Memang, sepanjang mendengarkan lagu, isi playlist Sagara adalah lagu-lagu jadul yang lumayan Belva tahu. Kebanyakan musik rock dan alternatif yang sempat mendunia tahun tujuh puluh sampai sembilan puluhan. Wajar saja, Sagara mengaku jika terakhir kali tinggal di alam manusia adalah saat nama grup band Queen begitu meroket.


" Aku bahkan pernah mengobrol dengan Freddie."


Mata Sagara menerawang jauh. Ia seperti rindu masa-masa itu.


" Kamu serius, Sagara?"


Sagara mengangguk, " aku adalah fans berat mereka."


Belva mengagguk paham. Ia baru tahu jika ada siluman yang menggilai band rock.


" Sagara, kenapa aku bisa ada di Pulau Cenderawasih waktu itu?" penasaran, Belva akhirnya bertanya mengenai hal yang sangat ingin ia ketahui.


Belva mengangguk. Ia ingat dengan jelas bagaimana rasanya waktu itu. Begitu hancur hatinya hingga ia memutuskan hal paling gila dalam hidupnya. Namun, ia tidak ingat apa-apa setelah semuanya menggelap.


" Ayahanda menyuruhku untuk menolongmu."


" Kamu nolong aku?"


Sagara mengangguk, " jelas. Aku membawa kamu ke daratan terdekat."


Tiba-tiba, Belva mengingat sesuatu. Pantai. Terik matahari. Pohon kelapa dan Sagara. Seperti biasa, setelah itu kepala Belva serasa mau pecah.


" Belva, kamu ingat sesuatu lagi?" Sagara menangkap kepala Belva agar bersandar di dada bidangnya. Sembari ia pijit-pijit kepala Belva pelan-pelan, " aku tidak mau kamu sakit, Belva."


" Sagara, aku perlu tahu lebih banyak soal hubungan kita."


Sagara menggeleng, " akan ada waktunya. Hari ini kamu sudah dua kali mengingat. Kepala kamu bisa becah kalau dipaksakan terus-menerus." Sagara berbohong. Ia hanya menakut-nakuti Belva agar mau membicarakan hal lain selain ini. Sagara tidak mau Belva tbah kesakitan.


" Sagara, kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu?" Itu pertanyaan bodoh. Tapi, ia sungguh ingin tahu.


Sagara tersenyum lebar sekali. Pipinya memerah. Dia seperti malu, " jadi kamu jatuh cinta sama aku?"


Sadar, Belva menarik kepalanya dan memijit sendiri kepalanya. Entah apa yang merasukinya hingga ia bisa bertanya begitu. Kini, giliran dia yang memerah seperti udang rebus. Malu bukan main.


" Aku tidak tahu. Kamu belum bilang alasannya Belva."


Aish. Belva kini merasa tolol. Bagaimana bisa ia menanyakan perasaannya kepada orang lain?


" Maaf."


" Maaf?"


Entahlah. Kini Belva jadi kelihatan bodoh sekali.


" Sagara, temanmu kemana ya? kok lama?" Belva berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak mau menjadi bodoh begini. Belva sengaja menyebut Bhumi dengan kata ganti. Agar dia tidak tiba-tiba muncul saat namanya dipanggil. Lumayan mengerikan juga jika tiba-tiba ada ular di depan wajah, kan?


" Kamu jangan khawatir. Kalau dia tidak balik ke mobil, dia pasti aman kok. Dia itu kuat. Tapi, aku lebih kuat, kan?"


Belva mencubit lengan Sagara. Disaat begini, dia masih saja bisa bercanda. Ah, lagipula untuk apa juga Belva mencemaskan siluman. Mereka kuat dan bisa melakukan segalanya sendiri. Bahkan, ular itu bisa tiba-tiba ada di ranjang Belva. Enak-enakan melingkar di sebelah orang tidur.


" Kalau lima menit lagi dia belum datang, kita jalan-jalan, oke?"


Belva setuju saja. Lagipula, menghabiskan waktu bersama Sagara begitu menyenangkan dan tidak membosankan. Mungkin karena Sagara tampan dan Belva sudah terlanjur nyaman.


Sagara mengetuk-ngetukkan jemari di atas setir mobil. Sudah lewat dari semenit, tapi belum ada tanda-tanda Bhumi akan kembali. Belva masih melongok ke arah lift yang berdentang. Beberapa orang menghambur keluar, namun tak ada sosok Bhumi di sana. Apakah dia lebih memilih meliat menuruni tangga dibanding repot-repot berebut lift?


Jika dibayangkan lucu juga. Bagaimana bosannya lelaki berlesung pipi itu menunggu lift dan saat terbuka lift itu penuh.


" Jangan memikirkan dia."


Sagara mengingatkan. Belva tersadar dan menoleh aneh ke arah Sagara, " kamu tahu?"


" Memangnya kenapa kalau dia memikirkan aku, Sagara?"


Mendengar suara itu, Belva menoleh ke kursi belakang. Bhumi sudah merebahkan tubuh di sana. Dengan santai dan tanpa dosa, dia malah bertanya begitu.


" Jangan suka mengagetkan orang, Bhumi."


Bhumi tertawa, " astaga, mobil ini enak sekali. Bisa naikkan suhunya? akan lebih enak lagi jika agak hangat."


***