My Love From The Sea

My Love From The Sea
Perihal Setir Mobil



" Dewa Tirta, kenapa kamu kelihatan tidak senang begitu dengan kehadiran adikmu ini?"


Sagara duduk berhadapan dengan Tirta. Tangannya bersedekap dan kakinya disilangkan macam orang kaya.


" Apa mau kamu, Sagara?" Tirta memandang Sagara menyelidik. Seperti remaja kebanyakan, adiknya ini sedang dalam proses pencarian jati diri. Dia bisa saja berulah di alam manusia. Atau mencoba-coba hal yang merugikan manusia.


" Aku cuma mau ketemu pacar, sumpah," Sagara jujur. Lelaki itu sampai bersumpah dengan manaikkan tangan kanannya membentuk huruf V. Manusia biasanya begitu kan jika sedang bersumpah?


Tirta membuang napas sebal, " jangan sok seperti manusia."


" Dewa Tirta, aku mencintai Belva. Pasien kamu."


Tirta memandang Sagara lekat-lekat. Berusaha mencari kebohongan di sana. Namun, gagal. Kali ini adiknya sepertinya jujur. Tapi, tetap saja. Keputusannya untuk mencintai manusia adalah salah, " jangan cari masalah, Sagara."


" Aku tidak cari masalah. Ini normal, kan?"


" Normal dari mananya? kamu dan Belva itu berbeda."


" Semua ini salah Ayahanda!"


Tirta semakin terkejut, " Ayahanda?"


" Ayahanda memerintahkan aku untuk menjaga perempuan itu."


Tirta semakin tidak mengerti dengan pembicaraan adiknya, " kamu jangan bercanda!"


Sagara memutar bola mata, " sudahlah, kalau memang kamu tidak percaya," lelaki itu bangkit, hendak pergi. Namun, suara Tirta menghentikannya.


" Kenapa Ayahanda memerintahkan kamu seperti itu?" Tirta penasaran. Namun, Sagara hanya mengangkat bahu tanda tidak tahu.


" Dewa Tirta, Ayahanda bilang jika aku berhasil menjalani misi ini, hadiahnya adalah perayaan pengangkatanku jadi Dewa air dingin."


Meskipun pengakuan Sagara terdengar lucu, kali ini Tirta sedang tidak ingin tertawa. Ia sendiri tidak tahu apa-apa mengenai kerajaan laut semenjak menjalani hukuman untuk membantu manusia di alam manusia sejak seratus tahun yang lalu. Jangankan memasuki kerajaan, memimpikannya saja Tirta tidak bisa.


" Hukumanmu berapa lama lagi?"


Tirta tersadar mendengar pertanyaan itu, " dua ratus tahun lagi."


" Lama sekali. Kamu tidak akan bisa menghadiri perayaan pengangkatanku dong."


" Memangnya kamu yakin bisa lolos dalam misi Ayahanda secepat dugaan kamu?"


Sagara mengangguk, " yakin dong."


***


" Sagara mana?"


Sagara bersembunyi di balik mobil-mobil di basemant ketika Belva dijemput oleh beberapa orang yang tidak ia kenal. Ia mengamati dari jarak yang tak terlalu jauh ketika perempuan itu masuk ke mobil. Kaca mobilnya diturunkan. Membuat Sagara dapat melihat betapa cantiknya wajah itu meski pucat pasi.


" Sagara!"


Ia hanya tersenyum saat Belva meneriaki namanya. Mata mereka saling bertemu, namun mobil itu telah melaju. Kacanya perlahan-lahan tertutup hingga Sagara tidak lagi dapat melihat wajah kekasihnya.


Ia mengamati mobil hitam itu hingga lenyap dari pandangan. Sagara sengaja tak kembali lagi setelah mengobrol dengan Tirta semalam. Ia memutuskan untuk duduk agak jauh dari ruang rawat Belva yang sepi. Ia melihat seorang perempuan keluar dari ruangan itu semalam. Wajahnya kelihatan kecewa sekali. Gelagatnya juga tidak beres. Ketika perempuan itu melewatinya, Sagara melihat keputusasaan. Tak berselang lama setelah perempuan itu lenyap dari pandangan, seorang lelaki keluar dari kamar Belva. Berlari-lari ketakutan seperti mencari seseorang.


Sagara tahu apa yang telah terjadi. Ia bisa melihat apa yang perempuan dan lelaki itu lakukan terhadap kekasihnya. Mereka adalah salah satu sumber yang membuat kekasihnya memutuskan untuk bunuh diri. Dari situ, Sagara jadi bisa bertemu dengan Belva. Makanya, ia berusaha membantu orang-orang yang telah mempertemukan dirinya dan Belva. Sagara berhasil mempengaruhi pikiran si perempuan agar tidak bunuh diri. Hanya itu. Tapi, jika si perempuan mau berpikir dan bertaubat, afeknya akan baik dikemudian hari.


" Sagara, ayo ikut aku pulang."


Sagara menoleh, mendapati Tirta membuka membuka pintu mobil yang ia sandari.


" Dimana rumahmu?"


Sagara mengangguk, kemudian ikut masuk ke dalam mobil.


" Kamu punya istri?" Sagara hanya ingin tahu. Sudah lama sekali ia tidak bicara dengan kakaknya.


Tirta menggeleng, " aku pikir tidak perlu."


" Usiamu bahkan lebih tua dari Bhumi. Dan kamu belum punya istri?" Sagara heran dengan kakaknya ini. Kakaknya adalah lelaki tampan. Tidak sedikit dewi-dewi yang naksir terhadapnya. Bahkan Dhara, kakak perempuan Bhumi begitu menggilai Tirta. Tapi, lelaki itu sama sekali tidak tertarik pada satupun. Astaga. Penerus kerajaan air bisa punah jika ikan air tawar tidak berkembang biak dengan baik.


" Jangan berpikiran yang macam-macam!"


Sagara melotot, " sekarang kamu bisa baca pikiranku?"


" Mungkin."


Sagara jadi semakin ingin tahu, " ajarin dong."


" Jangan mimpi kamu! tahu sendiri kalau cuma teman kamu kan yang bisa melakukan itu?"


Benar juga. Hanya Bhumi satu-satunya makhluk yang punya kekuatan superpower macam itu. Bisa membaca pikiran makhluk sejenisnya.


" Jadi, ada gosip apa di sana?"


Sebenarnya Sagara ingin tertawa mendengar Tirta bertanya begitu. Apakah kakaknya sudah sangat putus asa tinggal di dunia manusia? " tidak ada yang berarti. Cuma..." Sagara tidak melanjutkan ucapannya. Karena ini berkaitan dengan Bhumi. Sagara tidak mau Bhumi mendengarnya dan datang kesini untuk mengacaukan dirinya dan Belva. Sungguh, itu bukan ide bagus.


" Cuma..."


" Ah, cuma hal-hal tidak penting."


Tirta kelihatan kesal. Tapi, ia tidak menanggapi lagi. Lelaki itu fokus menyetir sembari menyetel lagu. Sagara tidak tahu lagu apa yang kakaknya putar. Terakhir kali ia berada di alam manusia adalah ketika Bohemian Rhapsody baru rilis dan langsung melejit seperti roket. Tapi, lagu ini lumayan enak juga.


" Kamu tahu, dimana rumah Belva?" Sagara tiba-tiba bertanya. Ia penasaran sekali. Otaknya bukan globe yang dapat tahu letak semua tempat di alam manusia. Lagipula, generasi Queen dan sekarang jelas berbeda jauh sekali. Mobil yang ia naiki sekarang suaranya sepuluh kali lebih lembut dari terakhir kali Sagara di sini. Langit-langitnya lebih tinggi. Jalannya terasa lembut, tidak membuat perut bergolak. Setirnya ada di kanan.


" Mana aku tahu!"


Sagara kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Kini ia mengamati Tirta yang menyetir. Mengamati komponen-komponen yang disentuh kakaknya. Astaga. Mobil zaman sekarang kelihatan keren sekali. Serba otomatis.


" Ngapain kamu ngeliatin begitu?" Tirta merasa risih dipandangi seperti itu.


" Apa sekarang setir mobil ada di kanan?"


Tirta tidak bisa membendung tawanya lagi. Ini adalah pertanyaan paling polos yang pernah ia dengar dari adiknya.


" Dasar ikan!"


Meskipun ia ikan, tapi Tirta paling tidak suka disebut ikan. Mendengar Sagara memanggilnya ikan, membuat Tirta ingin menghajar adiknya. Tapi ia ingat jika ia tidak boleh berlaku buruk pada apapun.


" Jawab dong!" Sagara memaksa.


Tirta menghembuskan napas, " terakhir kali kamu tinggal dimana?"


" Georgia."


" Sekarang kamu tinggal di mana?"


Sagara menggeleng, " ini dimana?"


" Welcome to Indonesia. Negara dengan setir mobil di sebelah kanan."


Jadi, bukan setirnya yang berubah. Melainkan dirinya yang tidak berada di Georgia. Melainkan Indonesia.


***