My Love From The Sea

My Love From The Sea
Keanehan Bhumi



" Aaaaaaa!" Belva berteriak ketakutan setelah membuka mata. Ia terbangun di bale dengan Bhumi yang berbaring di sebelahnya. Lelaki itu tak bereaksi apa-apa meski Belva berteriak sangat keras.


Belva merubah posisinya menjadi duduk dan mundur hingga punggungnya membentur dinding kayu di belakangnya. Belva ketakutan karena Sagara tidak ada di sini. Ia tidak siap jika melihat Bhumi tiba-tiba merubah wujudnya menjadi ular di depan mukanya. Sungguh itu adalah hal paling mengerikan yang akan menghantui Belva seumur hidup.


" Kenapa kamu ketakutan begitu?" Bhumi memiringkan kepalanya, menghadap Belva yang kelihatan waspada. Kemudian lelaki itu tersenyum mencemooh, menampakkan lesung pipinya yang cukup dalam. Bagaimanapun, Belva hanyalah manusia. Tak sepadan dengan makhluk sepertinya. Mau sewaspada apapun, jika Bhumi ingin menggigitnya, Belva akan tetap terluka atau bahkan mati.


" Kenapa kamu ada di sini?" Belva akhirnya bisa mengeluarkan suara juga, " dimana Sagara?"


" Sagara sedang bantu-bantu Lintang membersihkan rumput di rumah panggungnya," Bhumi menjawab sesuai fakta. Karena tadi ia juga ada di sana, membatu Sagara dan Lintang. Tapi, ingat Belva sendirian di sini, jadi Bumi sengaja kabur kamari untuk menemani Belva. Bukannya ia sudah minta izin kepada Sagara ingin Belva dan meminta waktu selama tujuh hari?


" Kamu ngapain di sini?"


" Aku cuma mau temani kamu saja, Belva. Aku tahu kamu pasti capek habis..." Bhumi tak melanjutkan kalimatnya, kini ia melirik Belva dengan tatapan jijik, " ah. Manusia bodoh. Mau-maunya dibodohi Sagara!"


Belva tidak mengerti kemana arah pembicaraan Bhumi, " kamu jangan menjelek-jelekkan Sagara!" Belva menaikkan intonasinya. Tidak terima mendengar ucapan Bhumi yang seolah merendahkan manusia dan menuduh Sagara sebagai pembohong.


" Ya sudahlah. Biar kamu merasakan kebahagiaan sementaramu," Bhumi memandangi langit-langit ruangan lagi.


Kemudian hening. Lama sekali. Belva tidak berniat memulai pembicaraan apapun dengan Bhumi. Belva merasa tidak nyaman dengan keberadaan lelaki itu. Jika berada di dekat Sagara, Belva merasa sejuk, dekat dengan Bhumi ia merasa lembab. Hawanya terasa aneh. Belva juga lebih sering keringatan terutama di telapak tangan dan telapak kakinya jika dekat-dekat dengan Bhumi.


Belva sesekali melirik ke arah Bhumi yang masih tak bergerak. Namun, tiba-tiba kepala lelaki itu bergerak-gerak. Ke kanan, kiri, atas, bawah dan kini menengok ke arah Belva. Tidak. Lebih tepatnya ke sebelah Belva. Bhumi mengernyit, kemudian matanya melotot. Melihat itu Belva jadi gemeratan. Bhumi menyeramkan sekali!


Bhumi mengubah posisinya menjadi duduk. Berhadapan dengan dinding kayu kosong di sebelah Belva.


Belva kebingungan dengan tingkah Bhumi yang aneh. Ia berusaha menyiapkan kuda-kuda untuk kabur, tapi sial. Bhumi berhasil menahan tangannya yang sudah basah dan gemetaran.


" Tetap di sini, Belva," pinta lelaki itu.


Belva tak punya pilihan lain selain menurut. Ia kembali duduk dan memejamkan mata kuat-kuat. Semoga ini hanya mimpi. Semoga ia tidak benar-benar sedang ditawan oleh Bhumi.


" Kamu siapa?"


Belva membuka mata setelah mendengar Bhumi bertanya begitu. Melirik ke arah Bhumi, lelaki itu sama sekali tak memandangnya. Melainkan memandang dinding kayu di sebelah Belva. Pandangannya kelihatan sopan sekali. Seolah menghormati sesuatu di depannya.


" Kamu siapa?" Bhumi bertanya sekali lagi. Di depannya duduk seorang lelaki tua, berpakaian adat jawa sedang duduk bersila. Lelaki itu seperti berusia lima puluhan tahun. Rautnya kelihatan bijaksana dan penuh wibawa.


Lelaki tua itu tidak menjawab. Kemudian, Bhumi melepaskan tangan Belva. Bhumi tahu, Belva akan langsung kabur setelah ini. Benar saja, perempuan itu langsung kabur bersamaan dengan keberadaan lelaki di depan Bhumi tadi.


Bhumi mengamati larinya Belva. Ia berdiri, mengejar Belva yang kelihatan biasa saja. Tidak ada sesuatu yang mengikutinya. Tapi, siapa sebenarnya lelaki tua tadi? Jika memang Belva dijaga sesuatu, seharusnya lelaki itu mengikuti Belva kemanapun perempuan itu memijakkan kaki.


Belva masih ketakutan. Ia berusaha lari sejauh mungkin dari keberadaan Bhumi. Dan langsung bisa menghela napas lega ketika melihat Bhumi hanya berdiri di teras, tidak berniat mengejarnya. Lantaran lelah, akhirnya Belva memutuskan berjalan saja menuju rumah panggung Lintang.


Memasuki halaman yang rapi, Belva mendengar suara tawa nyaring dari dalam. Belva sangat mengenal suara itu. Jelas itu suara Bhumi. Berlari menuju ambang pintu, Belva sangat terkejut ketika menyadari Bhumi benar-benar ada di sini. Duduk melingkar bersama Lintang dan Sagara.


Belva mundur. Tiba-tiba ia merasa pusing sekali. Padahal baru bangun tidur. Kenapa Bhumi ada di sini? bukannya tadi ada di rumah panggung Sagara? Belva nyaris ambruk. Namun, tangan kekar Sagara menahannya.


" Cih! Kamu berlebihan sekali, Sagara!" Cibir Lintang. Geli sendiri melihat perilaku Sagara yang berlebihan.


Sagara tak menggubris. Ia melihat arah pandang Belva yang sesekali melirik Bhumi dengan ketakutan. Karena sepertinya Belva lemas sekali, akhirnya Sagara membopong Belva menuju rumah mereka dan menidurkannya di bale.


Belva merubah posisinya. Ia berdiri, dan berlari-lari mengecek semua ruangan yang ada. Belva yakin jika Bhumi tadi ada di sini. Tidak mengejarnya. Tapi... aneh sekali.


" Kamu kenapa, Belva?" tanya Sagara kebingungan, " kamu ketakutan. Takut apa?"


" Sagara, apa Bhumi dari tadi di sana?" Belva panik. Ia menempelkan dirinya dengan Sagara. Sebisa mungkin tidak ada jarak di antara mereka. Karena Belva sangat takut.


" Iya. Kami bertiga dari pagi berkumpul di sana."


" Apa kamu selalu liat Bhumi?"


Sagara menggeleng. Jika sedang sibuk ia tidak pernah memperhatikan apa pun, " memangnya Bhumi kenapa?"


" Tadi Bhumi ada di sini. Dia tidur di sebelah aku, Sagara. Waktu aku bangun, Bhumi ada di situ!" Belva menunjuk-nunjuk tempat Bhumi berbaring.


Wajah Sagara berubah kesal. Kini tangannya mengepal, " apa yang dia lakukan?"


Belva semakin mengeratkan pegangannya kepada Sagara, takut jika tiba-tiba Sagara pergi lagi, " dia... Bhumi... nahan aku buat kabur dan bertanya ke dinding."


Kini Sagara mengerutkan kening, " Kamu sedang tidak bercanda, kan?"


Belva menggeleng. Belva sangat yakin jika Bhumi benar-benar bicara dengan dinding. Lebih tepatnya bertanya.


" Belva, apa lagi yang dia katakan?"


Belva menceritakan semua yang ia alami bangun tidur tadi kepada Sagara. Namun, tangan Sagara yang tadinya terkepal, kini sudah tidak lagi. Bahkan raut wajahnya sudah berubah lebih tenang. Belva hanya melihat Sagara yang menyembunyikan kebingungannya. Barangkali agar Belva tidak cemas apa lagi ketakutan.


" Belva, kamu jangan bilang siapa-siapa, ya."


Belva mengangguk. Membiarkan Sagara mengusap-usap puncak kepalanya, " Sagara... apa yang tadi aku lihat benar-benar Bhumi?"


Sagara tidak menjawab. Bisa saja memang Bhumi. Lelaki itu kan binatang melata yang cepat sekali. Lagipula, tidak ada makhluk lain yang bisa menyerupai Bhumi selain Bara.


" Belva, apa yang kamu rasakan tadi?"


" Lembab."


Syukurlah. Itu benar-benar Bhumi. Sagara tidak mau jika Bara sampai ikut-ikutan kemari.


***