
Siang ini Belva lebih banyak diam. Ia baru saja selesai makan dan kembali ke kamarnya. Berdiri di tengah jendela yang terbuka lebar. Memandangi orang-orang yang berlalu lalang di jalanan depan rumahnya. Sebagian besar lelaki paruh baya dengan kulit terbakar matahari dan berkeringat. Rata-rata berkumis tebal. Di belakangnya menggendong anyaman bambu berbentuk tabung setinggi lutut dengan diameter kira-kira satu meter. Ada juga yang membawa tas anyaman di kedua tangannya. Selain itu, ada juga yang memanggul karung di bahunya. Belva tahu, benda-benda itu berisi hasil panen mereka yang melimpah.
" Kambang-kembang itu sebagian diimpor ke negara-negara Asia."
Itu suara Sagara. Belva tidak menoleh. Tapi, ia dapat merasakan lengan Sagara mepet ke lengannya. Lelaki itu berdiri di sebelahnya, mengikuti arah pandang Belva.
" Sebanyak itu?" Belva tertarik dengan pembicaraan Sagara.
" Kembang-kembang yang sudah di panen, akan dipisahkan antara kuncup dan yang mekar. Yang kuncup biasanya harganya lebih mahal dibanding yang sudah mekar."
Belva mengangguk-anggukan kepalanya. Agak mengerti dengan apa yang Sagara maksud, " yang kuncup untuk dibuat ronce?"
Sagara mengangguk, " ya. Kalau ada orang kreatif yang mau repot-repot buat ronce, harganya bisa seratus kali lipat dari harga satu kilo kuncup."
Belva tampak takjub, " seratus kali lipat? wow!"
" Sayangnya, orang-orang di pulau ini begitu tertinggal. Mereka tidak seinovatif itu."
Sayang sekali. Dengan kekayaan bumi yang luar biasa seperti ini, seharusnya orang-orang di desa ini bisa hidup sangat layak. Tapi, seperti masyarakat tertinggal kebanyakan, mereka hanya memikirkan makan. Belum memikirkan masa depan.
" Kamu cerdas, Sagara. Kenapa kamu nggak sosialisasi apa gitu untuk membuka pola pikir mereka?"
Sagara menggeleng, " tidak semudah itu. Aku dan mereka dari golongan yang berbeda. Golongan kami tidak akan membantu tanpa adanya perjanjian dan timbal balik."
Kini pandangan Belva dialihkan kepada Sagara yang menyipit. Lelaki itu sangat tampan, apalagi jika sedang tersenyum seperti sekarang, " Sagara, apa kamu makhluk yang menyesatkan?"
" Bisa iya dan bisa tidak. Tergantung bagaimana cara orang memandang kami."
Benar. Belva pernah dengar teori tentang kepercayaan. Jika seseorang mempercayai sesuatu itu jelek, itu akan menjadi jelek. Sebaliknya, jika orang mempercayai sesuatu itu baik, itu akan baik. Barangkali, begitulah cara makhluk seperti Sagara menuntun atau menyesatkan manusia.
" Sagara, aku mau tanya sesuatu."
" Apa?"
" Kamu bilang, kamu akan membantu manusia jika ada perjanjian dan mendapatkan timbal balik? apa statusku ada di sini sebagai timbal balik atas perjanjian yang seseorang lakukan kepada kamu?"
Belva yakin. Ia di sini bukan tanpa sebab. Terlebih setelah mendengar pengakuan Sagara. Belva pasti dijadikan alat tukar untuk sesuatu yang sangat berharga oleh seseorang.
" Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku tidak tahu pasti. Aku cuma menerima perintah untuk menemani kamu."
Belva merasa tidak puas dengan jawaban itu. Ia berharap mengetahui sesuatu yang tak ia ketahui. Jika dugaannya benar, kemungkinan besar Belva akan terkurung di sini selamanya. Jika tidak, mungkin saja ia bisa kembali pulang. Bertemu dengan kakak-kakaknya. Bertamu ke makam Papa. Serta membuktikan kepada Arman dan Febi, jika ia bisa hidup tanpa mereka.
" Jangan biarkan hatimu dikotori dendam, Belva."
" Kamu dengar?"
" Aku merasakan itu."
Jika Sagara tidak merasakan itu pun, seharusnya Belva memang akan bisa hidup normal. Toh, sakit hati hanya sementara jika empunya mau bangkit.
" Belva, apa kebiasaan kamu setiap hari, sebelum memutuskan bunuh diri?"
Pertanyaan Sagara membuat Belva tersadar dan nyaris tertawa. Mengapa ia bertanya seperti itu?
" Kerja."
Sagara menoleh, memandang Belva tepat di manik mata, " ya. Kamu bekerja di Bank."
Belva takjub. Ia bertepuk tangan, " kamu hebat! tahu dari mana?"
" Aku makhluk sakti!"
" Kamu nggak nyambung!"
" Ya. Begitulah. Aku sering tidak nyambung kalau terlanjur jatuh cinta."
Sagara mengangguk, " kalau aku mau sombong, aku bisa menyombongkan diri untuk itu."
Belva semakin tertarik, ia mengerjapkan mata, menunggu Sagara melanjutkan. Tapi, lelaki itu malah diam saja. Membuat Belva agak kesal.
" Sombongkanlah, Sagara. Sebagai pacar kamu, aku perlu tahu."
" Kamu pasti kaget."
Belva semakin tidak sabar menunggu jawaban dari Sagara.
" Aku pernah tinggal di Kerajaan Inggris."
Mata Belva membelalak, " oh ya?"
Sagara mengangguk, " masa Raja Henry enam."
" Kamu ngapain di sana?"
" Aku menyamar sebagai anak salah satu Duke yang masih balita."
" Menyamar?"
" Anak Duke itu sakit-sakita dan meninggal dunia. Aku mengisi raganya."
Belva tidak bisa berkata apa-apa. Sungguh. Ia hanya memandangi Sagara dengan mulut menganga tidak percaya.
" Jangan seperti itu, Belva!"
Belva tersadar, kemudian menutup mulutnya. Astaga. Belva tidak percaya ia bisa bertemu dengan salah seorang anak Duke yang masih balita.
" Bagaimana kehidupan menjadi anak Duke?"
" Menjadi orang yang lumayan terkenal di dunia itu tidak enak."
" Kami terkenal juga?"
Sagara mengangguk, matanya memandang lurus ke depan. Mengingat masa dimana ia mencapai puncak karir tertingginya. Dan ketika bosan, ia tinggalkan tubuh anak Duke itu.
" Pada masa itu, orang-orang yang tinggal di area kerajaan cukup terkenal."
" Siapa nama kamu waktu itu?"
" Abraham."
" Kamu keren banget!"
" Itu tidak sekeren yang kamu bayangkan, Belva."
Setelah tahu Sagara pernah menjadi orang terkenal pada abad keempat belas, Belva jadi bangga bisa meluluhkan lelaki tampan dan sakti macam Sagara.
" Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"
Belva tersadar, " hah? enggak, kok."
Sagara tertawa. Membuat Belva terkejut bukan main. Sagara sangat tampan jika sedang tertawa. Ia bahkan baru sekali melihat Sagara tertawa sangat lepas seperti ini. Tuhan, jika waktu bisa berhenti, tolong hentikan sekarang juga. Karena, lelaki di sebelah Belva begitu indah jika sedang seperti itu.
Lima detik berikutnya, Belva merasa ada yang aneh. Burung-burung yang terbang di langit, tiba-tiba berhenti. Begitupula daun-daun yang bergoyang tertiup angin. Sagara menoleh tampak melihat mengamati keadaan ini dengan aneh. Sedangkan Belva tak percaya jika ia bisa mengendalikan waktu. Waktu berganti karena dia mengucapkannya dalam hati, kan?
Dari arah rumah Lintang, Bhumi dan Lintang berlari-lari dan berhenti tepat di antara pagar rumah Belva dan Sagara. Mereka sama-sama kelihatan terkejut sekali. Kemudian, Bhumi melirik Belva bersamaan dengan hadirnya cahaya yang begitu cepat, menyelimuti tubuh Belva dan lenyap. Belva lenyap hanya dalam satu kedipan mata. Secepat cahaya. Kemudian, petir bergemuruh riuh.
Sagara belum sempat menarik Belva, dan perempuan itu kini sudah lenyap hanya dalam satu kedipan mata. Ditelan cahaya. Kini, lelaki itu terjatuh lemas, memandangi tempat dimana Belva berdiri. Dadanya nyeri dan rasanya ingin marah.
***