
" Toloooong!!!"
Belva baru membuka mata dan histeris melihat ular hitam melingkar di atas kasurnya. Perempuan itu melompat dari ranjangnya dan berlari membuka pintu kamarnya, membuat Bi Mirna tertarik masuk dan nyaris jatuh. Untung Belva sigap menahan tubuh Bi Mirna.
" Astagfirullah, Non," Bi Mirna shock. Ia membenarkan posisi berdirinya sembari mengatur napasnya yang deg-degan.
" Bi, ada Mas Andre atau Mas Hadi?" Tanya Belva masih panik. Ia melirik ke atas ranjangnya, dan menyipit. Ular itu sudah tak ada di atas ranjangnya. Apakah sudah pergi?
" Mas Andre kan lagi ke luar kota. Kalau Mas Hadi lagi nggak di sini, Non."
Belva mendengar apa yang diucapkan Bi Mirna. Alih-alih merespons, ia justru mendekati kasurnya yang kosong. Ular itu telah pergi entah kemana. Bahkan saat Belva mengecek bawah kasurnya, tak kelihatan ada sesuatu yang mencurigakan.
" Bi, ular takut apa?" Belva tiba-tiba bertanya.
Bi Mirna kelihatan kebingungan dan mengingat-ingat sesuatu, " garem kayaknya, Non."
Belva juga pernah dengar soal itu. Tapi, ia belum pernah mencobanya.
" Emang ada ular?" Bi Mirna masih kepo. Ia memandangi seluruh area, khawatir tiba-tiba ular yang disebut-sebut Belva muncul di dekatnya. Selain geli dan menjijikan, ular juga menakutkan.
" Tadi di atas kasur. Tapi sekarang nggak tahu kemana."
" Duh. Kok serem ya. Kalau gitu, telepon Mas Arman atau Mas Sagara aja, Non. Bibi ambil garem dulu ya."
Bi Mirna sudah lenyap dari hadapan Belva. Tapi kata-katanya masih terngiang-ngiang di kepala. Arman? Astaga. Kenapa juga Bi Mirna masih membahas nama itu lagi. Bikin sakit hati saja. Tapi, ucapan Bi Mirna ads benarnya juga.
Meski ia masih sedikit takut dan tidak percaya dengan apa yang diucapkan Sagara kemarin, namun rasa takutnya pada ular hitam lebih besar. Lagipula, Sagara bisa saja mengada-ada soal dia bukan manusia. Memarnya hilang bisa saja karena itu bukan memar sungguhan.
Ah! bodoh. Mau menyangkal seperti apapun, memar yang tiba-tiba hilang tetaplah tidak masuk akal. Tapi, persetan dengan itu semua. Belva meraih ponselnya dan menghubungi nomor Sagara.
Berdering....
Tidak diangkat.
Belva mencoba sekali lagi. Namun, tetap tidak diangkat. Menyerah, Belva kembali meletakkan ponselnya sembarangan. Apakah dia sedang sibuk di kantor?
Jelas saja! dia manusia, kan? pasti Sagara sedang sibuk di kantor!
" Non Belva... ada Mas Sagara!"
Belva kaget. Itu teriakan Bi Mirna. Tak lama, Bi Mirna masuk ke kamar Belva sembari membawa garam.
" Ada Mas Sagara."
Belva mengangguk, lalu keluar kamar menuju ruang tamu. Lelaki itu duduk manis, tegap dan selalu kelihatan sangat tampan bak malaikat surga. Dan, Belva tak menyangka jika sosok itu adalah pacarnya. Seseorang yang bahkan belum sepenuhnya Belva kenal. Kenapa Belva bisa-bisanya mau berhubungan dengan Sagara?
" Kamu nelpon aku?" tanya Sagara. Begitu kelihatan menawan sekali.
" Maaf, kalau ganggu waktu kerja kamu." Belva merasa bersalah. Penampilan lelaki di depannya kelihatan sangat formal dan rapi. Bahkan rambutnya diberi gel agar kelihatan rapi dan mengkilap.
" Aku tidak terganggu, kok. Pekerjaanku kan cuma ada di setiap kamu butuh."
Belva meleleh. Meski ia tahu itu hanya gombalan belaka. Tetap saja hatinya klepek-klepek.
" Pipi kamu merah."
Mendengar itu, Belva refleks memegang pipinya yang hangat. Ia yakin jika pipinya benar-benar merah seperti apa yang diucapkan Sagara. Dan Belva malu.
" Apa kamu sudah bertemu dengan dia?"
Pertanyaan Sagara membuat Belva mendadak melepaskan tangannya dari pipinya, " maksudnya?"
" Kamu memanggilnya, Belva."
" Siapa?"
Sagara mengalihkan pandangan ke sebelah kiri Belva. Mengikuti arah pandang Sagara, Belva menggeser duduknya. Ia kaget saat melihat lelaki manis sudah duduk di sebelahnya. Lelaki itu tersenyum, menunjukkan lesung pipi yang menggemaskan.
" Hai, akhirnya kita bertemu lagi ya. Pacarmu masih berhutang tiga hari denganku," lelaki itu seolah menjelaskan sesuatu yang belum selesai. Suaranya berat dan macho sekali. Tapi, bukannya meleleh, Belva justru ketakutan. Ia yakin, suara inilah yang menyapanya saat ia menerima telepon Sagara semalam.
" Dia tidak memberitahu kamu?"
" Kamu siapa? memberi tahu apa?"
Belva benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan lelaki bersuara macho di sebelahnya. Dia mengernyit, kemudian melirik Sagara.
" Siapa yang melakukannya?" tanya Bhumi kepada Sagara.
" Kakakku."
Bhumi membuang napas sebal. Ia tidak bisa seakrab di Pulau Cenderawasih jika begini.
" Jadi... kenalkan... namaku Bhumi."
..." Bhumi!"...
..." Bhumi!"...
Belva memejamkan mata dan memegangi kepalanya. Suara-suara yang menyebutkan nama itu berkeliaran di kepalanya. Lalu, ular hitam itu muncul lagi.
" Aish!" Belva kesakitan saat ingatan itu lenyap.
" Belva..." Sagara sudah berpindah di sebelah Belva. Dia memeluk tubuh Belva dan memijit kening perempuan itu, " aku akan cari cara supaya kamu tidak kesakitan lagi, ya."
Belva tidak menjawab. Ia menerima air pemberian Sagara. Itu adalah air dari Bi Mirna untuk Sagara, berhubung Sagara belum haus, ia berikan saja kepada Belva.
Saat keadaan Belva mulai membaik, posisi Bumi dan Sagara berpindah. Bhumi di depan Belva dan Sagara di sebelah Belva. Belva melirik Bhumi dan menarik kepalanya dari pelukan Sagara.
" Jadi... kamu ular itu?" Belva tidak percaya, tapi ingatannya jelas menunjukan jika Bhumi adalah seekor ular hitam. Namun, ia mengesampingkan akal sehatnya yang mulai bermasalah.
" Kamu ingat aku?" Bhumi kegirangan.
" Sedikit. Apa kita akrab?"
Bhumi melirik Sagara, " jelas. Kita sangat akrab. Kamu bahkan pernah main ke rumahku."
" Rumah?"
Bhumi mengangguk, " ya. Kita teleportasi. Tapi, habis itu kamu pingsan karena kehabisan energi."
Belva tidak ingat itu. Tapi, ia pernah melihat lelaki ini dalam ingatannya. Ah! sepertinya hal-hal tidak nyata seperti ular jadi-jadian dan pengakuan bukan manusia hanya akal-akalan alam bawah sadrnya yang mulai terganggu.
" Sagara, kayaknya aku perlu ke psikiater deh."
Sagara mengangguk, meski ia tidak tahu tempat apa yang dimaksud Belva, " ya. Kalau kamu mau, aku antar kapan pun."
Bhumi membuang muka. Geli melihat Sagara berbicara sok manis begitu, " biar aku saja yang antar. Kita bisa teleportasi lagi ke rumah psikiater."
Belva hanya mengulas senyum. Ia tidak merespon ucapan Bhumi secara berlebihan.
" Bagaimana, Sagara?"
" Aku ikut."
Bhumi mengeleng, " no."
" Bhumi... aku tidak mau dia pingsan lagi. Jangan buat dia teleportasi. Energinya lemah!"
Ah! apa yang mereka bicarakan? Belva tidak mengerti. Matanya mengikuti orang yang bicara.
" Aku cuma mau sama Sagara. Titik."
Bhumi geleng-geleng kepala, " Belva, apa perlu saya bilang Dewa Tirta untuk mengembalikan ingatan kamu yang hilang?"
Mata Belva membelalak lebar. Jika ingatannya bisa kembali terbuka, ia pasti akan ingat semuanya. Belva mengangguk, " oke! Sagara..."
***