My Love From The Sea

My Love From The Sea
Kehabisan Energi



" Mengapa aku tidak bisa membaca pikiran perempuan ini, Saudaraku?"


Bhumi menggenggam pergelangan tangan Belva begitu erat. Seolah ia tahu jika Belva sedang berencana untuk kabur. Lelaki itu mengabaikan Belva yang berusaha melepaskan pegangan tangannya, memandang Dhara yang semakin bergerak mendekat.


Bhumi tahu Belva gemetaran bukan main ketika Dhara begitu dekat. Berdiri berhadapan dengan Belva dengan rambut yang menggeliat-geliat dan berdesis sembari menjulurkan lidah seperti sedang kelaparan.


" Bisakah kamu merubah rambutmu menjadi biasa saja?" Bhumi mencoba protes ketika salah satu lidah dari rambut Dhara nyaris mengenai dahi Belva.


Dhara yang hendak bersiap melakukan penerawangan, tiba-tiba menoleh ke arah Bhumi. Mengangkat sebelah alis, sembari tersenyum tipis, " kenapa aku harus mengubah rambutku. Aku menyukai mereka," jawabnya, kembali mengalihkan pandangan ke arah Belva, " mereka yang sedang kelaparan."


Belva semakin gemeteran. Jika tidak bisa melepas genggaman tangan Bhumi dari pergelangan tangannya, setidaknya Belva dapat melangkah mundur hingga agak sedikit menjauh dari rambut Dahara yang katanya sedang kelaparan.


Melihat reaksi itu, Dhara tertawa terbahak-bahak. Baginya, menakuti orang adalah permainan lucu yang tidak ada tandingannya. Melihat manusia ketakutan, adalah aksi paling lucu yang bisa membuat hatinya membaik. Karena Belva sudah menghiburnya, akhirnya ia mengubah rambutnya menjadi helaian-helaian yang dikepang rapi dan menjuntai indah sepinggang.


" Kupikir kamu menyukainya," Bhumi berkomentar.


" Kamu juga."


Mendengar Dhara berkata begitu, Bhumi tercenung. Dia juga? tidak mungkin! Dhara terlalu suka bercanda.


Kemudian hening. Bhumi mengamati kakak perempuannya beraksi. Perempuan yang lima ratus tahun lebih tua darinya mengangkat dagu Belva yang tertunduk. Bhumi dapat merasakan Belva gemeteran. Dia sangat ketakutan. Tapi, Bhumi harus tahu manusia macam apa Belva ini, sehingga ia tidak bisa menembus pikirannya. Lalu, apakah sosok lelaki tua yang pernah ia lihat itu adalah bagian dari diri Belva?


" Tatap mataku," Dhara berbisik, begitu lirih dan lembut. Kemudian Belva mendelik, memandang manik Dhara yang berwarna hitam legam. Hanya tiga detik, Dhara langsung mengerjap dan merasa matanya amat perih. Bahkan, sampai mengeluarkan air mata.


Bhumi mengernyit aneh. Dhara kenapa? Ia tahu ada sesuatu yang menghalangi kakaknya. Namun, Bhumi yakin jika Dhara tidak akan pernah menyerah jika sudah penasaran. Sesuatu yang membuatnya mengeluarkan air mata hanya dengan saling tatap sudah pasti membuat Dhara penasaran setengah mati. Benar saja. Setelah membuka mata, Dhara kembali menatap Belva. Begitu penasaran dan dalam.


" Siapa kamu?" Dhara bertanya. Ia berusaha menahan perih di matanya selama mungkin, tapi hanya bisa bertahan kurang dari lima detik dan ia menangis. Matanya perih sekali, panas, seperti ada api di dalamnya.


Kini, perhatian Bhumi teralih kepada Belva sepenuhnya. Perempuan ini, punya apa?


" Dhara..." belum sempat Bhumi bertanya, tiba-tiba, punggungnya ditepuk tiga kali. Dalam satu kedipan mata, ia duduk di teras depan rumah panggung Sagara. Berhadapan dengan Belva yang langsung ambruk. Pingsan.


" Apa yang kamu lakukan, Bhumi?" Sagara menangkap Belva dengan sigap. Lelaki itu membopong Belva menuju kamar dan menidurkan perempuan itu di atas bale. Ia sadar Bumi mengekorinya, " kenapa kamu membawanya kepada kakakmu?" tanyanya setelah membaringkan tubuh Belva dan mengecek keadaan kekasihnya.


" Dia kehilangan banyak energi. Manusia memang lemah!" cibir Bhumi. Ia berdiri di dekat pintu, bersandar pada dinding kayu. Tangannya bersedekap, matanya memandang lekat-lekat sosok yang sedang berbaring itu.


" Jawab aku," suara Sagara kedengaran datar dan dingin.


" Aku cuma ingin tahu sesuatu," Bhumi menjawab sekenanya.


" Apa yang ingin kamu ketahui?"


Bhumi mengulas senyum, menunjukkan lesung pipinya yang manis, " entahlah. Aku cuma ingin tahu sesuatu."


Bhumi mengangguk lemah. Ya. Perjanjiannya empat hari lagi. Bhumi harus segera menyingkap apa yang dimiliki Belva. Berbahayakah perempuan itu untuk makhluk sepertinya?


" Lintang menunggumu."


Bhumi diam saja. Ia masih tidak bergerak. Matanya tidak berkedip memandang Belva yang kelihatan lemah.


" Apa yang kamu pikirkan? Lintang menunggumu, Bhumi!" Sagara kesal sendiri. Dia merasa terkhianati jika Bhumi masih mengamati kekasihnya dengan cara yang tidak biasa seperti itu.


" Aku malas. Biar saja Lintang yang kemari."


Sagara yang mulai cemburu menggeser tubuh indahnya tepat di depan Bhumi, " aku tidak suka cara kamu melihatnya."


Ck. Memangnya bisa saja tertawa terbahak-bahak untuk merendahkan Sagara yang mencintai makhluk rendahan semacam manusia. Bukankah manusia terlalu lemah dan berumur amat pendek? " kamu cemburu?"


Sagara jadi malu sendiri. Ia salah tingkah. Dan gelagatnya yang aneh membuat tawa Bhumi pecah. Suaranya yang nyaring seperti musik kaset rusak yang hanya mengotori telinganya.


" Rupanya kamu benar-benar mencintainya," Bhumi menghentika tawanya dan mengusap air mata yang keluar akibat terbahak-bahak terlalu berlebihan, " tapi, kamu harus hati-hati Sagara."


Sagara sudah terlalu hati-hati menjalani kehidupannya yang amat panjang. Jadi, tidak perlu dikhawatirkan lagi. Melihat Bhumi yang tiba-tiba melenggang pergi setelah memberi peringatan itu, membuat Sagara menghela napas lega karena bisa dengan leluasa menanyai Belva mengenai apa yang telah terjadi padanya.


Duduk di sisi bale, Sagara mengamati Belva. Begitu lekat dan cukup dekat. Perempuan di depannya memang cantik meskipun kondisi kulitnya memburuk. Ketika pertama kali Sagara menemukan Belva di kedalaman laut, kulit Belva begitu lembut dan kenyal. Seolah seluruh tubuhnya dibuat dengan campuran tanah dan saripatinya dengan kualitas paling baik. Tapi sekarang, kulitnya menggelap dan begitu kasar. Bahkan jika terkena kuku, akan meninggalkan bekas berwarna putih di sana.


Tiba-tiba, Belva membuka mata. Perlahan-lahan. Sagara masih mengamati, bahkan tidak bergerak ketika perempuan itu histeris dan berteriak, " ularrr!".


" Sagara?" Belva yang sudah duduk dan berada di pojokan sadar jika lelaki di depannya adalah Sagara, bukan Bhumi.


Sagara bergerak mendekat, duduk berhadapan dengan Belva. Lelaki itu meraih bahu Belva, mengusap-usapnya lembut, berusaha menenangkan kepanikan kekasihnya. Lalu, Belva memeluknya, begitu erat. Seolah tidak ingin kehilangan Sagara.


" Sagara, aku takut," Belva berbisik dengan suara gemetaran. Begitu ketara jika perempuan itu sangat ketakutan, " rambut perempuan itu seperti mau makan aku."


Dugaan Sagara tidak pernah meleset. Bhumi pasti memiliki rencana. Entah apa tujuannya, yang jelas, mengajak Belva berteleportasi ke rumah kakaknya akan sangat membahayakan jantung manusia. Berteleportasi membutuhkan energi yang luar biasa besar. Manusia tidak akan bertahan lama dalam melakukannya. Jika, Sagara terlambat mungkin Belva akan mati karena jantung dan paru-parunya akan bekerja lima kali lebih ekstra dari biasanya.


" Apa yang terjadi di sana, Belva?" Sagara betul-betul ingin tahu apa yang sedang Bhumi rencanakan.


Belva melepas pelukannya, " Sagara, Bhumi bilang..."


" Kamu sudah sadar. Wah... manusia mana yang kehabisan banyak energi dan bisa sadar dalam waktu kurang dari dua jam?" Bhumi memotong kalimat Belva.


***