
Perempuan lima puluh tahun itu duduk berhadapan dengan dua orang lelaki berseragam cokelat. Di sebelahnya, duduk seorang perempuan berusia tiga puluh tiga tahun. Ini sudah ketiga kali mereka kemari, ke kantor polisi. Hanya untuk mengetahui perkembangan terbaru dari hilangnya Belva Anindira.
Semenjak meninggalnya Vino, majikannya sepuluh hari yang lalu, Belva, anak bungsu Vino menghilang. Bahkan, sama sekali tidak kelihatan jejaknya. Hari ini adalah hari kesepuluh. Tapi, tidak ada jejak lain yang ditemukan selain mobil Range Rover merah milik Belva yang ditemukan di parkiran sebuah tempat wisata air terkenal di Jakarta.
Beritanya sudah menyebar ke seantero negeri. Semua media berlomba-lomba memberitakannya. Bahkan semua orang yang membicarakan itu, mengaitkan dengan hal-hal mistis tidak masuk akal. Ada yang bilang, Belva tenggelam, ada yang bilang Belva bunuh diri dan tenggelam di laut, ada yang bilang Belva disembunyikan makhluk halus, bahkan ada yang bilang Belva sengaja meninggalkan mobilnya di sana dan pergi ke Bandara dan liburan ke luar negeri.
Boro-boro luar negeri. Dompetnya saja ada di dalam mobil. Semua surat-suratnya lengkap ada di dalam dompet. Bahkan, foto Belva bersama Arman terpampang yang dicetak terpampang jelas ketika baru membuka dompet.
" Tim kami masih melakukan penelusuran di area pantai. Tapi, maaf. Tim kami belum menemukan apa-apa," ucap lelaki berkumis tebal yang di seragam cokelatnya terbordir nama Johan.
" Bi Mirna, kenapa jadi begini?" perempuan tiga puluh tiga tahun di sebelah Bi Mirna kelihatan sangat pucat dan menyedihkan. Lingkaran hitam di sekitar matanya kelihatan sangat jelas.
Sebagai orang tua yang sudah sangat lama bekerja menjadi Asisten Rumah Tangga di keluarga Vino Barata, Bi Mirna sudah menganggap anak-anak majikannya seperti anak kandungnya sendiri. Mulai dari Guntur anak tertua, perempuan di sebelahnya yang bernama Maya, Hadi yang petakilan dan Belva yang kalem. Semuanya sudah ia anggap seperti darah daging sendiri.
Semenjak majikan perempuannya meninggal, ialah orang yang paling sering diajak bertukar pikiran oleh Vino. Vino yang sibuk dengan kerjaannya sering meminta tolong untuk mengawasi anak-anaknya agar tidak melakukan hal-hal yang aneh-aneh. Atau jika sedang senggang, Vino biasa meminta wejangan agar bisa menjadi orangtua yang baik, salah satunya membesarkan anak-anak tanpa berniat menikah lagi dengan perempuan mana pun demi menjaga perasaan anak-anaknya.
Sungguh, keluarga dimana tempat Mirna singgah adalah keluarga impian semua orang. Dimana semua anggotanya akur dan hangat. Namun, semenjak kecelakaan itu, Mirna tidak merasakan kehangatan itu lagi. Meja makan yang biasanya terisi minimal dua orang, kini kosong. Hanya Mirna yang sekali-kali duduk di sana untuk menyantap masakan buatannya sendiri.
Rumah gedong yang dulu penuh dan ceria, kini tetasa kosong dan hampa. Selain karena anak-anak sudah berkeluarga, Belva juga tidak ada. Tidak tahu dimana rimbanya. Menghilang semenjak kematian Vino dengan beribu tanda tanya di benak semua orang.
" Pak, apa tidak bisa mengerahkan tim lebih banyak lagi untuk menyisir laut itu?" Maya kelihatan tidak sabar. Bagaimana bisa sabar. Adiknya sudah hilang sepuluh hari. Sehari sebelum hari pernikahannya pula. Semua yang sudah disiapkan sia-sia. Waktu, tenaga dan uang.
" Maaf, tim yang kami kirim sudah melebihi batas yang seharusnya. Jadi, kami tidak bisa menambah orang lagi. Sekali lagi, maaf, Bu."
" Non, sudah. Pencarian belum ada kemajuan. Ayo kita pulang. Besok kita tunggu beritanya. Semoga ada pencerahan," Bi Mirna mengels pundak Maya yang sudah bergetar dan matanya melotot. Jika tidak segera ditenangkan, ia khawatir majikannya akan mengamuk lagi di kantor polisi seperti kejadian tiga hari yang lalu. Waktu itu mereka kemari untuk menanyakan kabar terbaru, tapi si polisi menjawabnya malah seperti bercanda.
" Pak, maaf ya. Kami tunggu kabar baiknya," Bi Mirna menuntun Maya yang sudah berdiri, " Non Maya yang sabar ya. Non Belva pasti baik-baik aja. Saya yakin."
Mereka masuk ke mobil. Hadi yang dari tadi menunggu, memasang wajah bertanya-tanya ingin tahu kabar terbarunya. Namun, ketika melihat Bi Mirna hanya mengangkat bahu, lelaki itu kelihatan kecewa. Padahal, dia sudah berharap jika keberadaan adiknya segera diketahui.
Mobil melaju pelan berselimut keheningan. Cuaca mendung, seperti perasaan orang-orang di dalam mobil itu.
" Bi Mirna, apa nggak ada cara lain selain minta tolong polisi?" Maya tiba-tiba bersuara. Suaranya rendah sekali. Perempuan itu menangis terus-menerus belakangan ini. Semua orang terpukul. Tapi, tidak ada yang separah Maya.
" Bener tuh, Bi. Ada kenalan orang pinter nggak? Siapa tahu bisa diterawang," Hadi seperti mendapat pencerahan. Kenapa tidak sejak awal saja berpikiran seperti itu. Seandainya kakak perempuannya tidak separah itu, pasti dapat menggunakan otak Harvard-nya yang di atas rata-rata. Dan meskipun sedang agak depresi, Maya bisa juga berpikir seperti itu.
" Ustad ya Den? atau Dukun?" Bi Mirna masih tidak paham. Maklum saja, ia hanya lulusan SMP, itupun tidak lulus karena terhalang biaya ujian.
" Apa aja, Bi. Bebas. Yang penting bisa nerawang."
Bukannya memberi jawaban, Bi Mirna malah garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Ia tidak punya kenalan orang-orang seperti itu di kampung.
" Hadi, ikuti jalan maps ini," Maya memberikan ponselnya kepada adik lelakinya.
Hadi mengernyit, memandangi kakaknya heran, " ini ke tempat orang pintar?"
Maya mengangguk, " ikuti aja. Siapa tahu beliau bisa membantu kita. Paling tidak, kalau Belva masih hidup kita bisa tahu di mana lokasinya. Kalau Belva sudah mati, kita bisa menguburkan jasadnya dengan benar."
Hadi mengangguk. Setuju dengan statement otak Harvard kakaknya. Ia memutar balik arah mobilnya. Mengendarai mobil sampai daerah Bogor yang jalannya naik-turun dan dingin menusuk-nusuk. Belum lagi jalanan gerimis yang mengguyur, membuat Hadi yang tidak membawa jaket menggigil. Ia memutuskan mematikan pendingin di mobilnya.
Rumah orang pintar itu cuma sepuluh menit dari puncak. Rumahnya biasa saja. Tidak seram seperti di film-film horor. Di teras ada seorang lelaki tua berpakaian koko dan sarung kotak-kotak. Mengucap salam, mereka disambut si kakek.
" Kalian dari Jakarta ya?" tanya si kakek, sembari mengajak para tamunya masuk ke dalam rumah.
" Iya, Pak. Kami dari Jakarta," Maya yang menjawab.
Si kakek mempersilahkan tamunya duduk di atas sofa. Kemudian menyuruh istrinya untuk membuatkan teh dan menyediakan mangkok kosong dan seteko air putih.
" Jadi, apa yang perlu saya bantu?" si kakek bertanya, pura-pura tidak tahu. Padahal ia sudah tahu.
" Pak, tolong carikan keberadaan adik saya. Atas nama Belva Anindira. Dia hilang sejak sepuluh hari yang lalu," Maya mewakili.
Si kakek mengangguk-anggukan kepalanya. Memandangi tiga orang yang duduk di depannya satu per satu, " oh, yang lagi viral itu ya?"
***