My Love From The Sea

My Love From The Sea
Kehadiran Sagara



Jam besuk sudah habis. Ruangan serba putih dengan alat-alat medis tak berguna ini sepi sekali. Hening. Belva hanya mendengar suara beberapa alat medis elektronik yang bersuara, dan jarum jam yang terus berputar. Belva merubah posisinya menjadi duduk. Kemudian, melirik jam dinding yang terpasang tepat di atasnya. Hampir pukul dua belas malam. Namun Belva sama sekali tidak bisa tidur lantaran sebagian besar waktu siangnya hari ini ia gunakan untuk tidur sampai-sampai bagian belakang kepalanya sakit.


Belva merasa badannya tiga kali lipat lebih sehat dari tadi pagi. Namun, ia merasa sangat lemas. Mungkin karena ia tak banyak beraktivitas. Jadi, otot-otot tubuhnya semakin malas.


Belva tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepadanya. Ia seperti orang bodoh yang tiba-tiba bangun dari tidur panjang dan hanya mengingat satu nama, Sagara. Belva mempercayai sesuatu, Sagara bukan manusia. Dia seorang lelaki yang memiliki kekuatan super seperti Peter Parker setelah digigit laba-laba.


" Belva Anindira?"


Belva kaget mendengar suara itu. Ia menoleh ke sumber suara. Suara itu berasal dari ambang pintu yang baru saja ditutup. Dokter Tirta berdiri di sana. Lelaki itu membuka jas putihnya, hingga menyisakan kemeja putih yang kancingnya dibuka dua. Lelaki itu berjalan mendekat sembari menekuk lengan kemejanya, menyebabkan bunyi ketukan di lantai yang berasal dari sepatu pantofelnya.


" Dokter, belum pulang?" Belva agak heran. Dia sudah sejak pagi di sini. Mengapa tidak pulang, padahal waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam.


" Saya tidak punya rumah," jawabnya singkat. Kemudian menarik kursi kayu di sisi ruangan sebelah kiri untuknya duduk di dekat ranjang Belva.


Belva mengernyit, agak heran. Seorang Dokter muda tidak punya rumah? jangan bercanda!


" Gimana keadaan kamu?" tanya Dokter itu dengan sangat ramah.


" Baik banget, Dok," Belva menjawab singkat. Tapi matanya tak lapasa dari wajah Dokter Tirta yang tidak asing, " Dokter mau apa kesini?" aneh bukan. Ada dokter tengah malam masuk ke kamar pasien dan seolah ingin bicara santai seperti ini.


" Maaf kalau kamu tidak nyaman. Saya dengar kamu terus-terusan memanggil nama Sagara."


Belva mengernyit. Ia sadar. Astaga. Dokter Tirta adalah dokter yang menangani Papanya sebelum meninggal. Mata itu. Tangan itu bahkan pernah mengusap bahunya. Namun yang membuat Belva semakin terkejut adalah... Dokter itu kini justru menyinggung-nyinggung soal Sagara.


" Apa Dokter dan Sagara punya hubungan tertentu?" kini tatapan Belva berubah jadi menyelidik. Sebelah alisnya terangkat, ia tidak sabar menunggu jawaban.


Dokter Tirta kini menatap Belva cukup lama. Namun, tatapannya tak berguna apa-apa, " Belva jangan terlalu dekat dengan Sagara. Kamu perlu minum air yang dikasihkan kakak kamu sepulang dari rumah sakit," ucapnya sembari bangkit berdiri.


" Dok," Belva menghentikan Dokter Tirta yang sudah berbalik untuk pergi, " apa Dokter juga sama dengan Sagara?"


Pertanyaan Belva sukses membuatnya terkejut setengah mati. Dokter itu kembali duduk, " kenapa kamu beranggapan begitu?"


" Dokter punya hubungan darah sama Sagara?" Belva hanya menebak saja. Karena bola mata Dokter Tirta dan Sagara sama-sama sebiru laut yang indah, namun mencekam.


" Belva, kamu mengalami halusinasi," Dokter Tirta berdiri, dan bersiap untuk pergi, " Sagara cuma mimpi dari tidur panjang kamu. Lebih baik, sakarang kamu tidur," ucapnya sebelum benar-benar menutup pintu.


Belva masih tidak bereaksi apa-apa. Bukannya tidur, perempuan itu malah menyandarkan punggungnya di dinding. Apa benar Sagara hanya mimpi dari dari tidur panjangnya? Tidak. Belva yakin itu nyata. Sagara benar-benar ada kan?


Jam masih berputar. Belva berusaha mengingat apa yang ia alami di suatu tempat asing itu. Namun, semakin mengingat kepala Belva semakin nyeri. Apa ia menderita amnesia? Pasti kepalanya mengalami trauma yang sangat parah.


" Sagara... Sagara... Sagara... siapa nama lengkapnya?" Belva berusaha mengingat, " Raden Mas Agung Sagara Banyu Biru, Putera Mahkota Penguasa Laut yang Bijaksana?"


" Kenapa kamu memanggilnya?" Dokter itu berbisik-bisik.


Belva melongo kebingungan, " manggil siapa?"


Dokter Tirta tak habis pikir dengan kepolosan salah satu pasiennya ini, " lupakan." ucapnya seraya berjalan menjauh dari Belva. Ketika membuka pintu, Tirta malah mundur. Kemudian wajah seorang lelaki muncul dari baliknya.


Belva melongo melihat kejadian aneh di depannya. Ketika pintu terbuka sangat lebar, Belva dapat melihat wajah yang tidak asing. Mengenakan kemeja merah muda dan celana bahan hitam, serta sepatu kates hitam. Wajah yang sangat tampan bak malaikat itu tersenyum ke arahnya. Belva mengernyit, berusaha mengingat wajah itu. Namun, sialnya ia tidak ingat apa-apa.


" Menyingkirlah, Kakak," lelaki itu berusaha mendorong tubuh Dokter Tirta yang kelihatan putus asa, " ekspresi kamu jelek sekali." Ucapnya sebelum masuk ke ruangan yang tidak terlalu luas dan bau menyengat.


" Kamu... siapa?" Belva menggeser duduknya. Kini ia ketakutan. Di dekat pintu, Dokter Tirta sudah menutup pintunya, tapi ia tidak jadi keluar.


" Aku pacar kamu, Belva. Raden Mas Agung Sagara Banyu Biru, Putera Mahkota Penguasa Laut yang Bijaksana."


" Hah?" Belva seperti orang ling-lung. Ia pandangi Dokter Tirta dan Sagara bergantian. Sungguh, ia tidak pernah mengira jika Sagara akan setampan ini. Benar, kan Belva tidak sedang bermimpi?


" Iya, ini aku Sagara," lelaki itu berjalan mendekat ke ranjang tempat Belva duduk, " tenang. Ingatan kamu akan cepat pulih."


Belva masih tidak percaya. Telapak tangannya menyentuh pipi Sagara. Sungguh, lelaki itu benar-benar nyata. Mendadak, kepala Belva berdenyut-denyut tidak karuan. Ia berusaha merebahkan badan dan tersenyum sangat bahagia.


" Terimakasih, sudah mau datang," Belva meraih tangan Sagara. Mendadak perasaannya hangat. Belva yankin pernah merasakan kehangatan ini sebelumnya.


" Sagara, aku perlu bicara."


Itu suara Dokter Tirta. Sagara menoleh dan melepaskan genggaman tangan Belva. Lelaki itu berjalan mengekori Tirta keluar kamar rawat Belva.


Belva mengamati mereka hingga pitu ditutup dan Belva sendirian. Belva yakin, ia benar-benar menderita amnesia hingga lupa hal-hal yang pernah ia lalui dengan Sagara. Nyatanya, mereka sudah berpacaran. Entah sejak kapan. Yang jelas, Belva merasa sangat nyaman bila Sagara ada di dekatnya.


Tak lama, pintu kembali terbuka. Namun kali ini, bukan Sagara maupun Dokter Tirta. Tapi, Arman dan Febi. Febi. dimana rasa malunya hingga masih bisa menampakkan diri di depan orang yang sudah dikhianati.


" Bel... maaf," Febi berlari-lari kecil ke arah Belva dan memeluk tubuh mungil Belva.


Belva tidak bereaksi apa-apa, " gue udah maafin lo, Feb. Tapi, gue mohon, jangan muncul di depan muka gue lagi."


Febi melepas pelukannya. Kecewa, " ya. Gue udah salah besar. Gue pamit." ucapnya kemudian pergi.


" Feb," Arman berusaha menahan Febi. Namun, perempuan itu sudah lebih dulu pergi. Ia tahu, Febi pasti sangat kecewa terhadap dirinya sendiri. Kemungkinan terburuknya... astaga. Arman segera berlari mengejar Febi sebelum kemungkinan terburuk itu terjadi.


***