
Bhumi bilang dia gagal. Dokter Tirta tidak mau membantu Belva untuk mengembalikan ingatan. Dan Sagara berhasil menahan Belva untuk tidak memaksa Tirta melakukan hal yang tidak diingankan kakaknya. Sedangkan Bhumi selalu mengatakan hal benar yang membuat Belva semakin bimbang.
" Kamu akan tahu semuanya kalau kamu berhasil, Belva. Mau aku antar?"
Belva jadi pusing sendiri. Ia hendak membuka pintu mobil dan mencari Tirta di ruangannya, tapi tangannya ditahan Sagara.
" Jangan memaksakan kehendak. Lagian itu bisa buat kamu pingsan."
Belva kembali membenarkan duduknya. Tapi, hatinya gusar. Apalagi saat mendengar Bhumi bicara.
" Kamu itu unik, Belva. Energi kamu tidak seburuk perkiraan Sagara. Tenang saja."
Gila. Apa yang sedang mereka berdua lakukan? Seperti dua setan yang sedang menghasut manusia. Belva tidak akan mendengarkan keduanya. Titik. Ia kembali membuka pintu mobil dan keluar dari sana sebelum Sagara meraih tangannya. Belva membanting pintu mobil secara kasar. Kesal dengan kelakuan dua siluman di sana.
Cih. Persetan dengan ingatan yang hilang. Persetan degan ucapan Bhumi dan Sagara. Ia punya diri sendiri yang bisa diandalkan dalam segala situasi. Hanya diri sendiri. Untuk apa repot-repot mendengar ocehan mereka?
Bukannya masuk ke lift untuk ke ruangan Tirta, Belva justru berjalan lurus, keluar dari area basement yang luas dan tak terlalu ramai. Ia menuju salah satu kedai kopi terdekat untuk menenangkan diri dari dua siluman menyebalkan itu.
Baru selesai memesan coffe matcha, tiba-tiba ponselnya bergetar berkali-kali. Menandakan ada panggilan masuk. Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman, Belva mengambil ponselnya di kantong sweater jeansnya. Terpampang nama Arman di sana.
Belva mengernyit heran, kemudian mematikan sambungan teleponnya. Tapi, lelaki itu tidak menyerah bahkan setelah Belva tiga kali mengabaikan panggilan itu. Akhirnya, Belva yang menyerah. Dia mengangkat panggilan Arman dengan ogah-ogahan.
" Aku kasih kamu waktu lima menit buat bicara. Nggak pake lama dan berbelit-belit, dimulai dari sekarang," ujar Belva dalam satu tarikan napas. Ia tidak punya banyak waktu untuk mendengar kata maaf dan khilaf lagi mulut busuk Arman.
" Bel, aku di rumah kamu. Aku butuh ngomong sama kamu. Kamu di mana?"
Belva memutar bola mata jengah, " kamu nggak perlu tahu aku dimana. Kalau mau ngomong, kamu masih punya waktu empat menit lagi."
" Bel! aku serius. Aku perlu ketemu kamu."
" Udah? ngomong itu aja?"
" Bel, kamu di mana?"
" Waktu kamu tinggal tiga menit lagi."
Terdengar umpatan dari telepon. Melirik jam di dinding di atas meja kasir yang menununjukkan pukul satu siang, membuat Belva semakin heran. Arman tidak kerja?
" Bel, ini penting! aku mau ketemu kamu."
" Dua menit."
" Anjing! Febi masuk rumah sakit, Belva!"
Febi masuk rumah sakit. Meski Febi telah merebut Arman darinya, tapi mendengar dia masuk rumah sakit bukanlah hal baik.
" Febi coba bunuh diri."
Glek. Belva menelan ludahnya dengan susah payah.
" Bel, kalau kamu masih peduli, dia ada di rumah sakit Harapan Tangsel."
Sambungan dimatikan. Belva masih belum bergerak. Pikirannya begitu kacau. Ada sirat kesedihan dalam hatinya. Bayangan persahabatan dan kebersamaan mereka sejak kecil muncul bagai cuplikan film yang membuat Belva rindu. Kemudian, dia bergegas menuju rumah sakit yang Arman sebutkan. Ia menelpon Sagara untuk mengantarnya. Tak sampai lima menit, mobil Sagara sudah berhenti di depan Belva. Masuk, Belva segera mengetikkan sesuatu di peta digital di ponsel Sagara agar ia bisa langsung ke alamat yang dituju tanpa banyak tanya.
Melongok ke kursi belakang, Belva bersyukur karena ular menyebalkan itu sudah pergi.
" Rumah sakit?"
" Tolong. Ini darurat."
Sagara langsung melakukan mobilnya tanpa bertanya apa-apa lagi. Dari ekor matanya, Belva kelihatan begitu cemas. Hal itu membuat dada Sagara berdebar ketakutan. Dia tidak mengerti, semenjak mengenal Belva ia sering merasakan sesuatu yang bukan perasaannya. Sagara menyadari jika mereka terhubung saat tiba-tiba perutnya merasa keroncongan saat Belva kelaparan dan kenyang saat Belva juga kenyang.
Kali ini, Sagara cemas. Ia bahkan sedih. Bukan karena melihat Belva sedih, tapi karena entah apa. Tapi Sagara harus tetap fokus menyetir. Ia harus membawa kekasihnya selamat sampai tujuan. Karena ia tahu jika ia tak akan mati, tapi jika Sagara lalai dalam menyetir, Belva bisa saja mati karena kecelakaan.
***
Ruangan IGD yang Arman beritahu lewat pesan singkat tidak ramai. Hanya ada Arman yang duduk di ruang tunggu. Wajah lelaki itu menunduk dan perasaannya gusar.
Arman tahu hal ini pasti akan terjadi. Makanya selama ini Arman mati-matian menjaga Febi. Bahkan, semenjak ia putus dengan Belva, Febi tinggal serumah dengannya. Bukan karena mereka benar-benar jatuh cinta, tapi karena Arman tahu jika Febi sedang jatuh-sejatuh-jatuhnya.
Perempuan itu tak punya keluarga yang akur. Orangtuanya bercerai sejak Febi kelas enam SD dan mereka menikah lagi. Punya keluarga baru dan anak-anak sehingga membuat Febi selalu dibedakan oleh ayah tiri maupun ibu tirinya. Maka dari itu, selepas SMA Febi lebih memilih tinggal sendiri, bekerja dan hidup sendiri.
Hidupnya terlalu sulit untuk dijalani seorang diri. Arman tahu, hanya Belva orang yang Febi anggap sebagai saudara kembar beda orang tua. Karena mereka berteman sudah sangat lama dan baik-baik saja. Tapi semenjak saat itu, mereka hancur. Jelas semua itu karena Arman. Tapi, Arman tidak pernah bermaksud menghancurkan persahabatan mereka. Sungguh. Dia hanya berusaha menjalani hubungan yang normal dengan Belva, tapi Febi malah menggodanya.
Semenjak Arman dan Belva putus, Arman jadi lebih intens menjaga Febi yang lebih sering diam dan tidak nyambung jika diajak bicara. Arman tahu, Febi sering menggunakan obat penenang yang dapat membuatnya melayang. Bahkan, Arman sering mendengar Febi bicara pada bunga plastik di ruang tamu jika dia sudah rusak dan ingin mati. Itulah alasan Arman memutuskan mengajak Febi tinggal bersama.
Arman tidak mau Febi melakukan hal-hal diluar nalar. Tapi, tetap saja, Febi berkali-kali melakukannya dan gagal. tadi pagi, untuk pertama kalinya percobaan Febi berhasil. Dia hampir kehilangan nyawa saat meniru adegan kejahatan paling fenomenal di Indonesia. Meminum kopi campur sianida. Untungnya, Arman yang habis dari kamar mandi, sempat mengintip apa yang sedang dilalukan Febi.
Arman kaget saat tiba-tiba, Febi dan gelas porselennya jatuh. Febi kejang-kejang dan mulutnya berbusa. Saat itu, Arman sadar jika Febi keracunan. Ia panik, tapi berusaha mencari cara agar racunnya tidak menyebar cepat ke tubuh Febi. Setelah menelpon ambulans, Arman membuat susu dan ia paksakan susu itu untuk masuk ke kekerongkongan Febi. Hanya susu yang ia tahu dapat menetralisir racun dalam tubuh. Itupun berkat acara televisi yang dulu pernah ia tonton.
Hanya itu yang bisa Arman lakukan. Ia tidak tahu apakah upaya menyelamatkan Febi berhasil atau tidak.
***