
" Arman!"
Belva ngos-ngosan setelah sampai di depan Arman. Tubuhnya keringatan dan lelah sekali. Belva panik, namun tidak sanggup bertanya apa-apa lantaran napasnya belum kembali normal.
" Akhirnya kamu datang juga," Arman hendak memeluk Belva, namun tidak jadi saat melihat Sagara baru saja sampai dan berdiri di belakang Belva.
" Kamu baik-baik aja?" tanya Sagara. Ia agak terlambat karena membeli air mineral dulu untuk Belva. Kini, ia bisa memberikan sebotol air mineral itu kepada kekasihnya yang pasti kehausan.
Belva menerima botol dari Sagara dan menegaknya sampai habis setengah. Ia mengabaikan pertanyaan Sagara, " gimana keadaan Febi?"
" Febi masih hidup, Bel. Tapi, dokter bilang Febi koma."
Kini, Belva tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia hampir terjatuh, namun Sagara dengan sigap menangkap tubuh Belva dan membantunya untuk duduk di kursi tunggu.
" Udah kasih tahu orangtuanya?"
Arman menggeleng. Ia sama sekali tidak tahu soap orangtua Febi.
Belva berusaha menenangkan diri. Ia meraih ponsel di saku jaket jeansnya, hendak menelpon Ibu Febi.
Di sebelah Belva, Arman tidak bisa menahan rasa cemburunya. Apalagi melihat lelaki yang bersama Belva kelihatan sangat sempurna secara fisik dan finansial. Andai dia tidak melakukan kesalahan itu, pasti kini ia sedang menikmati bulan madu berdua.
***
Febi seperti dibawa pusaran hitam ke sebuah gua yang lembap, pengap, hampa dan gelap. Ia tidak tahu bagaimana caranya bisa sampai di sini. Yang ia ingat hanya putus asa.
Febi berjalan asal-asalan karena tidak bisa melihat jalan di depannya secara jelas. Ia kebingungan, meski begitu tak ada yang memberinya jawaban. Febi sempat berpikir jika ini adalah neraka. Karena ia selalu berusaha mencoba bunuh diri. Tapi, ia tidak melihat apa-apa, tidak pula mendengar suara-suara aneh selain suara jangkrik dan... suara desisan?
Febi menghentikan langkah. Berusaha tetap tenang dan tidak menimbulkan suara apapun. Bahkan ia sampai menahan napas. Tunggu. Febi masih bernapas? ia bahkan menyerah untuk menahan napas saat dadanya mulai nyeri.
Febi belum mati. Dan ini bukan di neraka. Tapi, di mana? Saat Febi batuk-batuk karena ia menahan napas, tiba-tiba suara desisan yang tadi ia dengar semakin jelas dan seolah-olah berada di sampingnya. Mendadak, Febi merinding dan ketakutan.
" Jangan takut, Febi. Ini rumahku. Sebagai tamu, bersantai lah."
Suara itu kedengaran seperti bisik-bisik di telinga Febi. Tiba-tiba, ruangan yang sebelumnya gulita, mendadak temaram. Obor-obor di sisi kanan dan kiri gua menyala dengan sendirinya. Kemudian, Febi kaget setengah mati saat melihat sosok lelaki berdiri di depannya, tersenyum mengerikan dan menunjukkan lesung pipi yang manis.
Febi mundur. Ia ngeri dan takut terjadi apa-apa pada dirinya. Tempat ini begitu sunyi, Febi tak mau diperkosa olehnya.
Lelaki itu tertawa terbahak-bahak. Dia masih diam di tempatnya, tapi saking terbahaknya dia sampai memegang perutnya, " kamu lucu juga ya. Tenanglah, aku tidak akan memperkosa kamu."
Febi membelalak tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Dia menjawab ketakutan Febi. Apakah lelaki itu baru saja membaca pikirannya? Penasaran, Febi berusaha bicara dalam hati. Kalau-kalau lelaki berlesung pipi itu bisa menjawabnya, berarti dia adalah orang yang sangat menakutkan.
Febi kembali mundur, " kamu siapa?" ia bergumam dalam hati, " jika benar ini rumah kamu, boleh tahu di mana lokasinya?" Febi masih mundur, " tolong jangan sakiti aku."
Kini lelaki itu berjalan maju, " kamu menantangku?"
Febi bicara dalam hati lagi, " tolong jawab semua pertanyaanku!"
" Jadi... kamu benar bisa baca pikiranku?"
Bhumi mengangguk, " ya. Aku sudah membuktikannya, kan?"
***
" Apa? Tante akan segera kesana. Mungkin dua jam lagi tante sampai."
" Ya, tante. Tante hati-hati, ya."
Sambungan berakhir. Belva mengantongi ponselnya lagi. Ia melirik Arman yang kelihatan kacau sekali. Belva memergoki Arman sesekali melirik Sagara. Belva sadar jika mungkin keberadaan Sagara di sini bukanlah hal yang diinginkan Arman, tapi Belva sangat menginginkannyam Paling tidak, dengan kehadiran Sagara, Belva bisa memberi pelajaran kepada Arman tentang betapa pentingnya menjaga sesuatu.
" Maafin aku, ya."
Belva menoleh ke arah Arman. Lelaki itu kini menunduk. Barangkali menyesal. Tapi, penyesalan itu sudah terlambat. Belva sudah tak punya rasa lagi dengan Arman. Bahkan, hatinya masih sulit menerima kenyataan dan belum bisa memaafkan tindakan bodoh yang Arman lakukan.
Sakitnya masih membekas. Jika bukan karwna Febi, Belva tidak mungkin akan duduk di sini. Bersebelahan dengan Arman.
" Aku nggak bermaksud buat nyakitin kamu, Bel."
Belva tidak peduli dengan ucapan Arman. Ia bahkan sedang tidak mood membahas hubungan mereka.
" Jadi, kenapa Febi bisa keracunan?" Belva hanya ingin tahu. Ia juga sengaja membelok topik yang sedang dibicarakan Arman. Selain tidak enak karena ada Sagara di sini, Belva juga begitu penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi terhadap Febi.
" Aku juga nggak tahu, Bel. Semuanya cepet banget. Aku ngerasa kayak mimpi ngeliat Febi tiba-tiba jatuh, kejang-kejang dan susah napas. Sebelum masuk ke IGD, aku sempat liat wajah Febi merah-merah."
Belva bahkan tidak sanggup mendengarnya.
" Febi memang berkali-kali mencoba bunuh diri. Tapi selalu ketahuan sama aku. Dan inj, aku benar-benar perlu menyerahkan diri ke polisi kalau nyawa Febi nggak bisa tertolong."
Sagara yang duduk di sebelah Belva mengernyit. Arman tulus. Dia juga tidak sedang berbohong. Semua yang diucapkannya benar adanya. Bahkan, Sagara tahu jika Arman benar-benar masih mencintai Belva. Tapi, Sagara tidak peduli.soal itu. Nasi sudah menjadi bubur. Sagara juga mencintai Belva. Begitu dalam.
Sagara ingat, pernah melihat lelaki itu mengejar seorang perempuan yang ia tolong saat menunggu Belva. Perempuan yang berniat ingin bunuh diri. Apa perempuan itu yang bernama Febi? Sagara bertanya-tanya. Jika benar, barangkali ia bisa membantu sedikit.
Sagara menggenggam tangan Belva begitu erat. Saat Belva menoleh, ia hanya mengulas senyum tipis. Sagara perlu dukungan untuk dapat tahu dimana Febi berada. Bermodal ingatan wajah perempuan itu, Sagara memejamkan matanya.
Tak butuh waktu lama, Sagara menemukan Febi di tempat berbatu. Gelap. Hampa. Dingin. Apakah itu gua? atau bawah? tapi jelas Febi tidak di alam manusia. Dia sedang duduk sembari menahan rasa takut. Berhadapan dengan seorang lelaki.
Sialan!
" Dia bersama...!" Pekik Sagara saat membuka mata. Ia berhasil menahan diri untuk tak menyebutkan nama temannya yang menyesatkan.
" Dia siapa?" Belva penasaran. Ia berusaha membuat Sagara melanjutkan kalimatnya. Tapi, Sagara diam saja.
***